Kisah Nyata “Merah Hati” Part III

Selama dia menempuh pendidikan di sekolah tersebut dengan berbagai keterbatasan yang dimilikinya, tak mematahkan semangat dan perjuangannya untuk tetap menimbah ilmu walau banyak rintangan dan tantangan. Dalam perjalanannya, banyak hal yang sangat terkesan, mulai dari proses pembelajaran sampai pada saat istirahat, misalnya saja ketika istirahat diisi dengan berbagai permainan tradisional dan berbagai kegiatan lainnya yang tak kalah serunya dengan permainan zaman now.

Beberapa kegiatan yang sering  dilakukan bersama teman-temannya seperti “mapode-ponde”, “mangasing”, “mabbaguli” dan sesekali pergi mencari jambu, settung dan bunne disekitaran sekolah demi mengganjal perut guna  menunda rasa lapar, sebab cemilan tersebut merupakan alternatif jika tak punya uang jajan yang cukup. Jajanan yang sering dijumpai pada saat itu, diantaranya “Astor” yang dijual oleh teman sediri (Gahu), Bojo (Ancu), burasa (P.Hasni) dan ucapan terima haturkan kepada P. Hasni sebab selain memberikan jajan dengan harga terjangkau waktu itu, juga memberikan air minum secara gratis.

Dalam proses pembelajaran yang dijalaninya tidaklah selancar teman sebayanya, ia bahkan beberapa kali nyaris putus sekolah akibat tidak sanggup membayar BP3 sebab waktu itu pendidikan belum kenal yang namanya pendidikan gratis apalagi yang namanya beasiswa, sehingga ia harus membanting tulang di usianya yang masih belia. Pekerjaan dilakoninya dengan bertaruh nyawa memanjat pohon aren setinggi 10an meter untuk menyadap nira (massari) sebagai bahan baku gula Proses pembuatan gula aren mebutuhkan kayu bakar yang cukup banyak serta proses penyadapannyapun membutuhkan keterampilan khusus sebab tidak semua air nira bisa menjadi gula kalau salah takar gulanya jadi gagal (mattare) bahkan air nira bukan hanya diproduksi menjadi gula tetapi juga bisa menjai bahan baku cuka aren bahkan air nirapun bisa menjadi minuman beralkohol yang memabukkan. Sepulang dari menyadap air aren sembari menggembala sapi juga harus  memasak air niranya  hingga menjadi gula siap ditukar dengan rupiah. Ari hasil jualan gula aren itulah menjadi salah satu sumber penghasilan untuk membayar BP3, mengganti merah hati dan peralatan sekolah lainnya.

Kala waktu itu yang patut disyukuri dibalik keterbatas ekonomi dia memiliki sosok guru seperti ibu Barma  dan ibu Nurmi(sapaan) yang begitu sabar dan tabah mendidiknya sehingga pada akhirnya dia tetap dapat melanjutkan sekolah seperti teman-teman yang lain, semoga ilmu yang ibu berikan menjadi amal jariah……. NEX Kisah Nyata “Merah Hati” Part  IV di edisi berikutnya…

Baca Juga :  Kisah Nyata “Merah Hati” Part I
Baca Juga :  Kisah Nyata “Merah Hati” Part II

Tags: