Menikah Muda Dalam Perspektif Islam


Menikah sebenarnya berasal dari kata asal nikah yang memiliki arti ikatan (akad) perkawinan yang dilakukan sesuai dengan ketentuan hukum dan ajaran agama. Pengertian tersebut berdasarkan Kamus Besar bahasa Indonesia. Kata nikah diawali imbuhan-me yang memiliki artian melakukan. Berarti menikah ialah melakukan suatu akad perkawinan yang dilakukan sesuai dengan ketentuan hukum dan ajaran agama. Apakah menikah itu harus bagi setiap insan manusia yang ada di dunia khusunya yang beragama islam? Jika berbicara mengenai keharusan atau tidaknya menikah bagi setiap insan manusia, maka akan merujuk pada hukum-hukum nikah. Hukum nikah menurut ajaran agama islam dibagi menjadi banyak, antara lain wajib, sunnah, makruh, dan haram. Hukum-hukum tersebut memiliki syarat atau ketentuan tertentu mengenai perspektif menikah. Akan tetapi, hukum menikah yang sering kali kita jumpai yakni sunnah, mengapa hukumnya sunnah? Karena bagi seorang muslim, hukum menikah menjadi sunnah jika dia memenuhi dua syarat. Yang pertama ialah jiak dia mempunyai keinginan untuk menikah dan yang kedua ialah dia mempunyai bekal yang cukup untuk menikah.


Lalu, apakah ada ketentuan usia bagi orang yang ingin menikah khususnya yang beragama islam? Dan bagaimana pandangan islam jika banyak usia muda atau bahkan masih bisa disebut pelajar yang ingin melangsungkan sebuah pernikahan? Serta bagaimana solusi jika hal tersebut telah terjadi?


Ketentuan usia menikah menurut Undang-undang nomor 1 tahun 1974 dalam pasal 7 ayat 1 tentang perkawinan ialah usia 16 tahun batas minimal untuk perempuan dan 19 tahun batas minimal untuk laki-laki. Akan tetapi, agama islam tidak menentukan batas usia. Didalam agama islam, usia dewasa ditentukan dengan tanda-tanda yang bersifat jasmani yaitu tanda-tanda baligh, untuk laki-laki 15 tahun dan perempuan 9 tahun. Lalu bagaimana pandangan islam mengenai menikah muda? Dari ketentuan usia diatas, memang bisa disebut usia paling muda untuk bisa melangsungkan sebuah pernikahan. Tetapi dilihat dulu dengan kondisi yang terjadi saat ini.

Di zaman yang sepenuhnya sudah modern ini, mulai dari informasi, teknologi, hingga unsur budaya yang sedang pesat-pesatnya mengalami perkembangan, menikah muda menjadi guncar untuk diperbincangkan oleh para tokoh islam. Ada yang beranggapan bahwa menikah muda dapat menghindarkan diri dari perbuatan yang dibenci oleh Allah. Tentu saja iya, karena di zaman yang seperti ini istilah pacaran bagi kaum muda sangatlah tidak asing lagi. Mereka mengerti bahwa istilah pacaran dalam islam itu sebenarnya tidak ada, dan hukumnya bisa disebut mendekati zina karena menuruti hawa nafsu untuk mengenal bahkan menjalin hubungan dengan lawan jenis yang belum ada ikatan halal. Dalam Al-Qur’an surah Al-Isra’ ayat 32 sudah dijelaskan yang artinya “Dan janganlah kalian mendekati zina, Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” Maka menikah muda diperbolehkan karena takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


Selanjutnya, islam menganjurkan menyegerakan menikah bagi mereka yang telah mampu. Didalam hadis Al-Bukhari mejelaskan “Wahai kaum muda, barangsiapa di antara kalian telah mampu maka hendaknya menikah, karena ia lebih menundukkan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang belum mampu, maka hendaknya ia berpuasa, sebab ia dapat mengekangnya”. Selain itu, menikah muda itu mampu meningkatkan hubungan yang romantis, saat terbaik untuk saling menyesuaikan diri, dan juga dapat mengejar impian bersama-sama. Tetapi menurut pendapat saya, menikah muda dapat mengganggu bahkan menghilangkan masa muda yang gemilang. Kenapa gemilang? Karena di masa muda ini lah, sebenarnya pribadi setiap orang dapat diketahui, kemampuan fisik maupun psikis masih bisa dapat diasah, masa depan anak muda juga masih bisa terkonsep dengan baik mereka nanti ingin menjadi seperti apa dalam menghadapi kehidupan yang sebenarnya atau kehidupan berumah tangga. Jika banyak anak muda yang saat ini sedang guncar ingin menikah muda, menurut saya hendaklah difikirkan terlebih dahulu secara matang. Sudahkah mereka meluruskan niat dengan baik, pemahaman yang mumpuni tentang ilmu keluarga, kesiapan karir, serta kedewasaan dan kematangan diri.


Solusi jika telah terjadi banyaknya angka menikah muda diantaranya masyarakat harus lebih paham dampak negatif dari pernikahan dini. Misalnya dampak negatif untuk perempuan yang dapat memupus impian mereka. Orang tua yang memiliki anak perempuan juga harus sadar bahwa pendidikan itu sangat penting demi masa depan anak yang gemilang.

Oleh : Siti Khoirotil Ummah Mahasiswa PGMI UINSa

Tags: