Kecanduan Media Sosial Generasi Milenial

Generasi sekarang atau biasa yang kita sebut dengan generasi milenial merupakan, generasi yang kecanduan akan kecanggihan media sosial. Bahkan, tak jarang orang yang terjangkit akan kecanduan dunia media sosial tersebut. Baik dari yang muda, tua, anak-anak, maupun dewasa. Seakan-akan dunia sosial merupakan bodyguard yang harus ada setiap saat. Media sosial menuntun manusia pada zaman yang serba cepat, serba canggih, dan serba praktis. Tanpa disadari, kebanyakan orang merasa gelisah apabila merasa jauh dengan sebuah kehidupan yang semu itu. Di balik kecanduan tersebut, banyak sekali problem besar yang perlu kita waspadai.

Pertama, turunnya nilai kepedulian masyarakat terhadap lingkungan sekitar. Seperti ungkapan yang ada “media sosial mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat” ya, memang benar ungkapan itu tak terlalu asing lagi pada sebagian masyarakat. Tetapi, memang benar itu kenyataannya. Mereka lebih peduli dengan teman sosmed, dibandingkan dengan orang yang benar-benar ada dihadapannya. Dilihat dari komposisi yang terkecil, didalam suatu kelas lebih banyak mahasiswa yang lebih memilih berselancar pada internet, dibandingan mengobrol dengan teman sebelahnya. Dari kecanduan tersebut, sebagian besar orang menghabiskan waktunya untuk menghadap laptop, handphone, dan semua yang berhubungan dengan media sosial. Sehingga melupakan seseorang yang ada disekelilingnya, bahkan kewajiban yang harus ia kerjakan.

Kedua, media sosial sering digunakan sebagai ajang mengekspresikan diri, memamerkan diri. Bahkan, sebagai forum bullying. Dari sosial media banyak darui mereka mengumbar sisi kehidupan yang sedang mereka jalani. Pengekspresian tersebut bisa menjadi hal yang berupa tekanan. Seperti dua sudut pandang yang berbeda, media sosial mempunyai dua sisi yang berbeda, baik maupun buruk. Tak jarang kita lihat, di media sosial banyak dari mereka memotret dirinya bak putri raja yang bergelimang harta. Lalu, memosting gambar tersebut. Walaupun orang lain melihat unggahan hanya sepintas, unggahan tersebut terkesan pamer dan menyebabkan iri. Dampak selanjutnya yang akan terjadi membandingkan diri mereka dengan orang lain.

Ketiga, banyak orang yang gampang terpengaruh dengan berita hoaks. Berita hoaks yang kita temui saat ini bukan hanya dari mulut ke mulut. Tetapi, juga dari media sosial. Media sosial merupakan sasaran yang sangat empuk untuk menyebarkan berita hoaks. Apalagi pada zaman seperti saat ini, banyak sekali orang yang tak tau menau tentang berita hoaks. Kebanyakan dari masyarakat tidak mampu untuk membedakan yang mana berita hoaks dan yang mana berita fakta. Dengan itu, mereka yang tidak bertanggung jawab akan memanfaatkan media tersebut sebagai bahan pelampiasannya.

Dari banyak masalah yang kompleks tersebut kita sebagai warga negara yang baik, perlu membentengi diri dari pengaruh-pengaruh negatif yang berada disekeliling kita. seperti, mencegah penyebaran berita hoaks dan lain-lain. Untuk membentengi diri kita dari pengaruh yang negatif tentunya kita harus tau bagaimana etika dalam menyelami media sosial tersebut. Selain itu, beri suatu batasan untuk diri sendiri dalam menerima informasi yang tidak jelas sumbernya dari mana. Jangan sampai kaum milenial seperti kita tidak bisa memanage waktu untuk menyelami media sosial. Gunakan waktumu dengan bijak. Waktu ibarat dua buah mata pisau, apabila kau gunakan dengan tidak bijak maka mata pisau itu bisa untuk membunuh kehidupanmu.

Sebagai generasi millenial kita harus mengontrol fenomena sosial yang terjadi pada sekitar kita. Dengan ini, kita bisa mengontrol hal yang tidak sesuai dengan informasi yang tak terakuratisasi yang bisa menyebabkan kekacauan yang terjadi disekitar kita. Oleh: Hanyfa Maulidyah

Tags: