Budaya Literasi & Pojok Perpustakaan

Seperti yang kita ketahui, minat baca tiap pelajar semakin menurun baik pelajar tingkat Sekolah Dasar, Menengah, maupun Atas. Bahkan tidak hanya dalam membaca, menulispun sama halnya. Penggalakan budaya literasi harus mulai dikenalkan sejak Tingkat Dasar, budaya tulis menulis itu diperlukan agar pelajar mempunyai kebiasaan yang baik dan kebiasaan itu akan dibawanya ke jenjang lebih tinggi.

Hal yang membuat minat baca dan tulis menurun tidak lain ialah pengaruh gadget yang semakin membuat pelajar bermalas-malasan, hanya ingin serba instant. Dengan adanya gadget mereka lebih suka bermain game, melihat vlog dan lain sebagainya yang berkaitan dengan gadget. Akibatnya mereka akan asing dengan buku dan lebih hafal selebriti di youtube daripada pahlawan sejarah.

Saat ini gadget sudah tidak hanya memberikan informasi mengenai berita yang terjadi di luar, informasi tentang kualitas pendidikan yang masih belum merata, melainkan sebagai ajang memamerkan kekayaan dan juga membuat komentar-komentar yang tidak semestinya terlihat oleh publik.

Padahal teknologi saat ini memudahkan dan membuka ruang untuk media baca atau tulis-menulis misalnya dengan adanya e-book saat ini cukup membantu dalam minat baca anak, namun tidak menutup kemungkinan e-book mudah membuat murid cepat membuat bosan dan mata akan lebih cepat lelah karena sinar cahaya yang terpancar dari gadget.

Perlu untuk disadari untuk menguasai dunia tulis menulis, saatnya budaya baca bahan bacaan serta tulis-menulis dikenalkan dan ditanamkan sejak dini. Fasilitas untuk meminimalisir hal-hal tersebut yang dapat dilakukan sejak dini oleh lembaga-lembaga sekolah ialah menyemarakkan budaya literasi kepada murid-muridnya dengan membuat perpustakaan yang sangat menarik untuk menumbuhkan minat baca pada tiap pelajar. Tiap sekolah harus mempunyai perpustakaan kecil yang terdapat di pojok tiap kelas. Murid dapat membaca buku yang disukai dan saat istirahat mereka membaca selagi menunggu waktu istirahat selesai.

Lembaga-lembaga sekolah pun sebaiknya mewajibkan tiap muridnya untuk membaca dan menulis resume materi minimal satu lembar per hari dan mengumpulkan literarurnya kepada guru yang bertanggung jawab, dalam hal ini partisipasi setiap guru sangat diperlukan untuk suksesnya pelaksanaan budaya literasi. Bahan pustaka yang diperlukan untuk literatur perpustakaan tidak harus buku yang masih baru, namun bisa dengan buku perpustakan daerah sehingga pelajar juga mengerti dan mengetahui isi serta letak perpusatakaan yang ada di kota atau daerahnya sendiri.

Bahan pustaka bukan hanya dalam buku yang penuh dengan tulisan yang cepat membuat bosan melainkan buku komik, majalah, kliping, dan koran yang didalamnya mengandung materi materi pendidikan yang berwarna dan menarik. Untuk murid yang kurang dapat belajar dengan membaca dapat membuat rak untuk VCD yang berisikan video pembelajaran dapat berupa slide ataupun animasi. untuk membantu pemerataan kualitas pendidikan lembaga sekolah dapat bekerja sama untuk mengirimkan buku yang sudah bosan dibaca oleh murid-murid ke daerah pelosok.

Dengan membaca seseorang dapat mempunyai wawasan luas dan cerah sehingga mudah dalam bergerak ke hal yang positif yang memberikannya keuntungan lebih. Dan dengan menulis seseorang dapat menuangkan apa yang ada dalam fikirannya yang dapat bermanfaat untuk orang lain, maka dari itu budaya literasi tidak hanya dilakukan dalam satu generasi melainkan berkelanjutan dari suatu generasi ke generasi berikutnya. Dengan orang-orang yang mempunyai fikiran terbuka, budaya literasi dapat mendorong munculnya inovasi baru. Oleh karena itu budaya literasi dan pojok perpustakaan dapat membangun kualitas di tiap generasi dan generasi sesudahnya akan lebih baik dari generasi sebelumnya jika tetap menggalakan budaya literasi. (AL)

Tags: