Malaikat dari Tuhan

Seperti biasanya mataku melihat layar smartphone dan jari jemariku asyik berselancar di layar smarphone, entah apa yang aku cari dan tak lupa earphone yang selalu terpasang di kedua telingaku. Sesekali ku lihat wanita paruh baya yang berusia sekitar 40 an sedang menuliskan angka angka yang menurutku tidak penting di sebuah papan putih.

Mata ku melihat di sekeliling ruangan yang saat ini aku tempati, terlihat banyak anak seusiaku yang terdiam dan memperhatikan papan tulis berisi angka angka tadi. kembali ku menatap layar handphone ku, aku sudah merasa bosan di dalam ruangan ini dan aku ingin keluar. Aku mengangkat tangan ku dan ku lihat wanita paruh baya tadi yang sering di panggil bu guru entah aku lupa namanya seperti mengucapkan sesuatu kepada ku dengan wajah yang sumringah

Dan seketika semua orang di ruangan ini menatapkan matanya ke arahku. Aku heran dengan mereka, ku lepas earphone ku agar ku bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Sebenarnya aku sangat malas berhubungan dengan mereka. “Giselle?” kata seorang laki laki yang duduk di pojok depan. Aku semakin heran. Tapi aku tak peduli aku segera membuang muka dari tatapan mereka dan langsung ku langkahkan kaki ku meninggal kan kursi yang aku duduki sedari tadi. Langkah ku terhenti ketika wanita itu bertanya kepadaku.

“Giselle mau kemana? Kau ingin bertanya kan? Disitu saja. Ibu tau kau anak yang baik dan pintar. Kau sudah melupakan masalahmu dan ingin fokus sekolah lagi ya kan?”

“Sudah saya bilang berapa kali bu, saya bukan Giselle yang dulu, yang sering bertanya, paling giat ngerjain tugas, yang duduk paling depan saat ibu Marina menjelaskan“. Entah kenapa aku jadi ingat nama guru itu.

”Oh ya satu lagi, asal ibu tau saya ada di kelas ini bukan karna saya pingin sekolah tapi karna saya bosan di rumah yang selalu mendengar celotehan keras mama dan papa!” air mata ku langsung menetes deras saat itu juga, dan ku lihat juga mata bu Mariana yang berkaca kaca ingin menitikkan air mata tetapi di tahan oleh nya. Dengan gerak cepat ku berjalan cepat menuju pintu kelas.

Aku tau yang tadi aku lakukan salah, aku sadar aku tak seperti dulu yang dapat dikatakan anak yang pintar apalagi dalam bidang Matematika, Fisika, Kimia , Biologi. Tapi itu dulu, sekarang aku menjadi gadis yang liar suka merokok, tapi hanya sebatas rokok tak sampai miras dan narkoba karena aku tau, aku masih punya akal pikiran aku merokok pun saat aku merasa stress. Saat ini aku memang beda dari kebanyakan gadis lain yang rajin. Tapi aku tak butuh lagi sifat rajin, karna itu semua percuma orang tua ku tak ada yang peduli satu pun. Walau aku punya prestasi sampai tingkat nasional pun. Mereka hanya peduli dengan urusan masing masing. Mereka selalu membesar-besarkan masalah kecil, aku muak dengan ini semua.
Aku sekarang tak punya teman, mereka semua takut denganku. Mengingat kejadian waktu itu, ada 3 cowok yang menggoda ku langsung ku pukul mereka sampai masuk rumah sakit. Dan hampir saja aku masuk jeruji besi tapi karena pembelaan bu Mariani aku tak jadi terkurung dalam kandang manusia itu.

Aku sadar semua yang kulakukan hanya mendatang kan dosa, aku merasa jadi orang yang tak berguna dan saat ini aku hanya ingin “MATIIIII!!!!!!” tanpa aku sadari suaraku terdengar sangat keras dan air mataku kembali menetes. Terdengar suara langkah sepatu yang masuk dalam kamar mandi ini. Ya, dan ternyata yang aku tebak benar.

“Giselle, kau ingin mati ? aku sangat senang jika kau mati, apa kau ingin ku bantu?” ucap cewek sok famous di sekolah sambil ketawa mengejek. “BUKAN URUSAN MU!!!!!!!”. Bentak ku pada wajah nya.
“Oh ya, tapi aku sangat ingin membunuhmu Giselle…” sambil menjulurkan tangan nya ke wajahku.
Ku ambil handphone ku, aku tak peduli dengan celotehan suara cemprengnya. Dan kulihat kedua temannya di belakang punggungnya. ”temannya saja seperti itu apalagi kau” batinku sambil menyunggingkan bibir kanan atas dan aku berjalan keluar dari kamar mandi.

“Hey, seenaknya saja kau pergi begitu saja!!”. Bibir nya kembali bersuara dan tangannya ikut berkutik menarik kera bajuku dan dilemparnya aku ke tembok “ dugg…!!!!!”.
“Sakit ? ckckck kasihan…” ucapnya sambil tertawa menghina. Aku mendekatinya semakin dekat dan semakin dekat dan kini wajahku hanya berjarak 2 cm darinya. “ KAU SANGAT BERANI DENGANKU , APAKAH MAU MATI DETIK INI JUGA HAAAAH!!!!!!!!.” bentak ku kedua kalinya diwajahnya. “Kalian berdua …tek” suara petikan jarinya menyertai. Kedua temannya hanya menunduk ketakutan, ”CEPAT!!!!”. Kedua cewek itu kemudian bergegas kebelakang punggung ku dengan ketakuan “Apa yang ingin kau lakukan? ”. Tanya ku sambil melotot kepada mereka. “A-a-aku dan sita ingin me-me megang tanganmu, ma-aaf ya”, “bodoh kalian berdua langsung tariik!!”

“K-kau t-tidak AKAN KEMANA MANA GISELLE!!!”
“Lepaskan atau kalian tidak akan selamat!”
“Kau tidak akan bisa”
“Oh ya?” kuangkat tanganku yang dipegangi merek berdua sambil menggenggam.
“Mau ini?”
“T-tidaaaak”. “Hei kenapa pingsan, aduuh”
“Haa” sambil menunujukkan kepalan tangan ku ke wajah cewek yang katanya sita namanya
“I-iya aku le-lepaskan, Raya aku harus pergi aku baru ingat pr-ku belum kukerjakan, daaah”

“Oh ternyata namamu Raya, ah.. peduli apa aku dengan namamu. Sekarang apa mau mu…kau masih berani? Temanmu satu pingsan , satunya lagi kabur ,masih bisa menantang ku HAAH!!!”. Kuletakkan tanganku di pundaknya. “Be-be rani laah” sambil menyingkirkan tanganku dengan raut muka agak ketakutan.
“Sekarang to the point , apa yang kau mau!” sambil kulipatkan kedua tanganku.

——————————————————*——————————————

“JEDUGG!!!!”. “ Eh jalan pake mata”. Seperti biasa aku berbicara keras di sekolah ini kepada siapapun yang mengganggu ku. “Eh i-iya maaf maaf”. Dan laki- laki itu langsung pergi .
Ku lihat Raya keluar dari ruangan kepala sekolah sambil menggunakan masker, apa yang dia lakukan? . Dia berjalan melewatiku dan melihatku dengan tatapan yang sangat senang .
“Anehh….”. Tiba tiba dia kembali dengan jalan mundur “ oh ya Giselle aku punya kejutan untuk mu, nanti kau akan tau “. Dan dia pergi lagi dan aku tetap tidak peduli itu.
“Tolong pak jangan keluarkan dia, sebenarnya di anak yang baik tetapi saat ini dia mentalnya sedang down, dia seperti itu karna dia butuh pelapiasan atas kemarahannya”.

“Bu Mariana, dia melakukan hal yang sama kesekian kalinya, bukan apa-apa tetapi ini akan membuat murid di sini akan pindah karena takut dengannya. Dan satu –satu nya cara menghindari itu adalah mengeluarkan dia dari sekolah ini.“
“Tapi pak…”. “sudah bu ini keputusan saya, saya ingin berbicara langsung kepadanya tolong panggilkan dia ke sini”. “Baik pak. Saya pergi dulu, selamat siang..”. “Siang”
Sudah pasti itu aku.

“Eh Giselle, kebetulan kan…”. ”Aku sudah mendengarnya bu..” aku memotong pembicaraannya dan langsung ku pergi meninggalkannya menuju ruang kepala sekolah. “Permisi, Selamat siang” kataku berlagak sok sopan. ”Siang, Giselle silahkan duduk, ada yang mau bapak katakan”.
Aku tetap berdiri..” Aku sudah tau apa yang ingin bapak katakan, aku tidak akan keberatan kalau aku keluar dari sekolah ini dengan senang hati. Toh aku disini tak berguna hanya menjadi pengganggu di sekolah ini.” . “Giselle tolong lebih sopan sedikit, silahkan duduk.”

“Tidak usah pak, tak ada yang perlu dikatakan lagi, saya akan pergi sekarang juga, permisi.” Ku berbalik badan meninggakan bapak tua itu.
“Giselle, sebentar” ku hentikan langkahku tanpa berbalik badan lagi.” Kau bisa tetap bersekolah disini asalkan kau berubah seperti dulu” dan sekarang bapak tua itu berdiri didepanku. “Maaf pak, saya tidak bisa, permisi” ku gerakkan kaki ini lebih cepat keluar dari ruangan ini.
“Giselle , bagaimana?” tak kuhiraukan perkataan bu Mariana, aku tetap berjalan cepat pergi menuju gerbang sekolah dan pergi dari sekolah ini.

Ketika sampai di lorong sekolah aku dihalangi oleh seorang laki -laki tinggi, putih , dan badan yang ideal, entah siapa dia.” Minggir.!”
“Tidak”. “Kau mau ku pukul??.. ” . tangan ku mengepal dan ku hadapkan ke wajahnya. Dan ternyata dia malah menarik tangan ku “hei lepaskan”. “Sudah diam dan kau harus ikut denganku”.
Entah kenapa aku menuruti perkataannya seperti gadis polos yang tak tau apa-apa. Dia membawaku ke sebuah taman dan dia memulai pembicaraannya. “Giselle aku Ivan aku disini di suruh oleh bu Mariani untuk berbicara denganmu.” Ivan? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu.

“Sekarang to the point, apa yang kau mau!” sambil kulipatkan kedua tanganku.
“Aku ingin memperingatkan kepadamu, jangan pernah kau berbuat apapun sehingga membuat Ivan merasa iba kepadamu”. “Ivan?” siapa dia ? bolehlah, aku akan berpura pura . “Oh ivan,apa katamu tadi, Iba? Dia merasa iba padaku,? Baguslah”. “Baguslah apa katamu!!!! Apa maksudmu!!!”. “Jangan sekali kali berbicara keras di depan ku, mau mati disini??” sambil jari telunjukku menunjuk nunjuknya.

“Okay terus apa maksutmu baguslah jika Ivan merasa iba padamu?”. “Ehmm supaya aku bisa memanfaatkannya untuk melakukuan apa yang kusuruh”. “Hei dia itu pacarku awas kau jika menyuruh nyuruhnya!”. “Sudah sudah pergi sana aku sudah bosan melihatmu.”
“Awas kau aku akan buat perhitungan.” katanya sambil mendengkus. “Heii aku mendengarnya buat saja perhitungan jika kau berani”.

———————————————-***——————————————————-
“Aku berbicara kepadamu, hei ngelamun lagi”. Katanya sambil melambai lambai kan tangan nya ke wajahku. Aku tersadar dari lamunanku tadi dan aku segera meninggalkannya.”Hei jangan pergi, aku ingin berbicara denganmu penting!!”

“Aku tak punya waktu mendengarkan celotehanmu yang tidak penting itu” kupasang earphone ku dan pergi dari taman sekolah itu. Tapi tangan ku di tahan oleh nya, secara spontan aku meluncurkan kepalan tangan ku kewajahnya dan ternyata dia bisa menangkis serangan ku. Akhirnya terjadilah pertengkaran antara aku dan Ivan.

Setelah beberapa menit aku berkelahi dengannya aku merasa capek karena dia kuat sekali “kau tak bisa mengalahkanku jadi diamlah disini dan dengarkan aku”. “Aku sudah tau kau dikeluarkan dari sekolah karena kau sering memukuli murid – murid disini dan berita terbaru kau telah memukuli Raya dan satu temannya sampai pingsan dan Raya babak belur waktu istirahat tadi di kamar mandi”. “Sebentar, kenapa kau menuduhku”. “Aku tidak menuduhmu tetapi Raya sendiri yang bilang kepada kepala sekolah” . “Apa?!!!!!! Dasar bn mau mati dia!!” aku beranjak dari kursi taman yang aku duduk”. “Hei kembali duduk percuma kau kesana kau sudah dikeluarkan dari sekolah jika kamu membuat masalah lagi dengan Raya kau akan masuk penjara .” “AKU.TIDAK.PEDULI. MENGERTI!!!!” “karena aku tidak melakukannya, jika aku memang aku pelakunya aku tidak akan marah”. “Sudahlah sel semua orang tau kau sering melakukan itu bahkan sampai 10 kali.” Aku pergi begitu saja . Aku sangat marah, Raya awas kau. Tiba – tiba ivan berdiri didepanku “kau akan tetap disini kau takkan kemana mana” .“Siapa ku kau melarangku hah?”

“Baiklah maafkan aku, sekarang duduk dulu, yang mau aku bicarakan bukan masalah Raya”
Aku duduk dan mendengarkannya, dia mencoba untuk memberi ku motivasi tapi percuma saja aku takkan berubah. Setelah dia berbicara panjang lebar aku tetap diam tak bicara apapun.
“Giselle, bicaralah atau cerita lah, mungkin cerita waktu kamu kecil?” . “Dari kecil aku tak pernah diasuh mama, dia selalu kerja, kerja, kerja, apalagi papa, aku sejak kecil tinggal sama nenek, sejak nenek meninggal aku tidak lagi punya temen, gak dibolehin mama papa keluar, hanya boleh belajar di rumah, katanya buat masa depan biar dapat kerja bagus, tapi percuma kasih sayangnya kurang, aku hanya diberi materi bukan kasih sayang,,,,,,aku benci mereka” dan aku telah dibuat Ivan teringat masa masa itu lagi…… “Giselle jangan sedih maafkan aku”
“`GISELLE!!!” Teriaknya dari kejauhan.

Aku tidak peduli lagi dengan keluargaku, mereka saja tidak peduli kenapa aku harus peduli?. Saat ini yang peduli denganku hanyalah Ivan dan Bu Marini, mereka berdualah yang setip hari menemani dan memberiku motivasi. Sekarang aku hampir berubah, aku sudah tidak lagi merok*k
Aku merahasiakan keberadaanku dari mama dan papa, sekarang aku tinggal di rumah bu Marini. Dia sendirian anak dan suamimnya telah meninggal 2 tahun yang lalu. Aku menganggap bu Marini seperti ibu ku sendiri. Sekarang aku bisa kembali sekolah walaupun aku disana selalu di bully.
7 Maret 2016, Bu Marini meninggalkanku selamanya. Dan hal aneh terjadi pada Ivan 4 hari terakhir setelah kepergian bu Marini dia tak pernah berbicara padaku, dia selalu mengindar ketika aku bertemu dengannya.

“Ivan…” dia bersama seorang cewek dan ternyata itu adalah..
“hai Giselle, wajahnya kok sedih kenapa? Hahaha….. udah gak ada yang belain ya,, aduh kasihan, bu Marini udah meninggal, Ivan? Ivan gak mau temenan lagi sama kamu aduh malangnya nasib Giselle”
“Ivan apa itu bener?“ “tuh kan Ivan diem aja udah pergi sana….”
“Eh diam ya” aku semakin marah dan ternyata Ivan…
“Giselle gak usah tunjuk tunjuk Raya, dia emang bener aku gak mau temenan lagi sama kamu, sal kamu tau yaa dari awal aku emang gak mau temenan sama cewek kayak kamu, berandalan! Cuma karna disuruh bu Mariani jadi aku terpakasa temenan sama kamu”
“Ivan !!!! busuk kamu!!!”

Ternyata semua gak seperti yang aku pikirkan, semua orang tak ada yang peduli denganku . Apa salahku ya tuhan……
Aku berdiri di loteng sekolah menenangkan diri merasakan angin sepoi sepoi. Tiba tiba
“Raya!!!! hentikan” seperti suara Ivan, tapi kenapa Raya yang dipanggil bukan aku,, batinku.
Kubalikkan badan ku betapa kagetnya ketika pisau yang dipegang Raya hanya berjarak 5 cm dari leherku. Aku mencoba mengambil pisau itu dari genggaman Raya, tapi hasilnya nihil. Karena kedua temannya lebih dulu menarik tanganku ke belakang dan Raya tetap menyerangku. “HENTIKAN!!!!”.Ivan menyentakkan pisau itu dari tangan Raya. “Hei penipu kau ,kemarin kau telah berjanji tidak akan menyakiti Giselle” aku bingung apa yang telah terjadi. “Haha bodoh sekali kau Ivan, jika kau menghindari Giselle aku akan lebih mudah melenyapkannya”. “Munafik kamu”. Raya terlihat kembali mangambil pisau itu dan mengarahkan ke badanku tetapi Ivan lari dan menghindari Raya menyakitiku. Dan hasilnya Ivan lah yang tertusuk.

“Tidaaak ivaaan!!!!!” aku menghentakkan kedua tangan ku dan akhirnya terlepas aku segera menolong Ivan. Tetapi semuanya terlambat Ivan telah tertusuk perutnya. Raya pun ikut kaget mungkin karena memang dia tidak berniat menusuk ivan. “Tidak !! bukan ak ,, bukan aku pelakunya Ivaaan,, aku harus pergi, bukan aku pelakunya” Raya lari meninggalkan tempat itu. “Rayaaa… tunggu” kedua temanya ikut berlari.
“Ivan…” air mata ku menetes kian deras.” Giselle maafkan aku.. Karenaaku membuat mu marah kemarin aku berkata seperti itu karena aku membuat perjanjian dengan Raya, dia tidak akan menyakitimu jika aku menghindari kamu,, tapi di-dia bohong”.
“Kenapa dia ingin menyakitiku”
“Karena dia iri kepadamu yang dulu selalu menjadi kebanggaan guru , tapi dia tak berani mengatakannya , dan saat kau jadi berubah dia beraksi” “dan ya aku ingin kau se-seperti du-dulu Giselle”
“Aku akan berjanji aku akan seperti dulu,,, ini berkatmu Ivan”
“Tapi aku mau kau minta maaf kepada orang tuamu kau“ “ aku harus berfikir dulu masalah itu aku terlanjur sangat membenci mereka”
“Giselle ini permintaan terakhirku kau mau mengabulkan permintaanku kan?”
“Demi kau sahabatku” …….. “Aku akan lakukan itu.”
“Te-terima ka-kas- kasih” dia tersenyum dan saat itu juga nyawanya diambil oleh tuhan.
“Ivaaaaan”.

—————————————————–***————————————————–
Setelah peristiwa itu aku pulang kerumah dan aku minta maaf dan mereka juga minta maaf kepadaku, karna Ivan mereka sadar, sebelum dia meninggal dia telah pergi kerumahku dan menceritakan semua kepada keluargaku. Terimah kasih Ivan. Sekarang aku punya lagi penyemanat hidup untuk lebih berprestasi terima kasih untuk segalanya. (APRILIA NUR AZIZAH)

Tags: