Apa Sih Penyebab Cegukan?

Kalian pernah merasakan cegukan kan? Apakah pernah berpikir penyebab cegukan itu berasal mana? Apa yang kalian rasakan saat cegukan? Tentunya kalian tak nyaman kan dengan cegukan. Bunyi cegukan pada setiap orang mengalami perbedaan. Ada yang berbunyi “hik . . . hik. . .” dan ada juga yang berbunyi “haik . . . haik . . .”. Lalu apakah kalian pernah berpikir bahwa cegukan pada bayi dapat memperlancar pertumbuhan bayi? Apakah hal demikian termasuk mitos atau fakta? Lantas apa yang menyebabkan hal itu semua? Yuk simak penjelasan di bawah ini.

Dalam dunia medis atau kedokteran cegukan lebih dikenal dengan istilah singultus. Sebelum melanjutkan pada pembahasan selanjutnya, kalian harus mengenal pengertian cegukan terlebih dahulu. Cegukan atau singultus merupakan kontraksi yang terjadi secara tiba-tiba atau tidak sengaja pada diafragma. Proses kontraksi tersebut berlangsung secara berulang-ulang pada setiap menitnya. Umumnya singultus terjadi dalam waktu yang singkat serta akan hilang dengan sendirinya.

Singultus terjadi disebabkan antara perut dan diafragma mengalami kontraksi yang tidak disengaja. Diafragma merupakan salah satu organ penting dalam proses pernapasan berlangsung. Saat melakukan pernapasan otot diafragma akan berkontraksi menghirup oksigen, sedangkan saat mengeluarkan napas berupa karbon dioksida maka otot diafragma akan berelaksasi. Akibat otot diafragma yang berkontraksi secara tidak sengaja, menyebabkan oksigen terlalu cepat masuk kedalam organ paru-paru, sehingga katup saluran pernapasan secara otomatis akan menutup dan menimbulkan bunyi hik-hik. Proses tersebut dikenal orang dengan istilah cegukan atau singultus.

Adapun beberapa hal yang dapat memicu otot diafragma mengalami kontraksi secara tidak sengaja seperti mengonsumsi makanan yang pedas, meminum minuman yang mengandung karbonasi, merokok, mengunyah permen karet, serta mengonsumsi makanan dan minuman yang terburu-buru. Diantara berbagai pemicu tersebut, menyebabkan singultus yang bersifat tidak permanen. Konon masyarakat suku Jawa menganggap bahwa singultus disebabkan karena kurangnya mengonsumsi air mineral. Sehingga cara simple mengatasinya dengan meminum air mineral.

Hampir setiap insan manusia mengalami singultus. Cegukan atau singultus dapat menyerang seseorang tanpa mengenal usia. Bisa saja cegukan terjadi pada usia bayi, balita, anak-anak, remaja, dewasa, bahkan lansia. Hal ini dipengaruhi karena otot diafragma yang mengalami kontransi secara otomatis. Selama seseorang dapat bernapas menghirup udara segar, memungkinkan dapat terserang singultus. Cegukan atau singultus pada seseorang akan memberikan rasa tidak nyaman pada dirinya. Hal ini dikarenakan cegukan atau singultus dapat menghambat seseorang ketika sedang berbicara pada orang lain.

Eits, ternyata singultus bisa menyerang pada bayi loh. Uniknya masyarakat Jawa menganggap ketika bayi sedang mengalami cegukan mereka mengira bayi sedang mengalami pertumbuhan. Banyak diantara mereka menimang bayi ketika cegukan menggunakan kata-kata gelis gede. Cegukan atau singultus pada bayi merupakan tanda bahwa bayi tersebut mengalami pertumbuhan yang normal. Hal itulah yang menyebabkan masyarakat suku Jawa menganggap singultus pada bayi menunjukkan bayi gelis gede alias cepat besar pertumbuhnnya. Jadi antara mitos dan fakta dari argumen masyarakat Jawa saling berkesinambungan. Pernyataan tersebut dikatakan mitos apabila tidak dihubungkan dengan dunia medis, namun dikatakan fakta apabila pernyataan itu dihubungkan dalam dunia medis.

Cegukan atau singultus yang terjadi secara tidak permanen, biasanya dalam jangka waktu kisaran lima sampai sepuluh menit. Pada setiap menitnya akan terdapat jeda suara hik-hik. Cegukan atau singultus merupakan reaksi yang ditimbulkan oleh tubuh serta tidak berbahaya bagi kesehatan. Eits, ternyata apabila cegukan tak kunjung berhenti dalam waktu yang singkat, bisa jadi hal demikian termasuk kategori singultus kronis.

Memang ada beberapa macam singultus, ada yang bersifat sementara dan ada yang bersifat permanen. Singultus kronis sangat jarang dijumpai pada khalayak umum. Tak hanya orang dewasa yang dapat terserang kelainan singultus, melainkan bayi dapat terserang pula. Cegukan atau singultus memang tidak dapat diprediksi kapan terjadinya.

Apabila mengalami cegukan yang berkepanjangan, sebaiknya pergi ke dokter agar dilakukan pemeriksaan berkelanjutan. Seseorang yang mengidap penyakit diabetes, peradangan pada usus, naiknya asam lambung, kista, serangan jantung, asma, TBC, serta berbagai macam penyakit kronis lainnya dapat mengalami kelainan singultus yang berkepanjangan. Biasanya cegukan berkepanjangan ditandai dalam jangka waktu dua hari cegukan tidak bisa berhenti.

Singultus berkepanjangan pada bayi harus diperhatikan oleh Bunda. Cegukan yang terjadi terus menerus lebih dari jangka waktu yang telah ditentukan, biasanya terdapat gangguan kesehatan pada bayi. Prediksi medis mengatakan bahwa singultus yang berlangsung dalam waktu yang lama menandakan bahwa terjadi aliran bolak balik asam lambung menuju kerongkongan. Oleh karena itu, Bunda harus mengawasi pertumbuhan dan perkembangan pada bayi.

Ternyata cegukan dapat diatasi dengan mengonsumsi wedang jahe segar, air hangat disertai madu, mengisap potongan buah lemon, berkumur, dan mengambil napas secara sedalam-dalamnya. Tips tersebut berlaku untuk mengatasi singultus yang bersifat tidak permanen. Sementara cegukan yang kronis dapat dilakukan pengobatan resep dari dokter.

Udah dulu ya penjelasan seputar cegukan. Sekarang udah pada tau kan apa penyebab cegukan? Tentunya udah dong, kan udah pada baca penjelasan di atas. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi kalian semua. Sampai jumpa!. By: Fira Zahrotul Ilma (S1 Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah UIN Sunan Ampel Surabaya).

Tags: