7 Days With You

Di belakang rumah sakit tempat ayahku bekerja ada sebuah bukit, di tengah bukit itu berdiri sebuah pohon sakura yang indah. Disanalah aku bertemu dengan seseorang yang sangat berarti dalam hidupku. Dia adalah orang pertama yang membuat merasakan sebuah perasaan aneh ini. Perasaan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.

10 Tahun yang lalu… Di sebuah ruangan serba warna putih ini aku duduk di pinggir ranjang sembari menatap kaki kananku yang dibalut kain putih. Tak jauh dari tempat itu seorang pria paruh baya memakai jas putih menatapku dengan tatapan marah.

“Sean, sudah berapa kali ayah katakan padamu untuk tidak berkelahi dengan temanmu dan lihat sekarang dirimu” tutur pria paruh baya itu padaku. Aku membuang mukaku berdecih kesal dengan sikap ayah yang selalu saja tidak mendengarkanku. Padahal aku berkelahi hanya untuk membela diriku yang diperlakukan semena-mena oleh temanku.

Jika ayah sudah marah seperti ini ia tidak berhenti untuk melontarkan kata-kata dan itu membuatku muak. Kuambil tongkat krukku yang tak jauh dariku ku tatap wajah pria paruh baya itu dengan tatapan kesal kemudian berbalik membelakangi pria itu.
“Ayah selalu saja menyalahkanku, aku benci sama ayah” ucapku kesal dan langsung pergi dari ruangan itu tanpa mempedulikan kata-kata ayahku.

Aku terus berjalan menyusuri lorong koridor rumah sakit yang begitu panjang. Rasa kesal dan amarahku bercampur menjadi satu memenuhi pikiranku. Tanpa kusadari langkahku telah membawaku semakin jauh keluar dari area rumah sakit. Hingga tibalah di suatu tempat dimana sebuah pohon berbunga warna merah muda yang indah mekar dengan sangat indah. Orang-orang Jepang menyebutnya dengan nama pohon sakura.

Aku berjalan mendekati pohon kebanggaan negeri matahari terbit itu dan duduk di bawahnya dengan bersandar di batangnya yang berukuran lumayan besar. Tempat ini begitu tenang dan sepi serta angin sepoi menyapu kulitku dengan lembut membuat diriku ingin tidur sejenak. Perlahan kututup kedua mataku dan menikmati suasana ini, hingga kudengar sebuah suara gumam nyanyian membuat kedua mataku kembali terbuka.

“Siapa yang sedang bernyanyi ?” batinku dalam hati. Kuedarkan pandanganku ke segala arah namun tak ada seseorang pun. Hawa dingin karena semilir angin membuat bulu kudukku merinding seketika. Suara gumam nyanyian itu semakin terdengar jelas di telingaku, rasa penasaranku pun semakin kuat walaupun rasa takut ikut menjalariku. Suara itu berasal dari sisi belakang pohon sakura.

Ku mantapkan langkahku menuju balik pohon sakura, ku intip dari balik pohon sakura itu. Kedua mataku menangkap sosok seorang gadis berambut hitam panjang lurus memakai baju putih, aku merasa ragu apakah dia manusia ataukah hantu. Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena gadis itu memunggungiku. Entah mengapa gadis yang kulihat itu berhenti bernyanyi, degupan jantungku tiba-tiba semakin berdegup kencang dan pandanganku pun tidak bisa teralihkan.
“HUUUAA” teriakku kencang saat gadis itu tiba-tiba saja menoleh ke arahku dan tentu saja itu sangat mengejutkan bagiku. Saking terkejutnya diriku aku sampai terjatuh ke belakang.
“Aduh..” rintihku kesakitan sambil kuusap pantatku.
“Apa kau baik-baik saja ?” tanya seseorang padaku, kutorehkan pandanganku menatap sosok yang ada didepannku.
“Huaa…menjauh dariku hantu” ujarku ketakutan.
“Hei…kau ini kenapa ?” tanyanya padaku sambil menyadarkanku dengan menggoyangkan pundakku. Aku pun tersadar dan kutatap wajah gadis itu sedikit khawatir padaku.
“Ka…kau…ini manusia atau hantu ?” tanyaku untuk memastikan.
“Astaga kau ini jelas-jelas aku manusialah, dasar” jawabnya dengan nada sedikit tersinggung.
“Maaf kukira tadi kau adalah hantu penunggu pohon sakura ini” ujarku menyesal. Gadis cantik berambut hitam panjang lurus memakai seragam pasien rumah sakit itu langsung tertawa terbahak-bahak mendengar perkataanku.
“Apa yang lucu ?” tanyaku padanya.
“Haha…kau ini lucu sekali mana ada hantu di siang bolong begini” jawabnya sambil terkikik. Sementara aku menatapnya dengan tatapan kesal.
“Maafkan aku sudah membuatmu ketakutan, sini kubantu kau berdiri” ucapnya padaku sambil membantuku berdiri.
“Oh..iya namaku Sherafina Salsabila panggil saja Shera, kalau kau ?” kata Shera padaku.
“Aku Sean, Sean Alrescha” ujarku
“Baiklah Sean mulai sekarang kita berteman” kata Shera dengan nada yang senang.

Sejak saat itu aku dan Shera sering bermain bersama di bukit belakang rumah sakit dan kami menjadi sahabat. Kaki kananku yang patah pun berangsur sembuh, aku pun diperbolehkan pulang. Meskipun aku sudah tidak lagi diinap di rumah sakit, aku masih tetap mengunjungi rumah sakit hanya untuk bertemu dengan Shera. Karena waktu itu sebelum aku berpamitan padanya aku membuat janji dengannya untuk terus menemuinya sampai ia sembuh dari sakitnya. Hingga suatu hari saat dimana setiap hari aku mengunjungi bukit untuk pertama kalinya aku melihat Shera tertidur beralaskan rumput hijau dengan tenang. Tidak biasanya gadis berumur sekitar 13 tahun sebaya denganku tengah tertidur ketika aku datang. Biasanya gadis itu selalu menungguku sambil bermain ayunan mungkin sekarang ia sedang lelah karena itu ia tertidur. Kulihat wajahnya dari hari ke hari semakin memucat. Aku sedikit khawatir padanya, belum pernah kutanyakan padanya tentang sakit apa yang sedang ia alami.

Kulihat kedua mata sayunya perlahan membuka dan wajahnya tersenyum ketika melihatku. Aku pun membalasnya dengan senyuman yang belum pernah kutunjukkan pada siapapun.

“Sean kau sudah datang, maaf sepertinya aku ketiduran lagi ya” ucapnya sambil tersenyum. Entah mengapa aku merasa dibalik senyumannya ia menyimpan banyak kesedihan, ingin rasanya aku menanyakannya tetapi kali ini rasa enggan mengalahkan niatku.

“Tidak apa-apa sepertinya kau sangat kelelahan” ucapku padanya.
“Aku baik-baik saja Sean jangan khawatir” ujarnya padaku sambil tersenyum. Kata-kata yang diucapkannya seolah berusaha menyakinkan diriku untuk tidak mengkhawatirkan kondisinya.

“Kali ini kita bermain apa ya ?” katanya padaku dengan nada ceria.
“Bagaimana kalau kita membuat origami kebetulan hari ini aku membawa kerta origami” usulku padanya langsung diterima Shera begitu saja.
“Shera” panggilku pada gadis kecil yang duduk disampingku.
“Iya” jawabnya singkat sambil melipat kertas origami.
“Kau ini sebenarnya sakit apa ?” tanyaku pada Shera. Mendengar pertanyaanku gadis itu langsung terdiam membuatku merasa tidak enak mungkin karena kata-kataku telah menyinggungnya.
“Ma…maaf Shera jika pertanyaanku telah menyinggungmu kau tidak perlu menjawabnya” ucapku padanya.
“Tidak apa-apa kok Sean, pasti kau sangat penasaran kan” katanya padaku.
“Aku memiliki penyakit jantung lemah dan karena penyakit ini aku sering masuk ke rumah sakit” lanjutnya.
“Maaf” ucapku menyesal, gadis itu tersenyum dan menggeleng pelan kemudian menatap ke arahku.
“Tidak apa-apa Sean, ini bukan salahmu” ujarnya padaku berusaha menyakinkanku untuk tidak merasa bersalah.
Tanpa disadari waktu terus berjalan sang matahari hendak menenggelamkan dirinya dalam langit senja.
“Huahh…hari sudah sore Sean saatnya kau pergi orang tuamu pasti sedang mencarimu sekarang” tuturnya padaku.
“Ah…iya kau benar kalau begitu sampai bertemu besok” ucapku padanya.

Bukannya aku pulang ke rumah tetapi aku malah menunggu Shera kembali ke rumah sakit dengan bersembunyi di balik pohon sakura. Shera tidak menyadari akan keberadaanku disini. Mendadak hatiku tersentak ketika aku mendengar isakan tangis yang tak lain dari Shera.
“Tuhan berilah aku sedikit waktu lagi aku…aku ingin bersama Sean walau itu hanya sebentar” ucapnya. Entah mengapa dadaku terasa sesak mendengar keinginan Shera, gadis itu sangat baik terhadapku dia juga yang membuatku berbaikan dengan ayahku dan dia juga orang pertama yang mau berteman dengan anak nakal sepertiku.

Ketika gadis itu sudah kembali ke rumah sakit aku pun segera bergegas menuju ruang tempat dimana ayahku bekerja, kebetulan ayahku adalah dokter yang menangani Shera. Ayahku juga mengetahui pertemananku dengan Shera.
“Ayah” panggilku pada seorang pria paruh baya yang tengah melihat beberapa kertas laporan entah laporan apa itu aku tidak peduli.
“Sean, kau belum pulang ibumu sangat khawatir padamu” ujarnya padaku.
“Ayah, bisakah kau menyembuhkan penyakit pada Shera” ucapku padanya. Kulihat raut wajah ayahku langsung berubah begitu mendengar tentang Shera.
“Sean dengarkan ayah, ayah hanyalah seorang dokter bukanlah Tuhan ayah hanya bisa meringankan rasa sakit pasien tidak semua obat bisa menghilangkan penyakit pasien” terangnya padaku.
“Pasien bisa sembuh itu karena berkat dari Tuhan” lanjutnya.
“Berapa…berapa sisa waktu yang Shera miliki ?” tanyaku pada pria paruh baya berjas putih yang ada didepanku.

“Jika dihitung dalam minggu ini sisa waktu Shera tinggal 12 jam mulai sekarang” jawab pria itu padaku. Rahangku mengeras dengan bergegas aku keluar dari ruangan ayahku meninggalkan pria paruh baya itu dalam kebingungan.
“Ckk…kenapa waktunya terlalu singkat” gumamku kesal saking kesalnya kuluapkan dengan memukul keras dinding rumah sakit berulang kali. Rasa sesak bercampur kesal dan amarah kembali menyerangku, kedua mataku terasa sembab penuh dengan air mata yang siap jatuh kapanpun.

“Sean kaukah itu ?” tanya seseorang menyebutkan namaku, aku hafal betul dengan suara ini sontak aku pun menoleh dan kudapati seorang gadis cantik berambut hitam panjang memakai baju pasien tengah menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan.
“Shera” gumamku lirih.

“Astaga Sean kau berdarah” ucapnya terkejut, aku pun mengalihkan pandanganku pada tangan kananku yang mengeluarkan cairan berwarna merah pekat mungkin akibat ulahku yang memukul dinding keras itu berulang kali.
“Ayo ikut aku kita obati lukamu” tuturnya padaku langsung menggandeng tanganku dan membawaku duduk di kursi koridor rumah sakit.
“Tunggu disini akan kubawakan P3K” ujarnya padaku, Shera langsung bergegas pergi mengambil peralatan itu kemudian kembali menghampiriku. Kulihat wajahnya begitu sangat khawatir padaku.

“Kau ini kenapa memukul tembok sih lihat kau jadi terluka kan” tuturnya padaku sembari mengobatiku dengan telaten.
“Luka ini tidak ada apa-apanya jangan khawatir sebaiknya kau khawatirkan dirimu” ujarku padanya.
“Haha…kenapa aku harus mengkhawatirkan diriku aku baik-baik saja kok” ucapnya dengan nada ceria seolah tidak terjadi apa-apa.
“Jangan bohong” kataku dengan tegas, mendadak gadis itu menghentikan aktivitasnya membalut tanganku dengan kain perban.
“Apa…apa maksudmu Sean, sungguh aku…” belum sempat gadis itu meneruskan kata-katanya entah mengapa tubuhku refleks langsung memeluknya dengan erat.
“Se…Sean apa yang kau lakukan ?”tanya gadis itu grogi.
“Diamlah, kalau kau melihat wajahku aku akan sangat marah padamu” kataku dengan nada yang sengaja kubuat tegas agar dia tidak mengetahui kalau aku juga sedih karenanya. Mendengar perkataanku gadis itu langsung melunak ia tidak lagi sekaku waktu ia grogi, aku bisa merasakan perasaan gadis itu ingin menangis dan menahannya sedari tadi seolah ia baik-baik saja. Karena itu aku memberanikan diri untuk memeluknya agar ia bisa menangis tanpa aku ketahui.

Cukup lama ia menangis dalam pelukanku mungkin karena banyak kesedihan yang ia pendam dibalik senyumannya itu. Aku merasa diriku ini orang yang payah sekali tidak mampu membuat orang lain tersenyum bahagia, hanya masalah yang selalu kubuat. Kurasakan dirinya mulai bergerak melepas pelukanku kemudian menatapku dengan senyuman manisnya. Selintas ide muncul di pikiranku, kemudian kutarik tangannya beranjak dari kursi.
“Sean” panggilnya lirih, namun aku hanya diam dan mengajaknya keluar dari rumah sakit.
“Kita mau kemana ? kau tahu kan pasien dilarang keluar rumah sakit saat malam” ujarnya padaku. Aku terhenti sejenak kemudian melepas jaketku kuberikan pada Shera, gadis itu menatapku dengan tatapan bingung.
“Pakai itu dan jangan banyak bertanya” kataku dengan nada yang kubuat setegas mungkin. Gadis itu menurut pada perkataanku ia langsung memakai jaketku, kami berjalan mengendap-endap keluar dari rumah sakit menuju bukit belakang rumah sakit.

Sepanjang perjalanan gadis itu memang tidak banyak bertanya padaku hanya saja ia sering mengeluh karena perjalanan menuju bukit belakang rumah sakit minim penerangan cahaya. Aku hanya menggunakan lampu senter dari ponselku sebagai penerangan. Terkadang aku merasa ingin tertawa melihat tingkahnya saat mengeluh namun lama-kelamaan kata-kata keluhannya membuatku semakin gregetan dengannya.

Karena Shera terus saja mengeluh tanpa ia sadari kami sudah sampai di bukit, aku pun sengaja berhenti mendadak tanpa memberitahu Shera alhasil ia pun menabrak punggungku.
“Aduh, Sean kalau berhenti bilang dong” keluhnya padaku.
“Kita sudah sampai di bukit” ujarku padanya.
“Astaga Sean kau mengajakku keluar hanya untuk ke bukit ini untuk apa sih” gerutunya padaku.
“Shera” panggilku padanya.
“Apa” sahutnya singkat.
“Lihat” kataku sambil mengarahkan kepalanya menghadap ke langit malam yang bertaburan kilauan cahaya dari ribuan bintang.
“Indahnya” gumamnya kagum, dalam hati aku senang melihatnya senyuman di wajahnya namun teringat senyuman itu tidak akan bertahan lama membuatku sedih.
“Bagaimana kau bisa tahu ?” tanyanya padaku.
“Itu rahasia” jawabku singkat. Tiba-tiba saja Shera memukulku pelan mengalihkan pandanganku menatap ke arahnya. Kuajak dia duduk dibawah pohon sakura sambil memandangi langit malam.
“Kau itu seperti misteri susah ditebak dan penuh kejutan” katanya padaku. Sementara itu aku hanya terdiam mendengar kata-katanya. Tiba-tiba ia bersandar di pundakku, dan entah sikapnya itu membuat jantungku berdegup kencang.
“Aku sangat bersyukur bisa bertemu denganmu berkatmu aku tak lagi merasakan kesepian, aku sangat berterima kasih padamu Sean karena kau juga aku takkan bisa merasakan perasaan ini aku sungguh bahagia” ujarnya padaku.
“Aku juga merasa beruntung bisa bertemu denganmu Shera” ucapku dalam hati.
“Sepertinya aku…menyukaimu..Sean, bagaimana denganmu ?” tanyanya padaku. Aku terbelalak mendengar pernyataan Shera padaku.
“Aku…aku juga menyukaimu Shera” jawabku dengan rona merah di pipiku karena menahan malu.
“Sean sekali lagi terima kasih sudah membuatku…bahagia…” mendadak suasana menjadi hening yang ada hanya suara semilir angin. Gadis itu tidak melanjutkan kata-katanya membuatku bertanya-tanya apakah ia tertidur. Iya hari semakin larut mungkin sudah waktunya ia kembali ke rumah sakit untuk beristirahat.
“Shera” panggilku padanya, namun tidak ada respon sama sekali. Kupanggil ia sekali lagi sambil menggoyangkan pelan tubuhnya akan tetapi lagi-lagi ia tidak meresponku. Saat kuubah posisiku gadis itu tidak bergeming ia seperti pingsan, sekali lagi kugoyangkan tubuhnya lebih keras sambil memanggil namanya ia tidak merespon. Tubuhnya tidak bergerak sama sekali, wajahnya memucat dan kurasakan kulitnya semakin dingin.
“Shera, bangun jangan menakutiku seperti ini” teriakku padanya namun lagi-lagi ia hanya memejamkan matanya dan tidak bersuara sama sekali. Aku pun bergegas menggendong Shera membawanya kembali ke rumah sakit.
“Bertahanlah Shera” ucapku padanya. Dengan terburu-buru kubawa tubuh gadis itu yang sudah melemah ke rumah sakit.

Sesampainya di rumah sakit semua orang begitu terkejut ketika melihatku kepanikanku begitu dengan ayah yang melihat kondisiku tengah membopong Shera.
“Sean apa yang terjadi ?” tanya ayah padaku.
“Ayah tolong Shera dia..dia..” aku tak sanggup melanjutkan kata-kataku. Ayahku langsung mengerti maksud perkataanku dengan cepat ia melakukan tindakan medis. Aku ingin menemani Shera namun suster melarangku masuk, aku hanya bisa pasrah menunggu kabar baik di luar ruangan.

Sudah dua jam lebih aku menunggu diluar bersama kedua orang tua Shera, kedua orang tua Shera menginterogasiku dengan ribuan pertanyaan yang tidak bisa kujelaskan bahkan mereka menyalahkanku karena telah mengajak Shera keluar rumah sakit. Aku akui itu adalah kesalahanku karena itu aku menerima kata-kata kasar dari kedua orang tua Shera. Tak lama kemudian ayahku keluar dari ruangan Shera, ia menatap kedua orang tua Shera dengan tatapan yang sulit kuartikan.
“Maaf kami sudah berusaha semaksimal mungkin tetapi nyawa Shera tidak bisa tertolong sekali lagi maafkan kami” ucap ayah. Mendengar pernyataan itu bagai tersambar petir bagiku dan juga kedua orang tua Shera.

Semenjak kepergian Shera kedua orang tuanya semakin membenciku, hidupku yang dulu penuh canda tawa saat bersama Shera lenyap begitu saja. Hidupku berubah menjadi kelam, aku menjadi diriku yang lama. Hingga suatu hari kedua orang tua Shera datang menemuiku untuk meminta maaf padaku dan memberiku sebuah buku catatan dengan sampul berwarna biru tua. Buku catatan itu ternyata milik Shera, kubuka buku catatan itu ternyata berisi ungkapan hati Shera. Kubaca semua tulisan dalam buku dan tanpa kusadari air mataku mengalir saat membaca akhir dari buku catatan itu.

Waktu terus berjalan kini umurku telah menginjak 23 tahun, aku lulus kuliah dan bekerja di rumah sakit tempat ayahku bekerja. Aku bekerja sebagai dokter penyakit dalam di usia muda, semua orang-orang di rumah sakit kagum pada diriku. Sejak saat kuterima buku catatan itu, semangatku kembali aku merubah hidup kelamku menjadi hidup yang cerah dengan masa depan yang indah.
Sekarang aku duduk di bawah pohon sakura menutup kedua mataku melepas lelah, kedua tanganku memeluk buku catatan bersampul biru tua pemberian dari seseorang yang sangat berarti dalam hidupku. Dia juga adalah orang pertama yang membuatku jatuh hati namun Tuhan berkata lain aku dan dia berpisah kami hidup di dunia yang berbeda. Di manapun berada aku masih mengingat Shera dengan jelas, kemana pun aku pergi aku selalu membawa buku pemberiannya. Dengan begini aku bisa merasakan dia selalu ada bersamaku.
“Dokter Sean” kata seorang anak kecil perempuan menyebut namaku. Perlahan kedua mataku terbuka dan melihat sosok anak kecil melambai padaku. Aku tersenyum lembut pada anak kecil itu.
“Tetap disana aku akan datang” ujarku padanya. (Dyah Ayu Taula)
Selesai

Tags: