Implementasi Penilaian Autentik Dalam Pendidikan Anak Usia Dini

Pendahuluan
Dalam era Revolusi Industri 4.0 ini, kita sebagai warga negara sering dihadapkan pada berbagai perubahan yang sangat dinamis. Berbagai macam perubahan yang ada bisa ditunjukkan salah satunya pada bidang pendidikan, khususnya dalam Pendidikan Anak Usia Dini. Perubahan yang cukup signifikan dalam PAUD yaitu mengenai pemberlakuan Kurikulum 2013 atau disingkat K-13 dari kurikulum yang sebelumnya yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan disingkat KTSP. Perbedaan yang cukup signifikan dengan KTSP, yaitu pada pendekatan pembelajaran dan sistem penilaiannya, dimana membuat guru kesulitan dalam menerapkan kurikulum terbaru ini.

Dalam artikel kali ini, saya akan menekankan pembahasan pada sistem penilaian dari kegiatan pembelajaran pada sentra persiapan yang dilakukan di TK ABA 13 Surabaya. Sekolah tersebut telah menerapkan Kurikulum 2013, namun masih terdapat beberapa kendala dalam pelaksanaan pembelajaran, khususnya dalam penilaian kegiatan sentra persiapan berlangsung. Oleh karena itu, saya akan membahas apakah penilaian ketika kegiatan sentra persiapan berlangsung telah dikategorikan ke dalam penilaian autentik atau belum.

Pembahasan
Pada Kurikulum 2013 khususnya jenjang PAUD, telah memiliki aturan yang diatur Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pusat dimana masing-masing standar PAUD telah ditetapkan didalamnya. Salah satu standar yang terdapat dalam aturan tersebut yaitu standar penilaian. Pengertian dari standar penilaian yaitu kriteria tentang penilaian proses dan hasil pembelajaran anak dalam rangka pemenuhan standar tingkat pencapaian perkembangan sesuai tingkat usianya . Bisa kita garis bawahi bahwa penilaian anak usia dini menekankan pada proses dan juga hasil pembelajaran.

Berdasarkan hasil mini riset yang dilakukan ketika pembelajaran sentra persiapan berlangsung di TK ABA 13 Surabaya, guru telah menerapkan penilaian selama dan setelah proses pembelajaran berlangsung. Dalam pedoman penilaian yang diatur oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, dijelaskan bahwa sebagai pendidik waktu penilaian yang dilakukan yaitu mulai dari anak datang di satuan PAUD, selama proses pembelajaran, saat istirahat, sampai anak pulang. Sehingga hasil penilaian dapat dirangkum dalam kurun waktu harian, mingguan atau bulanan .

Menurut pandangan saya, penilaian Autentik yaitu suatu penilaian yang dilakukan secara berkesinambungan sebagai suatu pengumpulan, pelaporan, dan penggunaan informasi tentang proses dan hasil belajar anak didik dalam kegiatan pembelajaran. Maka, disini para guru di TK ABA 13 Surabaya sebagai salah satu sekolah yang sudah menerapkan Kurikulum 2013 dituntut untuk harus memahami mulai dari apa, mengapa, sampai langkah-langkah yang harus diterapkan ketika melakukan penilaian autentik pada pembelajaran. Penilaian autentik dilakukan untuk mengukur aspek sikap, aspek pengetahuan, dan aspek keterampilan .

Dalam penerapannya ketika kegiatan sentra persiapan berlangsung, terdapat beberapa guru ketika melakukan penilaian autentik beliau mengalami beberapa kendala. Salah satu yang membuat kebingungan para guru yaitu sistem penilaian autentik yang memiliki banyak aspek. Pada satu kegiatan pembelajaran, masingmasing anak harus dinilai secara detail menggunakan rubrik penilaian dan melibatkan seluruh aspek, baik dari aspek sikap, pengetahuan maupun keterampilan. Oleh sebab itu, para guru di TK ABA 13 Surabaya menilai penilaian autentik pada Kurikulum 2013 ini sedikit rumit dalam penerapannya. Jadi bisa saya simpulkan bahwa kendala yang dialami oleh guru dalam melakukan penilaian autentik yaitu:

  1. Menggunakan rubrik penilaian yang rumit.
  2. Banyaknya aspek yang harus dinilai guru ketika pembelajaran berlangsung.
  3. Penilaian yang detail pada masing-masing anak didik dengan jumlah anak didik yang tidak sedikit dalam satu kelas.

Meskipun begitu terdapat beberapa faktor pendukung yang bisa dimanfaatkan dalam penerapan penilaian autentik di TK ABA 13 Surabaya, yaitu:

  1. Anak didik dapat menerima pelajaran lebih mudah karena media yang digunakan di sekolah beragam dan menarik.
  2. Lingkungan pembelajaran yang kondusif sudah mulai terealisasi sehingga anak didik terlibat aktif dalam keberlangsungan proses pembelajaran.
  3. Upaya pengadaan ekstrakurikuler telah lama dilaksanakan, sehingga dalam kegiatan ekstra ini anak didik bisa memperluas aspek pada penilaian autentik, yaitu aspek keterampilan, aspek sikap, dan aspek pengetahuan.

Penutup
Berdasarkan mini riset yang telah dilakukan tentang penerapan pembelajaran anak usia dini dengan menggunakan penilaian autentik, maka dapat dikatakan bahwa TK ABA 13 Surabaya telah sepenuhnya menerapkan Kurikulum 2013. Jadi, meskipun terdapat beberapa kendala dalam pelaksanaan penilaian autentik, seperti: menggunakan rubrik penilaian yang rumit, banyaknya aspek yang harus dinilai oleh guru ketika pembelajaran berlangsung, dan juga penilaian yang mendetail pada masing-masing anak didik dimana jumlah anak didik tidak sedikit dalam satu kelas, akan tetapi sisi lain dari penilaian autentik ini memiliki makna bagi:

  1. Anak didik, yaitu untuk mengetahui sejauh mana anak didik telah mengikuti pembelajaran, apakah telah memenuhi 3 aspek (pengetahuan, keterampilan, dan sosial) dalam penilaian autentik atau belum.
  2. Guru, yaitu untuk mengetahui apakah penyampaian materi dalam pembelajaran sudah sesuai dan bisa diserap dengan baik oleh anak didik.
  3. Sekolah, yaitu untuk mengetahui apakah kegiatan pembelajaran dan juga penilaian autentik yang telah dilaksanakan oleh guru sudah sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang berlaku atau belum. Oleh : Ima Faizul Muna

DAFTAR PUSTAKA

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 137 TAHUN 2014 TENTANG STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN ANAK USIA DINI.
PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 146 TAHUN 2014 TENTANG KURIKULUM 2013 PENDIDIKAN ANAK USIA DINI.
Rasyid, R. 2017. Pemahaman Guru dalam Menerapkan Penilaian Autentik di Madrasah Ibtidaiyah No. 366 Bumiayu Kec. Wonomulyo Kab. Polewali
Mandar. Skripsi tidak diterbitkan. Makassar: FTK Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar.

Tags: