Pandangan Guru SDI Al–Ishlah Rejeni Terhadap Perkembangan Kurikulum di Indonesia

Pendahuluan

Pendidikan merupakan aspek yang penting dalam suatu negara, begitu pentingnya bahkan tolak ukur maju tidaknya suatu negara diukur dari pendidikannya. Maka dari itu dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan Indonesia, pemerintah terus berupaya melakukan berbagai reformasi dalam bidang pendidikan. Dan sebagai sarana untuk meningkatkan mutu pendidikan diperlukan sebuah kurikulum. Kurikulum  merupakan suatu rencana dan cara mengadministrasikan tujuan, isi, dan bahan pelajaran, serta cara yang digunakan untuk pedoman atau pegangan dalam proses kegiatan belajar mengajar (Tim Pengembang MKDP, 2011)

Selain itu kurikulum pun dapat dianggap sebagai dasar dalam pendidikan secara menyeluruh. Sehingga apabila dasar tersebut tidak kokoh maka yang terjadi adalah sebuah kerobohan pendidikan. Karena keberhasilan sebuah pendidikan untuk mencetak peserta didik yang bermutu dan berkualitas sangat ditentukan oleh kurikulum pendidikan. Kurikulum di Indonesia sendiri dapat dikatakan sebagai kurikulum yang tidak kokoh, sehingga kemungkinan robohnya pendidikan di Indonesia semakin besar. Hal ini dibuktikan dengan sering bergantinya kurikulum pendidikan nasional hampir setiap 4-5 tahun sekali. Pemerintah menggati kurikulum yang berlaku pada masa itu karena kurikulum tersebut dianggap tidak dapat mencapai tujuan pendidikan dan memecahkan masalah yang terjadi pada kurikulum sebelumnya. Perubahan kurikrikulum tersebut, yaitu pada tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, 2004, dan kurikulum 2006 (Pendidikan et al., 2006)

Pada tahun 1947 atau kemudian diganti pada tahun 1952 yang diberi nama Rentjana Pelajaran Terurai 1952. Kurikulum ini sudah mengarah pada suatu sistem pendidikan nasional. Yang paling menonjol dan sekaligus ciri dari kurikulum 1952 ini bahwa setiap rencana pelajaran harus memperhatikan isi pelajaran yang dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari(Tim Peningkatan Kompetensi dan Kinerja Guru, 2014). Usai tahun 1952, menjelang tahun 1964, pemerintah kembali menyempurnakan sistem kurikulum di Indonesia. Kali ini diberi nama Rentjana Pendidikan 1964. Pendidikan dasar lebih menekankan pada pengetahuan dan kegiatan fungsional praktis. Selanjutnya diganti kembali dengan kurikulum 1968 yang lebih menekankan pada pengelompokan mata pelajaran mata pelajaran yang berbeda atau dikenal dengan nama penjurusan (Idi A, 2010). Isi pendidikan diarahkan pada kegiatan mempertinggi kecerdasan dan keterampilan, serta mengembangkan fisik yang sehat dan kuat.

Tujuh tahun kemudian, kurikulum 1975 mulai diberlakukan dengan tujmurid. Namun ternyata setelah penerapannya kesenjangan tersebut masih tetap ada dan tidak terselesaikan. Kemudian diganti kembali dengan kurikulum 2004 yang lebih dikenal dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK)yang meliputi KBM kegiatan belajar-mengajar,penilaian berbasis kelas dengan harapan dapat menyelesaikan masalah sebelumnya dan menumbuhkan siswa yang kreatif dan inovatif. Proses pembelajaran berpusat pada siswa dan dikembangakan oleh siswa itu sendiri, namun yang terjadi justru sebaliknya (Mulyasa, 2015). Guru tetap berpandangan bahwa setiap proses pengajaran berpusat dan bergantung pada guru, seperti pada kurikulum-kurikulum sebelumnya. Sehingga kurikulum tersebut tetap tidak berkembang.

Selanjutnya, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pada tahun 2006 yang dianggap dapat membawa perubahan pada masa depan pendidikan Indonesia. KTSP memberikan hak kepada setiap sekolah untuk menyusun sistem pendidikan yang sesuai dengan sekolah terebut (Pendidikan et al., 2006). KTSP merupakan kurikulum yang fleksibel dan diharapkan dapat dilaksanakan diberbagai sekolah baik sekolah terpencil sekali pun. KTSP juga diharapkan dapat menyeimbangkan antara kemampuan akademik dan pribadi yang bermoral. Sebagai hasilnya memang benar peserta didik yang dihasilkan memiliki prestasi yang gemilang, namun prilaku mereka menjadi urakan. Dibuktikan dengan tingginya angka kriminalitas meningkat terutama dikalangan pelajar dan banyaknya tawuran antar pelajar.yang terakhir adalah kurikulum 2013 yang dianggap sebagai penyempurna dari kurukulum KTSP`.dan seiringnya pergantian kurikulum disesuaikan dengan tuntutan zaman.

Namun apa sebenarnya maksud dan tujuan pemerintah Indonesia sendiri mengganti kurikulum yang sudah diterapkan dengan kurikulum baru yang belum tentu dapat beradaptasi dengan siswa atau peserta didik. Tujuannya tentu saja untuk memperbaiki mutu pendidikan supaya bisa berkembang lebih baik dari sebelumnya dan agar sesuai dengan tuntutan dan perubahan yang terjadi di masyarakat. Tapi kenyataanya mutu pendidikan di indonesia selama ini masih memberikan hasil yang mengecewakan. dalam arti peserta didik belum bisa menerima kurikulum yang baru.(Waseso, 2018)

Justru perubahan kurikulum pendidikan yang begitu cepat pada kenyataanya menimbulkan masalah-masalah baru dalam dunia pendidikan, salah satu dari banyaknya masalah tesebut yaitu banyak prestasi siswa yang menurun hal ini mungkin di sebababkan karena siswa tidak dapat menyesuaikan diri dengan sistem pembelajaran pada kurikulum yang baru. Dalam hal ini peserta didik dituntut untuk dapat menyesuaikan diri pada setiap kurikulum yang berganti.(Waseso, 2018)

Selain itu pada kenyataanya  terdapat banyak sekali pro dan kontra serta kendala dari perubahan dalam setiap kurikulum, seperti memerlukan biaya yang lebih banyak untuk fasilitas belajar, sarana prasarana yang mendukung dalam proses pendidikan serta alat-alat pendidikan baru yang tidak selalu dapat terpenuhi. (Mulyasa, 2013) Hingga pada akhirnya tidak jarang pula perubahan ini di tentang oleh beberapa pihak yang kurang percaya akan sesuatu yang baru sebelum terbukti kelebihannya.

Hal ini juga mungkin menyebabkan masyarakat sudah terlalu bosan mendengar perubahan-perubahan kurikulum yang tidak memberikan perubahan menonjol yang sesuai dengan yang diharapkan dan diinginkan bersama (Nur Ahid, 2006). Hanya merupakan wacana dari pemerintah yang tidak terealisasikan dengan baik..

Kurikulum 2013 sendiri, merupakan kurikulum yang berbasis kompetensi dan karakter (competency and character based curriculum) ditunjukkan untuk menjawab tantangan zaman terhadap pendidikan yakni untuk menghasilkan lulusan yang kompetitif, inovatif, kreatif, kolaboratif serta berkarakter (Megawanti, n.d.).

Sama halnya dengan yang terjadi pada kurikulum 2013 ini, dapat berjalan dengan baik apabila ada perubahan  para pendidik atau guru dalam proses pembelajaran. Mengingat bahwa substansi perubahan dari kurikulum 2006 (KTSP) ke kurikulum 2013 ini adalah perubahan proses pembelajaran, dari pola pembelajaran yang berpusat tidak pada guru(cara mengajar guru terhadap siswa) sehingga siswa cenderung pasif, dan mendorong siswa untuk aktif, kreatif dan inovatif dalam hal ini siswalah yang dituntut aktif dan mandiri dalam proses pembelajaran. Guru hanya berperan sebagai fasilitaor dan motivator (Pendidikan et al., 2006).

Sebenarnya  kurikulum 2013 sangat bagus, namun proses yang mungkin kurang tepat. Hal inilah menyebabkan implementas Kurikulum 2013 menemui sejumlah masalah di lapangan. Selain persoalan problem teknis  yang berkaitan dengan perubahan struktur kurikulum misalnya saja pemberlakuan penambahan jam pelajaran siiwa di sekolah, hal ini tentu saja menimbulkan penolakan dari sejumlah pihak (Alawiyah, 2013). Salah satunya ialah dari para orang tua siswa yang  kesal karena kasihan pada anaknya karena tidak punya waktu lagi untuk bermain bahkan besosialisasi karena beban yang mereka hadapi.

Selanjutnya sarana prasarana pembelajaran, dalam hal ini yang paling dominan adalah sarana TIK.  Keberadaan sarana TIK hingga saat ini masih belum merata pada setiap sekolah. Sekolah-sekolah yang berlokasi diperkotaan cenderung memiliki sarana TIK lebih baik dibanding dengan sekolah di daerah terpencil. Terlebih lagi yang berada di pelosok masih banyak yang belum tersentuh listrik sehingga keberadaan dan keberfungsian saran TIK merupakan hal yang tidak mungkin. Permasalahan lain yang muncul berkenaan dengan pendayagunaan TIK di sekolah adalah masih banyaknya guru yang belum menguasai TIK. (Wahyudi, Suyitno, & Waluya, 2018)

Dan yang tidak kalah penting adalah bahan ajar, dalam hal ini terdapat kendala dalam mendistribusikan buku karena tidak dapat di pungkiri bahwa ada banyak sekolah yang terlambat mendapatkan buku padahal tahunan ajar telah dimulai.(Wahyudi et al., 2018) Maka hal inilah yang menyebabkan masih adanya guru yang menggunakan metode dan bahan ajar pada kurikulum sebelumnya meski pun telah di adakannya pergantian kurikulum yang baru.

Namun jika melihat  negara lain, seperti negara-negara maju mereka tidak merubah-ubah kurikulum yang di pakai dalam sistem pendidikannya, namun meraka dapat mencetak sumber daya manusia yang berkualitas dan berkompetensi di bidangnya. Salah satunya saja negara Singapura. Walau negara ini tidak memiliki SDA melimpah dan wilayah yang terbatas tetapi SDM memiliki SDM berkualitas salah satu negara maju di asia (Waseso, 2018). Dan sebaliknya indonesia memiliki SDA dan wilayah yang berlimpah dan sangat luas tetapi SDM tidak berkualitas ini perlu dipertanyakan tanda tanya besar mengapa.

Jadi hal yang terpenting dalam (pendidikan) adalah bagaimana cara guru melaksanakan pembelajaran dengan baik dan memiliki perubahan pada peserta didik dengan menanamkan sikap kognitif, afektif dan psikomotor (Rustam Abong, 2015). Sebab guru merupakan ujung tombak dalam dunia pendidikan (Machali, 1970). Karena gurulah yang sagat berperan penting dalam pembentukan karakter peserta didik, sebaik apapun sebuah konsep kurikulum jika tidak di imbangi dengan tenaga pengajar yang berkualitas, kurikulum tersebut tidak dapat berjalan dengan baik dan hanya akan menjadi sebuah nama yang tidak memiliki arti apapun.

Metode Penelitian

  • Jenis Penelitian

Dalam penelitian yang berjudul “Sudut Pandang Guru SDI Al –Ishlah Rejeni Terhadap Perkembangan Kurikulum Pendidikan di Indonesia” ini menggunakan jenis penelitian kualitatif, agar peneliti mudah memahami secara mendalam pendapat subjek yang kita teliti. Penelitian ini mengarah pada realitas pendidikan yang terjadi di Indonesia. Maka tidak mungkin kita menggunakan metode penelitian kuantitatif yang menggunakan instrument penelitian seperti test maupun kuisioner atau angket.

  • Lokasi dan Waktu Penelitian

Dalam penelitian yang berjudul “Sudut Pandang Guru SDI Al –Ishlah Rejeni Terhadap Perkembangan Kurikulum Pendidikan di Indonesia”, Peneliti mengambil lokasi penelitian di kediaman informan yang kita teliti. Lokasi tersebut kita jadikan lokasi penelitian karena lebih fleksibel dan tidak memerlukan surat izin penelitian.

Berikut susunan dan rincian dalam waktu penelitian bentuk tabel

NoNama KegiatanTanggal Kegiatan
1.Penyusunan Instrument Penelitian10 Mei 2019
2.Turun Lapangan / Penggalian Data15 Mei 2019
3.Pengumpulan dan Analisis Data18 Mei 2019
4.Penyusunan Artikel Penelitian20 Mei 2019
5.Artikel Penelitian Selesai29 Mei 2019
  • Pemilihan Subjek Penelitian

Subjek Penelitian merupakan hal inti dari sebuah penelitian, yaitu sebagai pusat informasi. Maka dari itu, artikel bertemakan pendidikan ini lebih akurat bila informan merupakan seseorang yang berprofesi berhubungan dengan pendidikan. Untuk bisa menggali lebih dalam mengenai tema yang diangkat, peneliti memilih seorang guru Sekolah Dasar yang sudah bekerja kurang lebih 27 tahun di dunia pendidikan.

  • Data dan Instrumen

Jenis penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif. Dari penelitian kualitatif, peneliti tidak hanya mendapat informasi berupa jawaban yang dilontarkan informan, tapi peneliti juga akan mendapat data yang lebih lengkap berupa dokumentasi maupun data tertulis untuk memperjelas serta memperdalam penelitian yang kita lakukan.

  • Teknik Pengumpulan Data

Penelitian tanpa adanya data adalah mustahil, dengan begitu data adalah hal yang sangat penting dari sebuah penelitian. Disini penulis menggunakan teknik pengumpulan data berupa wawancara terstruktur. Wawancara terstruktur adalah wawancara yang dilakukan dengan menyiapkan instrument penelitiannya sudah dipersiapkan dan terstruktur. Peneliti memilih teknik ini agar penyusunan artikel menjadi lebih efisien dan teratur.

  • Teknik Analisis data

Karena peneliti menggunakan metode kualitatif, maka teknik analisis data yang digunakan polanya belum jelas. Tapi pada akhirnya data ini berhasil dianalisis dan berhasil disusun dengan baik.

Hasil dan Pembahasan

  • Identifikasi Topik Bahasan
  • Sepengetahuan Anda, sudah berapa kali Indonesia berganti Kurikulum? Sebutkan satu per-satu seingat Anda!
  • Apakah Bapak ibu sudah ada pada kurikulum masa reformasi? Apa saja perubahan yang mencolok pada kurikulum tersebut jika dibandingkan dengan kurikulum yang sebelumnya?
  • Bisa dijelaskan perbedaan kurikulum dari terdahulu yang Anda ketahui hingga saat ini?
  • Bagaimana pendapat Bapak dengan adanya Kurikulum 2013?
  • Apa saran anda untuk untuk kurikulum pendidikan Indonesia kedepannya?
  • Pembahasan
  • Yang saya tahu ada 11 kali pergantian kurikulum dari  tahun 1994, tahun 2004, tahun 2006, tahun 2013, dan yang terakhir adalah di tahun 2015.
  • Iya, sudah. Banyak sekali perbedaannya, karena di kurikulum reformasi ini Banyak perubahan dari system sebelumnya, Kurikulum Caturwulan dengan KBK, diantaranya yaitu silabus ditentukan secara seragam dan silabus menjadi kewenangan guru kelas. jumlah jam pelajaran yang tadinya 40 jam per minggu menjadi 32 jam perminggu, tetapi jumlah mata pelajaran masih sama. Namun ada beberapa kekurangan dari Kurikulum ini, yaitu sarana dan prasarana yang belum ada kemajuan secara signifikan, juga menyulitkan guru dalam merancang sebuah pembelajaran.
  • Kurikulum Caturwulan (1994)

Disini tahapan pelajaran di sekolah dengan sistem caturwulan, tujuannya agar siswa menyerap ilmu lebih banyak

Mulai ada pelaksanaan kegiatan, dimana guru mulai berani menuntut murid untuk aktif baik dalam social maupun kegiatan belajar mengajar.

Mengulang kembali materi untuk memantapkan pemahaman peserta didik.

Namun banyak sekali masalah dan komplain pada Kurikulum 1994 ini, seperti beban belajar siswa dirasa terlalu berat karena adanya system Caturwulan, materi pembelajaran kurang friendlybagi siswa karena tidak dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari.

Kurikulum Berbasis Kompetensi (2004)

Adanya Kurikulum KBK ini berkat adanya gebrakan reformasi terhadap pendidikan Indonesia. Banyak perubahan dari system sebelumnya, Kurikulum Caturwulan dengan KBK, diantaranya yaitu silabus ditentukan secara seragam dan silabus menjadi kewenangan guru kelas. jumlah jam pelajaran yang tadinya 40 jam per minggu menjadi 32 jam perminggu, tetapi jumlah mata pelajaran masih sama.

Namun ada beberapa kekurangan dari Kurikulum ini, yaitu sarana dan prasarana yang belum ada kemajuan secara signifikan, juga menyulitkan guru dalam merancang sebuah pembelajaran.

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan / KTSP (2006)

Kurikulum KTSP menggunakan SKL sebagai pedoman penilaian dalam penentuan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan. SKL meliputi kompetensi untuk seluruh mata pelajaran atau kelompok mata pelajaran. Kompetensi lulusan merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan sesuai dengan standar nasional yang telah disepakati.

Namun, menurut saya Kurikulum KTSP ini kurang efisien karena buku pelajaran siswa terlalu banyak dan berat, pun juga membosankan untuk dibaca anak usia Sekolah Dasar, ada 11 mata pelajaran yang terdiri dari buku yang berbeda sehingga menyulitkan peserta didik dalam belajar.

Kurikulum 2013

Kurikulum ini menggunakan kompetensi yang dinyatakan dalam bentuk Kompetensi Inti (KI) mata pelajaran dan dirinci lebih lanjut ke dalam Kompetensi Dasar (KD). Kompetensi Dasar disini yang dikembangkan pada prinsip kprelasi yang kuat, karena saling memperkuat dan memperkaya antar mata pelajaran.

Menurut saya, Kurikulum 2013 ini sangat baik bagi peserta didik, khususnya pada tingkat Sekolah Dasar, karena di setiap materi selalu dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari dan saling berhubungan antara mata pelajaran satu dengan mata pelajaran yang lain. Namun tidak bagi tingkat Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas karena terlalu banyak praktek, dan merepotkan siswa yang system sekolahnya full-day school.

  • Menurut saya kurikulum 2013 itu baik bagi tingkat Sekolah Dasar, karena adanya buku Tematik yang didalam materinya sudah menjadi satu antara mata pelajaran satu dengan mata pelajaran lain, selain itu setiap materi selalu dihubungkan dengan kegiatan sehari-hari beserta gambarnya sehingga ilmu mudah diserap dan dipahami, sebaliknya, Kurikulum 2013 ini kurang cocok bila diterapkan pada tingkat SMP dan SMA waktu belajar yang sebelumnya hanya 2 jam sekarang bisa mencapai 3-4 jam. Penilaiannya pun didapat dari semua aspek, bukan dari nilai ujian saja. Di kurikulum 2013 ini siswa diharuskan aktif di dalam kelas, siswa juga diharuskan mencari materi sendiri. Pada kurikulum sekarang, guru semacam menjadi “pengangguran”, guru datang ke kelas, memberi materi baru tanpa menjelaskannya terlebih dahulu kepada murid-muridnya. Dan tugas yang diberikan untuk murid juga tak gampang, kebanyakan mencari di internet. Bahan belajar terlalu berat, sehingga waktu belajar di sekolah terlalu lama. Menurut saya ada kelebihan dan kekurangan menerapkan kurikulum 2013. Kelebihannya dengan adanya globalisasi pendidikan Indonesia harus mengikuti perkembangan zaman. Kekurangannya yaitu perubahan kurikulum ini terlalu mendadak, beberapa tahun yang lalu sudah ganti kurikulum masa sekarang ganti lagi. Selain itu metode dan materi pembelajarannya pun banyak yang berubah.
  • Ya saya harap tidak terbelit-belit tapi memenuhi mencukupi kemajuan bangsa keperluan bangsa, mengikuti zaman agar tidak tertinggal.

membuat mereka mengerti, menerima dan menghargai kenyataan yang ditemui. Hal tersebut tidak mudah karena selama ini sekolah telah terbiasa berperan sebagai alat untuk mempertahankan kebudayaan secara konservatif.

Kesimpulan

Dari hasil penelitian diatas, dapat disimpulkan bahwa dari tahun ke tahun Kurikulum di Indonesia selalu ada kemajuan yang terlihat. Walaupan banyak kendala di setiap perkembangan Kurikulum di setiap tahunnya, pemerintah selalu mengimbangi dengan berusaha meratakan hak-hak Warga Negara Indonesia yang memang seharusnya mendapatkan pendidikan yang layak. Adapun harapan dari informan kami bahwa harusnya Kurikulum di Indonesia ini tidak berbelit-belit dan menyesuaikan dengan keadaan Negara memang benar. Karena terkadang pelajar yang ada di pusat atau daerah maju lebih beruntung ketimbang mereka yang tinggal di daerah terpencil sehingga terjadi kesenjangan hak warga Negara.

Saran

Dalam penelitian berupa karya tulis artikel ini tentunya peneliti masih merasa banyak hal yang perlu dikorek mengenai Perkembangan Kurikulum di Indonesia, maka dari itu peneliti berharap kepada para pembaca dan khusunya Bu Juhaeni agar memaklumi artikel yang serba kurang ini.

Referensi

Alawiyah, F. (2013). Peran Guru dalam Kurikulum 2013. Aspirasi,4(1), 65–74. Retrieved from http://jurnal.dpr.go.id/index.php/aspirasi/article/view/480

Idi A. (2010). Pengembangan Kurikulum : Teori & Praktek. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.

Machali, I. (1970). Kebijakan Perubahan Kurikulum 2013 dalam Menyongsong Indonesia Emas Tahun 2045. Jurnal Pendidikan Islam, 3(1), 71. https://doi.org/10.14421/jpi.2014.31.71-94

Megawanti, P. (n.d.). Jurnal Formatif 2(3): 227-234. 2(3), 227–234.

Mulyasa. (2013). Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013 (Wardan A, ed.). Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Offset.

Mulyasa. (2015). Kurikulum yang Disempurnakan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Offset.

Nur Ahid, … (2006). Konsep dan Teori Kurikulum dalam Dunia Pendidikan. ISLAMICA: Jurnal Studi Keislaman, 1(1), 12–29. https://doi.org/10.15642/islamica.2006.1.1.12-29

Pendidikan, M., Pelajaran, R., Pembelajaran, R., Pelajaran, R., Pelajaran, R., Terurai, R. P., … Pendidikan, R. (2006). Sejarah Perkembangan Kurikulum di Indonesia. Journal, (Sejarah Perkembangan Kurikulum), 1–20.

Rustam Abong. (2015). Konstelasi Kurikulum Pendidikan di Indonesia. At-Turats, 9(2), 37–47.

Tim Pengembang MKDP. (2011). Kurikulum & Pembelajaran (3rd ed.). Jakarta: Rajawali Pers.

Tim Peningkatan Kompetensi dan Kinerja Guru. (2014). Pengembangan Kurikulum (Nufus H, ed.). Jakarta: Rineka Cipta.

Wahyudi, Suyitno, H., & Waluya, S. B. (2018). Dampak Perubahan Paradigma Baru Matematika Terhadap Kurikulum dan Pembelajaran Matematika di Indonesia. Jurnal Ilmiah Kependidikan, 1(1), 38–47.

Waseso, H. P. (2018). Kurikulum 2013 Dalam Prespektif Teori Pembelajaran Konstruktivis. TA’LIM : Jurnal Studi Pendidikan Islam, 1(1), 59–72. Retrieved from http://e-jurnal.unisda.ac.id/index.php/talim/article/view/632%0Ahttp://moraref.kemenag.go.id/documents/article/97874782241954609

By : Amira, Anisa, Sagita

Tags: