Pengaruh Asap Terhadap Kesehatan

  • Whatsapp
PENDAHULUAN

Berkembang pesatnya arus perekonomian, urbanisasi dan ekspor impor di Indonesia menyebabkan semakin maraknya pabrik-pabrik yang didirikan dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Hal ini menjadi salah satu faktor meningkatnya suhu udara dan polutan di Indonesia. Asap beracun itu terdiri dari berbagai macam baik Karbon Monoksida (CO), Nitrogen Monoksida (NO), Nitrogen Dioksida (NO2), dan lain sebagainya. Gas beracun tersebut akan mempengaruhi tingkat kesehatan masyarakat dan mengalami gangguan seperti pernapasan, iritasi dll.

Semakin tinggi konsentrasi CO yang terhirup oleh manusia maka semakin fatal resiko yang diterima oleh manusia tersebut, bahkan dapat menyebabkan kematian. Sifat CO yang berupa gas yang tidak berbau dan tidak berwarna serta sangat toksik tersebut, maka CO sering disebut sebagai silent killer. Efek terhadap kesehatan gas CO merupakan gas yang berbahaya untuk tubuh karena daya ikat gas CO terhadap Hb adalah 240 kali dari daya ikat CO terhadap O2. Apabila gas CO darah (HbCO) cukup tinggi, maka akan mulai terjadi gejala antara lain pusing kepala (HbCO 10 persen), mual dan sesak nafas (HbCO 20 persen), gangguan penglihatan dan konsentrasi menurun (HbCO 30 persen) tidak sadar, koma (HbCO 40-50 persen) dan apabila berlanjut akan dapat menyebabkan kematian. Pada paparan menahun akan menunjukkan gejala gangguan syaraf, infark otak, infark jantung dan kematian bayi dalam kandungan. Gas CO yang tinggi di dalam darah dapat berasal dari rokok dan asap dari kendaraan bermotor. Terhadap lingkungan udara dalam ruangan, gas CO dapat pula merupakan gas yang menyebabkan building associated illnesses, dengan keluhan berupa nyeri kepala, mual, dan muntah. Karbon monoksida (CO) adalah gas yang tidak berwarna, tidak berbau, mudah terbakar dan sangat beracun. Merupakan hasil utama pembakaran karbo monoksida dan senyawa yang mengandung karbon monoksida yang tidak lengkap. (Maryanto, Mulasari, & Suryani, 2014)

Bacaan Lainnya
Baca Juga :  Urgensi Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dalam Pendidikan

Penelitian Suhariyono (2002) terhadap pencemaran udara di pabrik semen Citeureup Bogor menunjukkan bahwa konsentrasi partikel debu PM10 dan PM2,5 di rumah-rumah sekitar pabrik semen 0,4 sampai 0,7 µm; di dalam pabrik semen 0,4 sampai 2,1 µm dan di pinggir jalan  5,8 sampai 9 µm melebihi baku mutu udara ambien nasional yang ditetapkan oleh PP No.41/1999. Penelitian yang dilakukan oleh Junaidi (2002) terhadap kadar debu jatuh di kota Banda Aceh pada daerah yang terkena tsunami dan daerah yang tidak terkena tsunami. Ditemukan bahwa  pengaruh sangat nyata dari kadar debu pada titik 3 minggu pertama yakni 0,5873 g/ m3/hari yaitu melebihi ambang batas daerah pemukiman sebesar 0,333 g/m3/hari. Sedangkan kadar Pb tidak melebih ambang batas yang telah ditetapkan yakni sebesar 0,06 µg/m3. Telah banyak penelitian yang mengemukakan tentang parameter pencemar udara lainnya yang berlokasi di daerah lain. Hal ini mengindikasikan bahwa kualitas udara menjadi perhatian khusus. Karena itu, penting kiranya bagi peneliti, pemerintah, mahasiswa dan para stakeholder yang berkecimpung dalam dunia kesehatan dan lingkungan untuk mengetahui beberapa model pengukuran risiko kesehatan, salah satunya adalah Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL).  (Basri, Bujawati, Amansyah, Habibi, & Samsiana, 2007)

Dalam tulisan ini dibahas mengenai pencemaran udara yang meliputi, pengalaman masyarakat, pengaruhnya terhadap kualitas lingkungan dan kesehatan manusia serta teknologi terbaru dan perbaikan dari pemerintah untuk menguranginya. METODE PENELITIAN

Pos terkait