Sistem Zonasi diubah, Yang berprestasi bisa memilih sekolah yang unggul

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan mengubah komposisi kuota untuk sistem zonasi. Ke depan sistem tersebut dibuat lebih longgar. Sehingga siswa berprestasi bisa memilih sekolah favorit mereka.

“Kami sadar, nggak semua daerah itu siap untuk suatu policy zonasi yang sangat rigid (kaku),” kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim di Jakarta Selatan, Rabu (11/12).

Sistem zonasi sebelumnya membagi jatah-jatah kuota penerimaan siswa baru, yakni 80 persen kuota suatu sekolah diberikan untuk anak-anak yang bermukim di kawasan zonasi sekolah, 15 persen kuota untuk siswa yang berprestasi, dan 5 persen kuota untuk siswa perpindahan.

Komposisi kuota ini akan diubah Nadiem supaya lebih longgar, khususnya untuk anak berprestasi yang memfavoritkan sekolah tertentu.

“Jadi arahan kebijakan ke depannya adalah sedikit kelonggaran kita memberikan di zonasi. Yang tadinya prestasi 15 persen sekarang jalur prestasi kami perbolehkan sampai 30 persen. Jadi bagi orang tua yang sangat semangat mem-push anaknya untuk mendapatkan angka-angka yang baik untuk mendapatkan prestasi yang baik, inilah menjadi kesempatan untuk mereka untuk mencapai sekolah yang mereka inginkan,” tutur Nadiem.

Kuota untuk siswa yang berada dalam zonasi sekolah bakal dikecilkan. Bila sebelumnya kebijakan zonasi mengalokasikan 80 persen untuk siswa sekitar zona sekolah, kini Nadiem menurunkan jatah itu menjadi 50 persen.

Kuota untuk jalur afirmasi untuk pemegang Kartu Indonesia Pintar tidak diubah Nadiem alias tetap 15 persen. Kuota untuk jalur perpindahan domisili orang tua juga tetap 5 persen.

Begini kuota sistem zonasi sekolah ala Nadiem, 50 persen untuk jalur zonasi, 30 persen untuk jalur prestasi, 15 persen untuk jalur afirmasi dan 5 persen untuk jalur perpindahan domisili orang tua.

Kebijakan zonasi dilandasi oleh semangat pemerataan pendidikan. Namun, menurut Nadiem, pemerataan tidak cukup dengan cara zonasi, tapi juga harus diimbangi pemerataan kualitas guru-guru. Kebijakan zonasi juga dilandasi semangat menghapus favoritisme sekolah. Namun kini, Nadiem ingin anak-anak berprestasi bebas menentukan sekolah idamannya.

“Zonasi masih bisa mengakomodir anak-anak berprestasi. Kita memberi langkah pertama kemerdekaan belajar di Indonesia,” kata Nadiem.

Sumber : Timlo.net

Tags: