Fungsi Evaluasi Pembelajaran

Menurut Sujana, yang ditulis di dalam buku yang berjudul Pengantar Evaluasi Pendidikan, fungsi evaluasi ditinjau dari pemanfaatan hasilnya sebagai berikut :

  1. Fungsi penempatan (placement), yaitu evaluasi  yang hasilnya digunakan sebagai pengukur kecakapan yang disyaratkan diawal suatu program pendidikan. Dengan kata lain, evaluasi ini dilaksanakan untuk mengukur performasi awal sewaktu siswa mulai masuk suatu program pendidikan.
  2. Fungsi slektif, yaitu evaluasi yang dilaksanakan sebagai upayah untuk memilih (to select), antara lain misalnya: memilih siswa yang dapat diterima disekolah tertentu; memilih siswa yang dapat masuk kelas atau tidak; memilih siswa yang seharusnya mendapat beasiswa, dan lain-lain.
  3. Fungsi diagnostik, apabila alat atau teknik yang digunakan dalam melakukan kegiatan evaluasi cukup memenuhi persyaratan, maka dengan melihat hasilnya, guru akan dapat mengetahui kelemahan siswa, demikian juga sebab-musabab kelemahan itu. Jadi, dengan mengadakan evaluasi, pada dasarnya guru mengadakan diagnosis kepada siswa mengenai kebaikan dan kelemahannya sehingga dapat lebih mudah dicarikan jalan keluar untuk mengatasi.
  4. Fungsi pengukuran keberhasilan, yaitu evaluasi yang dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana suatu program penddikan berhasil diterapkan. Dalam hal ini evauasi dibedakan lagi menjadi dua:
  5. Evaluasi formatif
  6. Evaluasi sumatif.[1]

Menurut Dr. Elis  Ratnawulan, S.Si., M.T. Dan Dr. H. A. Rusdiana, M.M. Pengantar Prof. Dr. H. Sutaryat Trisnamansyah dalam buku yang berjudul Evaluasi Pembelajaran, fungsi evaluasi pembelajaran dibagai enjadi 2, yaitu funsi umum evaluasi pembelajaran dan fungsi khusus evaluasi pembelajaran.

  1. Fungsi umum evaluasi pembelajaran
  2. Untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan pengajaran. Dalam hal ini adalah tujuan intruksional khusus. Dengan fungsi ini dapat diketahui tingkat penguasaan bahan pelajaran yang dikuasai oleh para siswa. Dengan perkataan lain, dapat diketahui hasil belajar yang dicapai para siswa.
  3. Untuk mengetahui keefektifan proses belajar mengajar yang telah dilakukan oleh guru. Dengan fungsi ini, guru dapat menegtahui berhasil tidaknya dalam mengajar. Rendahnya hasil belajar yang tercapai yang dicapai siswa tidak hanya disebabkan oleh kemampuan siswa, tetapi juga bisa disebabkan kurang berhasilnya guru mengajar. Melalui penilaian, menilai kemampuan guru dan hasilnya dapat dijadikan bahan dalam memperbaiki usahanya, yakni tindakan mengajar berikutnya.

Menurut Scriven (1967) fungsi evaluasi dibedakan menjadi 2, yaitu fungsi formatifyang dilaksanakan apabila hasil yang diperoleh dari kegiatan evaluasi diarahkan untuk memperbaiki bagian tertentu atau sebagian besar bagian kurikulum yang sedang dikembangkan. Dan funsi sumatif yang  dihubungkan dengan penyimpulan mengenai kebaikan dari sistem secara keseluruhan.fungsi ini dapat dilaksanakan jika pengembangan program pembelajaran telah dianggap selesai.

Menurut Arifin (2012: 24-25), fungsi evaluasi terbagi sebagai berikut :

  1. Secara psikologis
  2. Secara sosiologis
  3. Secara didaktis-metodis
  4. Secara administratif
  5. Fungsi khususs evaluasi pembelajaran
  6. Fungsi intruksional
  7. Fungsi administratif
  8. Fungsi bimbingan.[2]

Menurut Drs. Zainal Arifin, M.Pd. dalam buku yang berjudul evaluasi pembelajaran, fungsi evaluasi memang cukup luas, bergantung dari sudut mana kita melihatnya. Bila kita lihat secara menyeluruh, funsi evaluasi adalah sebagai berikut:

  1. Secara psikologis, peserta didik perlu tahu sejauh mana kegiatan yang telah dilakukan sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Dalam pembelajaran, mereka perlu mengetahui prestasi belajarnya sehingga ia merasakan kepuasan dan ketenangan. Untuk itu, guru perlu melakukan evaluasi pembelajaran, termasuk penilaian prestasi belajar peserta didik.
  2. Secara sosiologis, evaluasi berfungsi untuk mengetahui apakah peserta didik sudah cukup mampu terjun ke masyarakat. Hal ini penting, karena mampu-tidaknya peserta didik terjun ke masyarakat akan memberikan ukuran tersendiri terhadap institusi pendidikan bersangkutan. Implikasinya adalah bahwa kurikulum dan pembelajaran harus sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
  3. Secara didaktis-metodis, evaluasi berfungsi untuk membantu guru dalam menempatkan peserta didik pada kelompok tertentu sesuai dengan kemampuan dan kecakapannya masing-masing serta membantu guru dalam usaha memperbaiki proses pembelajarannya.
  4. Evaluasi berfungsi untuk mengetahui kedudukan peserta didik dalam kelompok, apakah dia termasuk anak yang pandai atau kurang pandai.
  5. Evaluasi berfungsi untuk mengetahui taraf kesiapan peserta didik dalam menempuh program pendidikannya.
  6. Evaluasi berfungsi membantu guru dalam memberikan bimbingan dan seleksi, baik dalam rangka menentukan jenis pendidikan, jurusan, maupun kenaikan kelas.
  7. Secara administratif, evaluasi berfungsi untuk memberikan laporan tentang kemajuan peserta didik kepada orang tua, pejabat pemerintah yang berwenang, kepala sekolah, guru-guru dan peserta didik itu sendiri.

Berdasarkan penjelasan diatas, maka funsi evaluasi pembelajaran adalah:

  1. Untuk perbaikan dan pengembangan sistem pembelajaran.
  2. Untuk akreditasi. Dalam UU No. 20/2003 Bab 1 Pasal 1 Ayat 22 dijelaskan bahwa “akreditasi adalah kegiatan penilaian kelayakan program dalam satuan pendidikan berdasarkan kriteria yang telah diterapkan”.[3]

[1] Jauharoti Alfin, M.Si, dkk, Evaluasi Pembelajaran Bahasa Indonesia MI, (Surabaya : IAIN Sunan Ampel Press, 2013), hlm. 12 dan 13

[2] Dr. Elis  Ratnawulan, S.Si., M.T. dan Dr. H. A. Rusdiana, M.M., Evaluasi Pembelajaran pengantar Prof. Dr. H. Sutaryat Trisnamansyah, (Bandung : CV Pustaka Setia, 2015), hlm. 28-32

[3] Drs. Zainal Arifin, Evaluasi pembelajaran, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2013), hlm. 16-20

Tags: