Pengertian Evaluasi Pembelajaran

Guba dan Lincoln (1985 : 35), mendefinisikan evaluasi sebagai “a process for describing an evaluand and judging its merit and worth”. (suatu proses untuk menggambarkan evaluan (orang yang dievaluasi) dan menimbang makna dan nilainya).  Sax  (1980  :  18)  juga  berpendapat “evaluation is a process through which a value judgement or decision is made from a variety of observations and from the background and training of the evaluator”.  (evaluasi  adalah  suatu proses dimana pertimbangan atau keputusan suatu nilai dibuat dari berbagai pengamatan, latar belakang serta pelatihan dari evaluator).

Dari dua rumusan tentang evaluasi ini, dapat kita peroleh gambaran bahwa evaluasi adalah suatu proses yang sistematis dan berkelanjutan untuk menentukan kualitas (nilai dan arti) daripada sesuatu, berdasarkan pertimbangan dan kriteria tertentu untuk membuat suatu keputusan. Berdasarkan pengertian ini, ada beberapa hal yang perlu kita pahami lebih lanjut, yaitu :

  • Evaluasi adalah suatu proses bukan suatu hasil (produk). Hasil  yang  diperoleh  dari  kegiatan  evaluasi  adalah  kualitas  daripada sesuatu,  baik  yang  menyangkut  tentang  nilai  maupun  arti.  Sedangkan kegiatan untuk sampai kepada pemberian nilai dan arti itu adalah evaluasi. Jika  Anda  melakukan  kajian  tentang  evaluasi,  maka  yang  Anda  lakukan adalah mempelajari bagaimana proses pemberian pertimbangan mengenai kualitas daripada sesuatu. Gambaran kualitas yang dimaksud merupakan konsekuensi logis dari proses evaluasi yang dilakukan. Proses tersebut tentu dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan, dalam arti terencana, sesuai dengan prosedur dan aturan, dan terus menerus.
  • Tujuan  evaluasi  adalah  untuk  menentukan  kualitas  daripada  sesuatu, terutama yang berkenaan dengan nilai dan arti. S.  Hamid  Hasan  (1988  :  14-15)  secara  tegas  membedakan  kedua  istilah tersebut sebagai berikut :Pemberian  nilai  dilakukan  apabila  seorang  evaluator  memberikan pertimbangannya  mengenai  evaluan  tanpa  menghubungkannya  dengan sesuatu yang bersifat dari luar. Jadi pertimbangan yang diberikan sepenuhnya berdasarkan apa evaluan itu sendiri. Sedangkan arti, berhubungan dengan posisi dan peranan evaluan dalam suatu konteks tertentu. Tentu saja kegiatan evaluasi yang komprehensif adalah yang  meliputi  baik  proses  pemberian  keputusan  tentang  nilai  dan  proses keputusan tentang arti, tetapi hal ini tidak berarti bahwa suatu kegiatan evaluasi harus selalu meliputi keduanya.Pemberian nilai dalam arti ini dalam bahasa yang dipergunakan Scriven (1967) adalah formatif dan sumatif. Jika formatif dan sumatif merupakan fungsi evaluasi,  maka  nilai  dan  arti  adalah  hasil  kegiatan  yang  dilakukan  oleh evaluasi.
  • Dalam proses evaluasi harus ada pemberian pertimbangan (judgement). Pemberian  pertimbangan  ini  pada  dasarnya  merupakan  konsep  dasar evaluasi. Melalui pertimbangan inilah ditentukan nilai dan arti (worth and merit) dari sesuatu yang sedang dievaluasi. Tanpa pemberian pertimbangan, suatu kegiatan bukanlah termasuk kategori kegiatan evaluasi.
  • Pemberian pertimbangan tentang nilai dan arti haruslah berdasarkan kriteria tertentu. Tanpa  kriteria  yang  jelas,  pertimbangan  nilai  dan  arti  yang  diberikan bukanlah suatu proses yang dapat diklasifikasikan sebagai evaluasi. Kriteria yang  digunakan  dapat  saja  berasal  dari  apa  yang  dievaluasi  itu  sendiri (internal), tetapi bisa juga berasal dari luar apa yang dievaluasi (eksternal).

Dengan demikian, pengertian evaluasi pembelajaran adalah  suatu proses atau  kegiatan  yang  sistematis,  berkelanjutan  dan  menyeluruh  dalam rangka  pengendalian,  penjaminan  dan  penetapan  kualitas  (nilai  dan  arti) pembelajaran  terhadap  berbagai  komponen  pembelajaran,  berdasarkan pertimbangan  dan  kriteria  tertentu,  sebagai  bentuk  pertanggungjawaban guru dalam  melaksanakan pembelajaran.[1]

Kata dasar “pembelajaran” adalah belajar. Dalam arti sempit pembelajaran dapat diartikan sebagai suatu proses atau cara yang dilakukan agar seseorang dapat melakukan kegiatan belajar,sedangkan belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku karena interaksi individu dengan lingkungan dan pengalaman. Istilah “pembelajaran” ( Instruction) berbeda dengan istilah “pengajaran” (teaching).

Kata “pengajaran” lebih bersifat formal dan hanya ada didalam konteks guru dengan peserta didik di kelas atau di sekolah,sedangkan kata “pembelajaran” tidak hanya ada dalam konteks guru dengan peserta didik di kelas secara formal, akan tetapi jugameliputi kegiatan-kegiatan belajar peserta didik diluar kelas yang mungkin saja tidak dihadiri oleh guru secara fisik.[2]

Berdasarkan rumusan tersebut ada beberapa hal yang perludijelaskan lebih lanjut yaitu:

  • Pembelajaran adalah suatu program. Ciri suatu program adalah  sistematik, sistemik, dan terencana. Sistematik artinya keteraturan, dalam hal ini pembelajaran harus dilakukan dengan urutan langkah-langkah tertentu, mulai dari perencanaan, pelaksanaan sampai dengan penilaian.
  • Setelah pembelajaran berproses, tentu guru perlu mengetahui keefektifan dan efisiensi semua komponen yang ada dalam proses pembelajaran. Untuk itu, guru harus melakukan evaluasi pembelajaran. Begitu juga ketika peserta didik selesai mengikuti proses pembelajaran, tentu mereka ingin mengetahui sejauh mana hasil yang dicapai. Untuk itu guru harus melakukan penilaian hasil belajar.
  • Pembelajaran bersifat interaktif dan komunikatif. Interaktifartinya kegitan pembelajaran merupakan kegiatan yang bersifat multi arah antara guru, peserta didik, sumber belajar, dan lingkungan yang saling mempengaruhi, tidak didominasi oleh satu komponen saja. Sedangkan komunikatif dimaksudkan bahwa sifat komunikasi antara peserta didik dengan guru atau sebaliknya.
  • Dalam proses pembelajaran, guru hendaknya dapat  menciptakan kondisi-kondisi yang memungkinkan terjadinya kegiatan belajar  peserta didik. Kondisi-kondisi yang dimaksud antara lain:memberi tugas, mengadakan diskusi, tanya jawab, mendorong peserta didik untuk berani mengemukakan pendapat, termasuk melakukan evaluasi atau penilaian.
  • Proses pembelajaran dimaksudkan agar guru dapat mencapai tujuan pembelajaran dan peserta didik dapat menguasai kompetensi yang telah ditetapkan. Tujuan atau kompetensi tersebut biasanya sudah dirancang dalam perencanaan pembelajaran yang berbentuk tujuan pembelajaran, standar kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator. Untuk mengetahui sejauh mana peserta didik mencapai tujuan pembelajaran atau menguasai kompetensi tertentu, maka guru perlu melakukan tindakan evaluasi (Arifin, 2012)[3]

[1] Zaenal Arifin, (2011), Evaluasi Pembelajaran : Prinsip-Teknik-Prosedur, Cetakan Ke-3, Bandung : PT.Remaja Rosdakarya.

[2] Joko Widianto, Evaluasi Pembelajaran (Madiun;Unipma press)2018. Hlm 1-2

[3] Arifin, Z. 2012. Evaluasi pembelajaran (Bandung: PT RemajaRosdakarya)

Tags: