Pembelajaran Berbasis Perkembangan

Pembelajaran anak usia dini baru-baru ini, terutama yang diadakan di lembaga PAUD, cenderung dilakukan secara formal dengan orientasi guru serta penekanan pada keterampilan membaca dan menulis, menghitung lembar kerja dan pekerjaan rumah secara formal.

Praktik pembelajaran seperti ini bukan hanya karena adanya  tuntutan orang tua terhadap pembelajaran  lebih akademik, tetapi karena banyaknya hal-hal penelitian mutakhir yang menunjukkan bahwa anak usia dini siap belajar akademik  formal. Selain itu hal ini juga muncul karena keinginan untuk dapat bersaing dengan negara lain dalam tantangan global karena keyakinan bahwa memberikan pendidikan sejak dini lebih baik untuk masa depan anak-anak.

Pernyataan diatas menyadarkan pentingnya pendidikan untuk anak usia dini yang tidak bisa ditawar dan bisa ditunda sekalipun. Meski begitu dalam implementasinya perlu diatur sedemikian rupa agar tidak ada penyimpangan dalam pendidikan (malpractice education). Hal ini penting karena banyak praktik pendidikan yang tidak memberikan ruang gerak yang leluasa bagi anak-anak untuk mengembangkan kepribadiannya. Mereka melakukan banyak kegiatan belajar yang membosankan dengan banyak-banyak duduk dibangku, mendengar, mencatat, menghafal dan mengikuti keinginan guru, bahkan harus mengerjakan pekerjaan rumah.

Pembelajaran berbasis perkembangan mengacu pada tiga hal penting, yaitu usia, karakteristik anak secara individual, dan konteks sosial-budaya anak. Dalam pelaksanaan pembelajaran berbasis pembangunan menekankan pada hal-hal berikut:

  1. Perkembangan anak secara holistik.
  2. Program individual
  3. Pentingnya inisiatif anak
  4. Fleksibel, ketika lingkungan kelas menstimulasi anak
  5. Bermain sebagai wahana belajar
  6. Kurikulum terpadu
  7. Penilaian berkesinambungan, dan
  8. Bermitra dengan orang tua serta masyarakat untuk mendukung perkembangan anak usia dini.

Hal lain yang perlu dipahami guru adalah memahami prinsip-prinsip perkembangan anak usia dini dan berbagai karakteristik mereka. Ini akan membantu mengenali kebiasaan anak-anak, misalnya, perlu dipahami bahwa seorang anak berusia 4 tahun memiliki karakteristik yang berbeda dari anak berusia 8 tahun.

Pembelajaran yang berbasis perkembangan dapat dilakukan dengan prinsip-prinsip sebagai berikut.

  1. Mencipatkan iklim kondusif dalam belajar.
  2. Membantu kekentalan kelompok dan memenuhi kebutuhan individu
  3. Memberi kesempatan kepada anak untuk berpartisipasi aktif, mengambil inisiatif, melakukan eksplorasi terhadap objek dan lingkungannya.
  4. Memberi kesempatan kepada anak untuk memilih kegiatannya sendiri, dengan menyediakan pengalaman belajar yang dirancang secara konkret.
  5. Mendorong anak-anak untuk mengembangkan keterampilan berkomunikasi dan berbahasa secara menyeluruh yang meliputi kemampuan berbicara, mendengarkan, membaca dan menulis dini.
  6. Merancang strategi pembelajaran yang memungkinkan anak berinteraksi dengan anak lainnya secara indivdual dan dalam kelompok kecil.
  7. Memberikan motivasi dan bimbingan agar anak mengenal lingkungannya, mengembangkan keterampilan sosial pengendalian dan disiplin diri.
  8. Mengorganisasikan kurikulum secara terpadu untuk mengembangkan seluruh aspek perkembangan anak yang meliputi aspek fisik motorik, spiritual, sosial emosional, kognitif, bahasa dan seni.
  9. Mengadakan penilaian terhadap anak secara kontinu, melalui observasi dalam setiap kegiatan.
  10. Mencatat dan mendokumentasikan hal-hal yang telah dilakukan anak dan cara mereka melakukan kegiatan tersebut.

Tags: