Hakikat Pendidikan Karakter Pada Anak Usia Dini

Pendidikan karakter memiliki makna lebih tinggi dari pendidikan moral, karena pendidikan karakter itu tidak hanya berkaitan dengan masalah benar salah, tetapi bagaimana menanamkan kebiasaan (habit) tentang hal hal yang baik dalam kehidupan, sehingga anak atau peserta didik memiliki kesadaran dan pemahaman yang tinggi, serta kepedulian dan komitmen untuk menerapkan kebajikan dalam kehidupan sehari-hari lebih lanjut.

Mulyasa mengemukakan dalam konteks pemikiran Islam bahwa karakter berkaitan dengan iman dan ikhsan. Hal ini sejalan dengan ungkapan Aristoteles, yang mengatakan bahwa karakter erat kaitannya dengan habit” atau kebiasaan yang terus menerus dipraktikan dan diamalkan. Lebih lanjut masih dari E. Mulyasa mengemukakan Megawangi pencetus pendidikan karakter di Indonesia telah menyusun 9 pilar karakter mulia yang selayaknya dapat dijadikan acuan dalam pendidikan karakter, baik di lingkungan sekolah maupun di lingkungan luar sekolah, yaitu sebagai berikut: 1. Cinta Allah dan kebenaran 2. Tanggung jawab, disiplin dan mandiri 3. Amanah 4. Hormat dan santun 5. Kasih sayang, peduli dan kerja sama 6. Percaya diri, kreatif, dan pantang menyerah 7. Adil dan berjiwa kepemimpinan 8. Baik dan rendah diri 9. Toleran dan cinta damai.

Dalam perspektif Islam pendidikan karakter secara teoritik sebenarnya telah ada sejak Islam diturunkan ke dunia, seiring dengan diutusnya Nabi Muhammad SAW untuk memperbaiki atau menyempurnakan akhlak (karakter) manusia. Ajaran Islam sendiri mengandung sistematika ajaran yang tidak hanya menekankan pada aspek keimanan, ibadah dan mu’amalah, tetapi juga akhlak. Pengamalan ajaran Islam secara utuh merupakan model karakter seorang muslim, bahkan dipersonifikasikan dengan model karakter Nabi Muhammad SAW, yang memiliki sifat Shidiq, Tabligh, Amanah, Fathonah. Pendidikan Karakter sebenarnya telah dilaksanakan jauh sebelum Indonesia merdeka. Ki Hajar Dewantoro sebagai Pahlawan Pendidikan Nasional memiliki pandangan tentang pendidikan karakter sebagai asas Taman Siswa 1922. Dalam asas Taman Siswa tersebut Dewantara ingin mendidik manusia Indonesia secara utuh, yang hidup mandiri, efektif, efisien, produktif dan akuntabel.

Baca Juga :  Perspektif Keluarga Edukasi Mengenai Pembelajaran Online

Definisi Karakter

Secara harfiah, karakter artinya kualitas mental atau moral. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, karakter adalah sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan orang lain, tabiat, watak. Berkarakter artinya mempunyai tabiat, mempunyai kepribadian.

Kata karakter berasal dari bahasa Yunani, charassein, yang berarti mengukir sehingga terbentuk sebuah pola. Mempunyai akhlak mulia tidak secara otomatis dimiliki oleh setiap manusia begitu ia dilahirkan, tapi memerlukan proses panjang melalui pengasuhan dan pendidikan yang tepat. Dalam bahasa Arab, karakter ini mirip dengan akhlak (akar kata khuluk), yang berarti tabiat atau kebiasaan melakukan hal yang baik. Al-Ghazali menggambarkan bahwa akhlak adalah tingkah laku seseorang yang berasal dari hati. Oleh karena itu karakter adalah usaha untuk membentuk kebiasaan yang baik. Sehingga sifat anak sudah terukir sejak dini.

Karakter menurut Alwisol diartikan sebagai gambaran tingkah laku yang menonjolkan nilai benar salah, baik dan buruk. Karakter berbeda dengan kepribadian, karena pengertian kepribadian dibebaskan dari nilai. Meskipun demikian, baik kepribadian maupun karakter terwujud tingkah laku yang ditunjukkan ke lingkungan sosial.

Dari beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa karakter adalah kualitas atau kekuatan mental dan moral , akhlak atau budi pekerti individu yang merupakan kepribadian khusus yang membedakan dengan individu lain. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa karakter adalah kualitas mental atau kekuatan moral, akhlak atu budi pekerti dari nilai-nilaidan keyakinan yang ditanamkan dalam pendidikan yang merupakan kepribadian khusus yang harus melekat pada diri anak (gunawan, 2012).

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi karakter anak usia dini

  1. Faktor Internal
  2. Insting atau naluri

Insting adalah suatu sifat yang bisa menumbuhkan perbuatan yang cara penyampaiannya dapat dengan berpikir terlebih dahulu ke arah tujuan tersebut. Naluri merupakan tabiat atau bawaan sejak dari lahir.

  • Adat atau kebiasaan
Baca Juga :  Perspektif Keluarga Edukasi Mengenai Pembelajaran Online

Salah satu faktor penting dalam tingkah laku manusia adalah kebiasaan, karena sikap dan perilaku yang menjadi karakter sangat erat sekali dengan kebiasaan. Kebiasaan adalah suatu perbuatan yang selalu diulang-ulang sehingga sangat mudah untuk dikerjakan. Faktor kebiasaan inilah yang memegang peranan penting dalam membentuk karakter anak.

  • Kehendak atau kemauan

Kemauan adalah salah faktor yang mendorong seseorang untuk mengerjakan suatu hal. salah satu kekuatan yang dapat menggerakkan atau mendorong manusia dalam berperilaku adalah kehendak atau kemauan tersebut. Sebab dari suatu kehendak tersebut dapat membuat sesorang berperilaku baik ataupun buruk. Tanpa kemauan semuanya menjadi pasif dan tidak akan ada artinya bagi kehidupan.

  • Keturunan

Keturunan dapat mempengaruhi perbuatan manusia. Kita dapat menjumpai anak-anak yang berperilaku menyerupai orangtuanya.

  • Faktor Eksternal
  • Pendidikan

Pendidikan adalah suatu usaha yang dapat meningkatkan diri dalam segala aspek. Pendidikan sangat berpengaruh besar dalam proses pembentukan karakter, akhlak dan etika seseorang sehingga baik dan buruknya akhlak seseorang tergantung pada pendidikannya.

  • Lingkungan

Lingkungan juga sangat berperan penting dalam pembentukan karakter seseorang. Jika seseorang tersebut hidup dilingkungan yang baik maka dia akan baik, dan jika seseorang tersebut hidupan dalam lingkungan yang kurang baik maka dia akan mempunyai karakter yang tidak baik juga.

Tags: