Tenaga Medis vs Covid-19

Mewabahnya virus covid-19 membuat warga di seluruh belahan dunia, khususnya di negara Indonesia berbondong-bondong bekerja keras untuk melawan pandemi tersebut. Warga yang harus mengalami kehilangan akibat ditinggal oleh sanak saudara karena terjangkit virus covid-19 tidak sedikit jumlahnya. Setiap saat masyarakat dicekam oleh rasa takut, cemas bahkan sedih karena pandemi yang tidak kunjung usai.

Berbekal tekad dan semangat yang tinggi untuk mengurangi jumlah korban berjatuhan akibat virus corona, tenaga medis di Indonesia harus bekerja keras berkali-kali lipat dari biasanya. Terhitung sampai saat ini sudah ada 4.241 warga positif terkena covid-19, dengan total korban meninggal sebanyak 373 orang. Melihat tingginya intensitas penularan virus ini, tentunya tenaga medis tidak bisa diam dan berpangku tangan saja.

Banyak warga yang melemparkan pujian kepada tenaga medis, termasuk perawat yang menjadi garda terdepan selama masa pandemi saat ini. Tidak sedikit yang menyebut mereka sebagai pahlawan, bahkan banyak yang menciptakan puisi dan lagu untuk tenaga medis yang tetap ikhlas bekerja dan berada di posisi yang rentan terjangkit virus covid-19.

Lantas sebenarnya, bagaimana perasaan, sekaligus suka duka bekerja sebagai tenaga medis dalam periode ini. Salah seorang perawat di sebuah rumah sakit di Jakarta menumpahkan segala ceritanya pada salah satu wartawan suara.com. Wanita yang bernama Maulia Hindun ini menyampaikan bahwa sebenarnya, ketika ia mengenakan APD atau Alat Pelindung Diri, kerap kali Maulia merasa kepanasan dan sesak, tetapi karena pasien mengeluh kedinginan, Maulia rela menaikkan suhu AC di ruang IGD tempat dia bekerja. Baginya, keinginan pasien adalah prioritas utama.

Melihat korban virus covid-19 berpisah dari keluarganya yang lain, membuat Maulia memiliki semangat yang tinggi untuk melakukan pekerjaannya sebagai perawat. Perasaan panik bercampur cemas yang tergambar pada wajah sanak saudara korban covid-19 tidak akan pernah dilupakan oleh Maulia.

Perasaan mencekam juga melanda ketika Maulia memasuki IGD tempat ia bertugas. Pasien-pasien covid-19 tersebut kerap kali panik akan situasi yang mereka alami, tetapi Maulia beserta perawat lain dengan sabar menenangkan dan memberi pengertian, bahwasannya untuk menumbuhkan imun dalam tubuh, seseorang harus bisa menjaga pola pikirnya.

Tentu, bertahan berjam-jam menggunakan APD bukan hal yang mudah dilakukan. Para tenaga medis tidak boleh makan, minum dan buang air. Karena, sekali APD dilepas, maka APD tersebut sudah tidak dapat digunakan lagi. Sedangkan, harga APD sangat mahal, sehingga mereka tidak bisa membuang-buang APD hanya karena ingin makan, minum dan buang air.

Para tenaga medis selaku garda terdepan rela melewati itu semua. Bagi mereka, keselamatan warga lebih utama. Mereka akan merasa bahagia, ketika akhirnya satu per satu warga yang terjangkit sembuh, dan bisa bertemu dengan keluarga mereka. Hal tersebut yang menjadi salah satu alasan mengapa tenaga medis rela bekerja keras dan mengorbankan dirinya sendiri.

Maka dari itu, semua tenaga medis berharap rakyat Indonesia bersedia menuruti kebijakan yang dikeluarkan pemerintah untuk melawan pandemi covid-19 ini. Meski harga yang ditukar sangat mahal, tentu sebanding dengan kesehatan seluruh warga yang mati-matian sedang diperjuangkan. Para tenaga medis berharap, bukan hanya mereka yang bekerja keras melawan virus corona, tetapi seluruh rakyat Indonesia, harus turun tangan berkorban demi pulihnya Bumi Pertiwi. Hanya dengan bersatunya seluruh warga Indonesia untuk melawan covid-19, perlahan-lahan Indonesia akan segera dapat bangkit dari keterpurukan ini. Oleh: Via Rizqi Dwiyanti

Tags: