Kualitas Pendidikan Di Daerah 3T (Terdepan, Tertinggal, Terluar)

Pendidikan sangat dibutuhkan di era digital 4.0, baik pendidikan formal maupun pendidikan karakter. Pendidikan formal dapat ditempuh di bangku sekolah dengan kewajiban belajar selama 12 tahun. Akan tetapi hanya kota-kota maju saja yang dapat memperoleh pendidikan formal dengan layak, seperti Jakarta, Surabaya, Bandung dan lain-lain. Berbeda dengan daerah-daerah pedalaman atau daerah yang disebut 3T (terdepan, tertinggal dan terluar) di Indonesia seperti Aceh Singkil, Kepulauan  Mentawai dan lain-lainnya, pendidikan formal yang ditempuh mereka jauh dari kata layak. Daerah 3T inilah yang sering mewarnai pendidikan di Indonesia karena kurang meratanya konsentrasi pemerintah dalam mengurus pendidikan disana.

Banyak sekali faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas pendidikan di daerah 3T, diantaranya    :

Kurangnya tenaga pengajar

Minimnya tenaga pengajar di daerah 3T menyebabkan kurang tersalurkannya ilmu untuk anak-anak yang tinggal di daerah tersebut, kurangnya pendistribusian ini menyebabkan tidak adanya keseimbangan antara masyarakat kota maju dengan daerah 3T.

Medan yang ditempuh peserta didik

Faktor selanjutnya adalah medan yang ditempuh oleh peserta didik yang tinggal di daerah 3T, karena fasilitas di daerah tersebut kurang memadai. Contohnya peserta didik yang tinggal di daerah 3T terkadang harus berjalan kaki jauh selama berjam-jam melewati jalan-jalan yang kurang baik untuk dilewati dan terkadang jalan tersebut membahayakan bagi peserta didik. Oleh karena itu masyarakat yang tinggal di daerah 3T tersebut terkadang memilih untuk tidak bersekolah daripada harus melewati jalan-jalan yang dinilai membahayakan. Selain itu, akibat  yang ditimbulkan dari medan yang ditempuh peserta didik kurang layak mengakibatkan konsentrasi peserta didik di daerah 3T tersebut terganggu, para peserta didik pasti merasa kelelahan setelah perjalanan jauh tersebut dan menimbulkan pembelajaran yang tidak efektif.

Fasilitas sekolah yang kurang layak

Daerah 3T  rata-rata memiliki fasilitas sekolah yang jauh dari kata layak jika dibandingkan dengan fasilitas sekolah masyarakat kota maju. Seperti genteng yang bocor saat terjadi hujan, ruangan yang pengap serta tidak ada pendingin ruangan, dan tembok yang terbuat dari kayu. Hal ini tentu akan mempengaruhi kualitas pendidikan peserta didik di daerah 3T karena akan menimbulkan pembelajaran yang tidak efektif.

Banyaknya masyarakat kurang mampu

Faktor ekonomi memang sangat mempengaruhi kualitas pendidikan di daerah 3T, masyarakat yang tinggal di daerah 3T lebih  memilih bekerja daripada mengenyam pendidikan. Hal ini akan mempengaruhi kualitas pendidikan di daerah 3T karena banyak masyarakat yang tidak mengenyam pendidikan di bangku sekolah yang nantinya akan berdampak pada pikiran yang kurang maju serta terciptanya pekerjaan yang kurang layak karena tidak adanya ijazah yang dipegang.

Untuk memberantas tertindasnya kualitas pendidikan yang kurang maju di daerah 3T maka pemerintah harus cepat dan tanggap, beberapa upaya sudah dilakukan pemerintah seperti pelaksaan program SM3T, program ini ditujukan untuk melakukan pemerataan tenaga pengajar di daerah 3T, para pengajar PPG akan dikirim ke daerah 3T dan melakukan pengabdian selama 1 tahun lamanya. Program ini tentunya sangat membantu daerah 3T. Selain itu pemerintah pun harus melakukan upaya-upaya lain seperti membangun kembali sekolah-sekolah yang kurang layak di daerah 3T sehingga tidak ada perbedaan kualitas pendidikan antara sekolah di kota maju dan daerah 3T. Selannjutnya pemerintah harus membenarkan fasilitas-fasilitas jalan menuju sekolah sehingga para peserta didik di daerah 3T bersemangat dalam menempuh pendidikan tanpa adanya beban setiap berangkat dan pulang sekolah, upaya melakukan pemerataan bantuan ekonomi pun juga perlu, hal ini dilakukan agar masyarakat 3T lebih mengutamakan sekolah daripada bekerja.

Apabila pendidikan di daerah 3T dan kota maju sudah setara maka kualotas pendidikan yang layak dan baik akan tercipta. Oleh Aulia Puspita

Tags: