Mencoba Menguraikan Membangun Kebijaksanaan Bangsa

Pembangunan karakter penting bagi bangsa Indonesia, karena untuk melahirkan generasi bangsa yang tangguh. Bung karno menegaskan bahwa bangsa ini harus di bangun dengan mendahulukan membangun karakter, karena inilah yang akan membuat Indonesia menjadi bangsa yang besar, maju dan jaya serta bermartabat. Karakter merupakan aspek utama dalam membentuk kualitas seseorang untuk dapat menjadi insan yang mulia, apabila kualitas diri seseorang baik dan senantiasa ditumbuh kembangkan, maka seseorang tersebut dapat menjadi manusia yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar dan kemajuan bangsa. 

Pendidikan disadari dan dimaknai sebagai wahana berlangsungnya pembelajaran, dimana terjadi proses belajar dan mengajar yang bertujuan mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan karakter dari setiap peserta didik. Pendidikan pada filosifinya mempunyai tiga fungsi : memberikan sosialisasi pada anak-anak muda atau peserta didik tentang esensi nilai-nilai budaya atau norma-norma peserta didik tidak hanya mngenal baca, tulis dan hitung tetapi memiliki keterampilan yang diperlukan dalam dunia kerja, memberikan arahan kepada para anak-anak muda atau peserta didik bagaimana dapat menempatkan dirinya secara tepat dan sepadan didalam  masyarakat. Berdasarkan ketiga fungsi filosofi pendidikan tersebut tergambar secara jelas bagaimana pentingnya peran karakter dalam pendidikan. Karakter bangsa yang sudah di upayakan dengan berbagai bentuk hingga saat ini, belum terlaksana dengan optimal.

Hal ini tercermin dari kesenjangan sosial ekonomi politik yang masih besar, kerusakan lingkungan yang terjadi di berbagai negeri dan masih terjadinya ketidak adilan hukum, pergaulan bebas dan pornografi yang terjadi di kalangan remaja, kekerasan dan kerusuhan, korupsi yang akhirnya merambah pada semua sektor kehidupan masyarakat. Bisa kita lihat saat ini banyak dijumpai tindakan anarkis, konflik sosial, penuturan bahasa yang buruk dan tidak santun serta ketidak taatan berlalu lintas.

Masyarakat Indonesia yang terbiasa santun dalam berperilaku, melaksanakan musyawarah mufakat dalam menyelesaikan masalah, mempunyai kearifan lokal yang kaya dengan pluralitas, sertaber sikap toleran dan gotong royong mulai cenderung berubah menjadi saling mengalahkan dan berperilaku tidak jujur. Semua itu terjadi disebabkan oleh ketidak pastian jati diri dan karakter bangsa yang bermuara pada disorientasi dan belum dihayatinya nilai-nilai Pancasila sebagai filosofi dan ideologi bangsa, keterbatasan perangkat kebijakan terpadu dalam mewujudkan nilai-nilai esensi Pancasila, bergesernya nilai etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, memudarnya kesadaran terhadap nilai-nilai budaya bangsa dan ancaman disintegrasi bangsa, serta melemahnya kemandirian bangsa. Memperhatikan situasi dan kondisi karakter bangsa yang memprihatinkan tersebut, pemerintah mengambil inisiatif untuk memprioritaskan pembangunan karakter bangsa.

Pembangunan karakter bangsa seharusnya menjadi arus utama pembangunan nasional. Artinya, setiap upaya pembangunan harus selalu dipikirkan keterkaitan dan dampaknya terhadap pengembangan karakter. Hal itu tercermin dari misi pembangunan nasional yang memposisikan pendidikan karakter sebagai misi pertama dari delapan misi guna mewujudkan visi pembangunan nasional, sebagaimana tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 – 2025 (Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2007), yaitu terwujudnya karakter bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, dan bermoral berdasarkan Pancasila, yang dicirikan dengan watak dan perilaku manusia dan masyarakat Indonesia yang beragam, beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi luhur, bertoleran, bergotong royong, berjiwa patriotik, berkembang dinamis, dan berorientasikan kepada IPTEK. Karakter merupakan hal sangat esensial dalam berbangsa dan bernegara, hilangnya karakter akan menyebabkan hilangnya generasi penerus bangsa maka dapat dikatakan bahwa karakter berperan sebagai “kemudi” dan kekuatan sehingga bangsa ini tidak terombang-ambing.

Karakter tidak datang dengan sendirinya, tetapi harus dibangun dan dibentuk untuk menjadi bangsa yang bermartabat. Selanjutnya, pembangunan karakter bangsa akan mengerucut pada tiga tataran besar, yaitu menumbuhkan dan memperkuat jati diri bangsa, menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), membentuk manusia dan masyarakat Indonesia yang berakhlak mulia dan bangsa yang bermartabat. Dalam rangka meningkatkan pembangunan karakter yang berhasil guna, diperlukan upaya-upaya nyata antara lain penyusunan desain pembangunan karakter secara nasional, penyusunan rencana aksi nasional secara terpadu,pencanangan pembangunan karakter bangsa oleh Presiden RepublikIndonesia sebagai tonggak dimulainya revitalisasi pembangunan karakter bangsa, serta implementasi pembangunan karakter oleh semua komponenbangsa dan aktualisasi nilai-nilai karakter secara nyata dalam kehidupanberbangsa dan bernegara.

Ada tiga fungsi pembangunan karakter bangsa :

  1. Fungsi Pembentukan dan Pengembangan Potensi Pembangunan karakter bangsa yaitu membentuk dan mengembangkan potensi manusia atau warga negara Indonesia agar berpikiran baik, berhati baik, dan berperilaku baik sesuai dengan falsafah hidup Pancasila.
  2. Fungsi Perbaikan dan Penguatan Pembangunan karakter bangsa yaitu memperbaiki dan memperkuat peran keluarga, satuan pendidikan, masyarakat, dan pemerintah untuk ikut berpartisipasi dan bertanggung jawab dalam pengembangan potensi warga negara dan pembangunan bangsa menuju bangsa yang maju, mandiri, dan sejahtera.
  3. Fungsi Penyaring Pembangunan karakter bangsa yaitu memilah budaya bangsa
    sendiri dan menyaring budaya bangsa lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa yang bermartabat

Sejarah memberikan pelajaran yang amat berharga, betapa perbedaan, pertentangan, dan pertukaran pikiran itulah sesungguhnya yang mengantarkan kita ke gerbang kemerdekaan. Melalui pertukaran pikiran itu kita juga bisa mencermati, betapa kuat keinginan para Pemimpin Bangsa itu untuk bersatu di dalam satu identitas kebangsaan, sehingga perbedaan-perbedaan tidak menjadi persoalan bagi mereka. Oleh karena itu pendidikan karakter harus digali dari landasan Pancasila dan landasan konstitusional UUD 1945. Tantangan saat ini dan ke depan bagaimana kita mampu menempatkan pendidikan karakter sebagai sesuatu kekuatan bangsa. Oleh karena itu kebijakan dan implementasi pendidikan yang berbasis karakter melalui kearifan lokal dalam pembelajaran sastra di sekolah menjadi sangat penting dan strategis dalam rangka membangun bangsa ini. Di kampus, Mahasiswa mendapat materi sastra. Pengajar dapat memilih materi ajar sastra yang mengandung kearifan lokal untuk Mahasiswa. Kearifan lokal dalam materi sastra dapat berfungsi sebagai salah satu sumber nilai-nilai yang luhur bagi maksud tersebut.

Dengan kata lain, kearifan lokal bisa menjadi sumur yang tak kunjung kering di musim kemarau panjang, nilai-nilai kebijaksanaan bagi perwujudan cita-cita bangsa yang seimbang, baik secara lahiriah maupun batiniah. Di samping berfungsi sebagai penyaring bagi nilai-nilai berasal dari luar, kearifan lokal dapat juga digunakan untuk meredam gejolak-gejolak yang bersifat intern. Misalnya konflik masyarakat yang sesuku atau antar suku. Upaya promosi nilai-nilai luhur dalam kebudayaan tertentu secara formal akan menimbulkan apresiasi dan rasa bangga terhadap nilai-nilai tersebut. Dengan demikian akan muncul semangat yang kuat untuk menerapkannya dalam kehidupan bermasyarakat. Deskripsi ini dimaksudkan untuk mencoba menguraikan bagaimana membangun pendidikan karakter di sekolah melalui kearifan lokal dalam pembelajaran sastra.

Tags: