Dirumah Aja? Jangan Diam Aja!

Pada Maret 2020, dunia digemparkan dengan munculnya Virus Corona, atau yang juga dikenal dengan Corona Virus Disease-19 (COVID-19). Virus mematikan yang dikabarkan berasal dari China ini dengan cepat menyebar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia. Sejak muncul wabah virus ini, muncul pula berbagai dampak sebagai akibat dari munculnya si virus kecil ini. Salah satu diantaranya adalah dampak di bidang pendidikan.

Pemerintah Pusat hingga Pemerintah Daerah menetapkan kebijakan untuk memberhentikan sementara seluruh lembaga pendidikan. Mulai dari jenjang yang terendah sampai tertinggi, yakni TK, hingga Perguruan Tinggi, semuanya diwajibkan untuk meniadakan kegiatan belajar atau perkuliahan untuk sementara waktu. Tindakan ini dilakukan sebagai upaya untuk memperkecil peluang meluasnya penularan Virus Corona (COVID-19). Saat ini hampir seluruh kampus negeri (PTN) atau kampus swasta (PTS) mulai menerapkan kebijakan kegiatan belajar mengajar secara daring (online) dengan memanfaatkan media pembelajaran daring.

Pada pelajar (siswa atau mahasiswa) takut sekaligus senang dengan kemunculan COVID-19 ini. Mereka takut sebab kenyataannya virus ini sangat mematikan dan cepat menular. Kemana-mana membawa cairan pembersih tangan dan memakai masker. Dan yang membuat mereka senang adalah dengan adanya himbauan pemerintah untuk meniadakan kegiatan perkuliahan sementara, itu artinya kuliah akan diliburkan untuk sementara waktu. Namanya juga pelajar, terkadang dapat banyak tugas, mereka pun merasa terbebankan dengan itu. Awalnya, mereka senang ketika kegiatan pembelajaran diliburkan dan digantikan dengan kuliah daring. Tapi lama kelamaaan, mereka mulai bosan. Perkiraan mereka bahwa liburan itu artinya bebas.

Kuliah daring hanya presentasi secara daring, namun nyatanya tidak. Liburan kali ini bukan benar-benar liburan. Bukan sepenuhnya liburan. Liburan kali ini gagal untuk bebas. Dosen rupanya masih memberikan beberapa tugas, bahkan hingga seabrek. Liburan kali ini juga tidak tau sampai kapan akan berakhir. Mereka juga merasa, liburan membuat mereka menjadi “miskin”. Maksudnya adalah ketika mereka masuk seperti biasa, maka akan diberikan uang saku oleh orangtua. Kala liburan, mereka tidak masuk atau tidak pergi ke sekolah/kampus, dan tidak mendapatkan uang saku. Uang saku berkurang, maka tidak ada pemasukan. Jika tak ada pemasukan, maka tidak akan bisa membeli kuota internet. Melihat keadaan ini, beberapa perusahaan penyedia layanan internet kemudian memberikan fasilitas internet gratis di beberapa kampus di Indonesia. Namun penggunaannya hanya ditujukan pada kegiatan daring yang menunjang perkuliahan. Seperti untuk mengakses kelas daring, atau aplikasi kumpulan soal.

Kegiatan pembelajaran atau perkuliahan daring biasanya hanya berlangsung sekitar 1-2 jam. Paling lama pun biasanya hingga 3 jam. Itu semua tergantung dari dosen dan tugas-tugasnya. Dan, yang menjadi pertanyaan sekaligus pokok bahasan disini adalah, apa yang dilakukan mereka ketika pembelajaran atau perkuliahan daring tersebut sudah selesai?. Apa hanya sekedar berdiam diri saja? Apakah setelah selesai pembelajaran hanya rebahan sepanjang hari?. Berdasarkan fakta yang ada, beberapa pelajar terkadang menganggur di saat-saat seperti ini.

Tidak tau apa yang selanjutnya harus dilakukan. Kalau bahasa kerennya anak sekarang adalah gabut. Menurut saya, gabutitu adalah luka. Luka dalam kesenggangan. Mengapa saya artikan itu sebagai luka? Karena yang saya rasakan ketika saya menganggur dan tak tau apa mau berbuat apa lagi, badan terasa kaku dan sakit, karena kebanyakan diam dan tidur, jika kita hanya menjalani hari “libur” dengan kegiatan yang itu-itu saja, maka akan membosankan dan itu juga bisa mempengaruhi kesehatan jiwa. Luka itu akan semakin dalam dan menyakitkan jika seseorang yang menganggur terjerumus kepada hal-hal yang besifat negatif.

Setiap luka itu ada penyembuhnya. Mengisi waktu luang dengan hal yang bermanfaat inilah yang menjadi penyembuhnya. Penyakit menganggur ini akan hilang jika Anda sibuk. Apa yang bisa dilakukan untuk mengisi keluangan disaat-saat pembatasan sosial seperti ini? Banyak cara ala para pelajar untuk menmberantas penyakit ini. Seperti contohnya teman-teman saya, ada yang mengisi waktu luang dengan memasak. Nah, bagi mereka yang hobinya memasak, setiap hari saya perhatikan pembaruan di status WA-nya isinya masak, makan, masak lagi. Ada yang mengisi waktu luang dengan berolahraga. Mereka melakukan olahraga di pagi atau malam hari. Ada yang mengisi waktu luang dengan membantu orang tua, misal mencuci, atau membersihkan rumah. Bagi mereka-mereka yang punya jiwa kewirausahaan, di momen seperti ini mereka manfaatkan untuk berjualan berbagai produk.

Namun yang sering saya temukan adalah mereka-mereka yang meracik cairan pembersih tangan sendiri, kemudian menjualnya. Mereka yang rumahnya dekat dengan sungai ada yang mengisi waktu luang dengan memancing ikan. Dengan memancing, bisa meminimalisir pengeluaran. Karena tidak perlu mengeluarkan biaya untuk membeli lauk. Ada yang orang tipenya cepat bosan, terkadang mengisi waktu luang dengan bikin video Tiktok. Kalau saya, mengisi waktu luang dengan membaca, menulis, atau menggambar desain grafis.

Dan sebaik-baik kegiatan pengisi waktu luang adalah beribadah dan memperbanyak do’a. Karena dengan melakukan ibadah dapat menghindarkan kita dari melakukan hal-hal yang negatif, menambah pahala, menenangkan hati, dan memperoleh ridho Allah swt. Apalagi disaat ada wabah seperti ini, kita harus lebih banyak memohon pertolongan kepada-Nya. Tak lupa juga diselingi dengan usaha mencegah penyebaran Virus Corona dengan lebih sering mencuci tangan, memakai masker ketika keluar rumah, istirahat yang cukup, dan menjaga jarak.

Setiap orang punya cara untuk mengisi waktu luang seperti masa-masa pembatasan sosial seperti ini. Bahkan ada juga yang bisa memanfaatkan momen seperti ini sebagai peluang untuk mencari pendapatan. Usahakan untuk tidak berdiam diri saja atau melakukan hal yang itu-itu saja. Carilah kesibukan. Supaya tidak terjerumus kepada hal-hal yang negatif. By Muhammad Falih Winardi

Tags: