Manajemen Pembelajaran Ditengah Pandemi Covid-19

Virus corona merupakan virus jenis apa? penularan melalui apa?  Corona virus merupakan keluarga besar virus yang menyebabkan penyakit ringan sampai berat, seperti common cold atau pilek dan penyakit yang serius seperti MERS dan SARS. Penularannya dari hewan ke manusia (zoonosis) dan penularan dari manusia ke manusia sangat terbatas. Masih belum jelas bagaimana penularannya, diduga dari hewan ke manusia karena kasus-kasus yang muncul di Wuhan semuanya mempunyai riwayat kontak dengan pasar hewan Huanan.

Dalam kurun waktu beberapa bulan, virus ini telah menginveksi lebih dari dua ratus Negara di dunia dan salah satunya adalah Indonesia. Secara langsung kejadian ini mempengaruhi kehidupan manusia, baik dari bidang ekonomi, sosial, hingga pendidikan. Covid mengubah seluruh tatanan hidup manusia. Tidak ada yang menduga semua ini dan tidak ada yang benar-benar siap menghadapi kondisi ini.

Dikutip dari Prof Rheinhald Kasali muncul enam kecerdasan baru, yang pertama Technological Intelligence yaitu kecerdasan bagaimana memanfaatkan,mengikuti dan menggunakan teknologi nah oleh karena itu anak-anak muda mulai dari sekarang harus dilatih agar terbiasa menggunakan teknologi. Yang kedua yaitu Contextual Intelligence, karena bekerjanya senantiasa di belakang teknologi maka banyak orang tidak paham konteks di mana ia berada dan harus dilatih dalam kehidupan riil atau nyata. Selanjutnya yang ketiga yaitu Social and Emotional Intelligence, ini sangat diperlukan karena banyak anak anak sejak masa kecil hanya aktif di depan teknologi dan tidak memiliki kecerdasan untuk merespon dalam menghadapi orang orang di sekitarnya dengan beragam perilaku.

Keempat adalah Genercative Intelligence, yang berarti kecerdasan untuk menangkap kesempatan atau peluang karena betapa banyaknya kesempatan yang muncul di dunia nyata tetapi banyak yang tidak bisa menangkap kesempatan ini. Dan yang ke lima adalah Explorative Transformational Intelligence, yang merupakan kecerdasan untuk mengeksplore berbagai kesempatan tadi dan melakukan tranformasi, terutama untuk anda yang berada di dunia lama. Dan yang terakhir ke enam yaitu Moral Intelligence, yang merupakan kecerdasan untuk bekerja menggunakan nilai-nilai yang berlaku secara universal. Sebab pada dasarnya untuk mencapai puncak yang tertinggi apakah itu sebagai pegawai, sebagai pemimpin perusahaan yang diperlukan semata-mata pengetahuan saja. Dan anda boleh sangat cerdas tetapi kuncinya apakah anda dipercaya atau tidak. Maka terdapat nilai nilai yang disebut sebagai Integritas. Integritas sendiri merupakan basis karakter yang membuat anda dapat dipercaya atau tidak, maka hanya mereka yang siap yang mampu mendapatkan kesempatan ini.

Dalam dunia pendidikan khususnya di Indonesia, telah terjadi fenomena yang sangat menarik, dimana siswa bahkan mahasiswa diwajibkan untuk belajar di rumah. Segala jenis kegiatan pendidikan yang berlokasi di sekolah semua dialihkan di rumah masing-masing. Hal tersebut memaksa pelaku pendidikan untuk beradaptasi demi tercapainya tujuan dari pendidikan itu sendiri. Dalam kasus ini, yang menjadi sorotan adalah pendidik itu sendiri. Dimana seorang pendidik dituntut untuk bisa memberikan pendidikan yang selayaknya berada di sekolah meskipun dalam siswa berada di rumah masing. Mejemen dan strategi yang baik dari seorang pendidik dalam menangani kejadian ini. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa tugas seorang pendidik akan lebih sulit dan rumit. 

Pendapat dari Prof Rheinhald Kasali dapat dijadikan salah satu cara untuk meningkatkan mutu dari pendidikan yang berubah pada saat ini. Dimulai dari teknologi yang pada mulanya tidak setiap pelaku pendidikan seperti guru atau siswa dapat memanfaatkannya dengan maksimal, kini dipaksa untuk bisa memanfaatkannya. Dalam hal ini diperlukan sinergi dari pendidik, siswa atau pun orang tua demi tercapainya tujuan dari pendidikan itu sendiri. Selain teknologi, adanya pengaruh sosial emosional dari pelaku pendidikan dapat menjadikan jalannya  kegiatan belajar mengajar menjadi terhambat. Keadaan siswa ataupun guru yang terus menerus berada dalam lingkup daring membuat sosial emosional dari semua pihak akan berubah. Dapat dikatakan bahwa kejadian ini membuat manusia antisosial.Kemampuan untuk menangkap peluang sekecil apapun harus dimiliki oleh seorang pendidik. Pendidik harus rela untuk mengajar diluar batas jam mengejar dan tidak dibatasi tempat untuk melakukan kegiatan belajar mengajar.

Jika dikaitkan dengan pendidikan anak usia dini maka akan muncul masalah baru. Dimana yang menjadi pendidik bukan guru yang mengajar di sekolah, melainkan wali murid. Kita dapat mengetahui bahwa pada usia dini focus belajar mereka adalah bermain dan orang tua adalah sosok pertama dan utama untuk melakukan kegiatan belajar mengajar. Tugas dari seorang guru pun menjadi berubah.

Dr. Toenlioe dalam bukunya yang berjudul “Filsafat Pendidikan” bahwa keluarga adalah sumber pendidikan utama. Dari kutapan tersebut kita dapat menyimpulkan bahwa seorang guru merupakan fasilitator dalam pendidikan. Oleh karena itu perlu adanya hubungan yang baik antara guru dan wali murid sehingga tujuan dapat tercapai.

Hubungan tersebut berupa keaktifan dan inisiasi dari seorang guru kepada wali murid. Seperti pemberian tugas kepada orang tua untuk murid. Namun tidak semua orang tua dapat kooperatif dan mau untuk mendidik anaknya dirumah. Pendekatan secara personal dapat menyelesaikan masalah tersebut. Pemberian materi kepada orang tua harus benar-benar dilakukan dengan baik sehingga pemberian materi kepada anak akan maksimal.

Pengadministrasian pendidikan harus dilakukan dengan semaksimal mungkin dengan menggunakan peluang sekecil mungkin. Guru dituntut untuk siap menghadapi segala kemungkinan yang dapat terjadi dalam situasi pandemic. Pendidikan harus tetap terlaksana, tujuan pendidikan harus tetap tercapai tanpa harus mengurangi hak siswa itu sendiri. Dhea Millenia

Tags: