Virus Corona Menggerus Rasa Manusiawi

Hai sahabat millennial, ngga kerasa ya waktu bergulir begitu cepat, hari berganti hari menumpuk menjadi bulan, sama halnya kehidupan manusia, sama juga dengan peradaban bangsa yang dilihat lihat semakin kesini perebutan kekuasaan, problematika masyarakat, dan permasalahan social terus muncul ke permukaan dunia, terkadang mengakibatkan bumi merasa tersakiti karena terus – terusan dieksploitasi, atas dasar keserakahan diri sendiri.

Hai sahabat millennial, ngga kerasa ya waktu bergulir begitu cepat, hari berganti hari menumpuk menjadi bulan, sama halnya kehidupan manusia, sama juga dengan peradaban bangsa yang dilihat lihat semakin kesini perebutan kekuasaan, problematika masyarakat, dan permasalahan social terus muncul ke permukaan dunia, terkadang mengakibatkan bumi merasa tersakiti karena terus – terusan dieksploitasi, atas dasar keserakahan diri sendiri.

Kini dunia terguncang, panik menghadapi kemunculan spesies baru yang menyerang manusia, menyakiti bahkan sampai tahap kematian, makhluk kecil yang kasat namun kesit, yups namanya adalah coronavirus, so pasti sahabat millennial tak asing dengan sebutan makhluk ini, karena pemberitaan mengenai virus corona sendiri telah banyak diperbincangkan masyarakat, dari masyarakat tingkat bawah sampai masyarakat elite, banyak juga di muat pada situs – situs dunia maya, banyak sekali di cetak di media online maupun offline, “Jakarta, saat ini Jokowi secara tegas memberlakukan kebijakan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar)”, “korban virus corona tembus 5 juta di Indonesia”, “ojek online dibatasi pengoprasiannya”, bla bla blabegitulah kiranya pemberitaan yang sering disiarkan oleh berbagai presenter masih banyak lagi pemberitaan.

Sahabat millennial, ada yang masih bingung, apa aitu virus corona? Dari yang saya baca pada media sosial dan pemahaman saya lewat diskusi dengan teman – teman sekampus bahwa virus corona adalah kelompok virus yang menyerang manusia dan hewan, khusunya pada pernapasan, yang dimana virus ini masih sekeluarga dengan virus SARS dan MERS, kalau bisa dikatakan mereka masih saudaraan ya sahabat millennial, meskipun berada di kelompok yang sama ketiga virus ini memiliki perbedaan, baik dari segi penyerangan, masa bermutasi dan inkubasi virus itu sendiri. Dikarenakan perkembangannya yang sangat cepat, seakan akan virus corona ini menjadi sebuah momok yang menakutkan bagi seluruh umat manusia, menggelayuti di siang dan malam, di semua tempat, kalua kata gen FM, salah satu channel radio, bikin deg deg serr pokoknya.

Tau nggak sih sahabat millennial, merupakan suatu hal yang pasti  bahwa setiap peristiwa diikuti dengan sebab dan akibat, begitu pun pandemi corona ini namun tersimpan pesan tersirat, disisi lain tak dapat terelakkan fakta mengenai virus corona sendiri masih simpang siur tidak ada kejelasan kepastian, seperti dari mana asal usul virus corona, siapa kali pertama yang terjangkit sehingga begitu cepat penyebarannya, apa sebab musabab munculnya virus corona, nah hal – hal itu masih terombang ambing dengan seruan berbagai media, entah hoax atau fakta, sehingga timbullah teori konspirasi, perang bioteknologi, dan lain sebagainya. Propaganda – propaganda itulah yang terkadang dapat menyerang psikis masyarakat, memang bukan serangan secara dhohir melainkan secara bathin, tanpa disadari pun mempengaruhi terhadap tanggapan – tanggapan rakyat, diantara tanggapan masyarakat mengenai adanya virus ini  menurutku memiliki banyak warna, ada yang merasa ketakutan berlebih sehingga terus mengurung diri, ada yang merasa waspada, ada yang merasa biasa saja, menganggap corona bukanlah masalah yang besar, ada yang hanya mengaggap sebagai gurauan, di jadikan candaan video – video lucu dan tiktok yang saat ini diviralkan kaum +62, bahkan ada yang menyepelekannya, begitulah kita adanya.

Terlepas terkait itu semua apakah kalian tau begitu banyak akibat yang ditimbulkan akibat hadirnya serangan wabah corona ini, misalnya menjadikan angka kematian melonjak naik, memperlambat laju dunia baik pada dimensi ekonomi, politik, Pendidikan, dan sosial, juga banyak masyarakat yang terpaksa harus berhenti bekerja, sector perekonomian negara yang anjlok, banyak pengangguran, kemiskinankian meronta ronta, para dinas kesehatan pontang panting menangani pasien dan lain sebagainya. Memang coronavirus ini bukanlah wabah yang menyerang pada satu tempat, seperti tsunami yang menimpa daerah pesisir pantai, virus ini mampu menyerang siapa pun, BOOMM,,,, bagaikan disambar petir, kenyataan tersebut menggetarkan manusia,  juga mengikis rasa kemanusiaan, Ketika rasa kemanusiaan diperlukan sebagai penopang, tak sedikit manusia yang hanya mementingkan ego sendiri, lalu siapa yang mau jadi relawan, siapa yang mau menolong sesama jika semua menepi? Coba lihat tak sedikit orang – orang yang mementingkan diri sendiri, seakan tuli terhadap peduli, mereka pu mulai memperkaya untuk kesenengan sendiri, lewat perbuatan keji dan tak manusiawi. Ketika populasi terancam sebab coronavirus ini, harga masker yang semula seribu berganti berates ratus ribu, harga sabun yang lumrahnya murah saat ini bisa didapat dengan merogoh uang yang cukup besar, belum lagi kelompok penipu – penipu yang menjualbelikan atas dasar kedustaan, seperti yang terjadi di daerah Batu Lama ada sekelompok orang yang menipu customernya dengan mengganti masker yang telah dijual dengan batu bata, padahal masker itu akan disumbang pada yang membutuhkan belum lagi uang yang kandas tak tersisa, yang lebih mengejutkan ketika salah satu orang pingsan di jalan tak ada yang mampu menolong, mereka malah berlomba – lomba lari, berpura pura tak melihat, sungguh miris bukan? bisa – bisanya menyingkirkan peduli di saat seperti ini, dimana rasa kemanusiaan kalian?.

Kini, saat COVID 19 menghantui kalian, bagaikan malaikat izrail yang akan menawarkan maut, apakah kalian masih pantas untuk melepas rasa kemanusiaan? Apakah kalian sudah pantas berdalih dan mencaci pada kesemuan? Ibarat monster mengapa kalian lebih melarikan diri sendiri kemudian mati secara perlahan karena terbunuh bukan malah Bersatu, bahu membahu untuk melawan sang monster agar tetap hidup, Ketika seseorang terkena COVID 19 sudah seharusnya kita membantu dan mendoakan, memberikan sikap optimis bahwa dunia akan baik – baik saja, bukan sebaliknya mencaci dan menjauhi, apa salahnya mereka yang terkena COVID 19? Toh itu juga bukan kemauan mereka, saya sendiri pun terkejut saat beberapa berita menyuguhkan mengenai masyarakat yang menolak jazad pasien corona untuk dikebumikan di daerah sekitar, sampai – sampai para awak medis di lempari batu bagaikan binatang, sampai mereka harus letih berkeliling mencari tempat persemayaman terakhir, apakah itu Tindakan manusiawi? Dimana belas asih kalian? Sungguh itu adalah tindakkan yang menjijikkan.

Oleh karena itu kita sebagai pemuda penggerak perubahan bangsa, pemuda berintelektual, generasi millennial jangan sampai terseret arus kejahiliyaan, sok atuh bahu membahu menumbuhkan rasa manusiawi, mulai dari hal yang terkecil mulai dari diri sendiri, barulah satu persatu dari kalian merangkul masyarakat untuk merajut kepedulian antar sesame, bukankah kepedulian sesame termasuk bentuk kebaikan, kemanusiaan perlu di rajut Kembali, diresapi maknanya di setiap individu sendiri, bahkan bukankah hal ini telah termaktub dalam batang tubuh UUD 1945 juga Pancasila di sila kedua “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab” begitulah bunyinya, jadi sudah seharusnya sila ini menjiwai pada seluruh warga Indonesia dan mandarah daging. Baiklah saat ini cobalah turunkan ego kita, manage Kembali hati kita, buka pikiran kita, marilah saling membantu berjuang bersama melawan COVID 19, khususnya pemuda bangsa, saatnya unjuk bukti nyata membantu negri, jadilah garda terdepan untuk sumbangsih Indonesia, jika tak memiliki materi, bisa diganti dengan energi, rangkul kembali rasa kemanusiaan tanpa gejolak perbedaan.

Pesan Tersirat COVID 19

Sahabat Millenial, sebenarnya pandemic virus corona yang muncul di bumi ini ingin menyampaikan pada kita para manusia, akan pesan tersirat namun kaya makna, virus yang kali pertama menyebar di kota Wuhan China ini tak dapat dipungkiri banyak menimbulkan akibat yang notbanenya adalah sebuah kekacauan tapi dibalik itu semua terdapat siratan tersurat agar manusia mampu mengubah pribadi menjadi lebih baik dan tidak selalu menyiksa alam.

Kalian tau nggak sahabat millennial, kebijakan sosial distancing mengharuskan kita selalu berada dirumah, berkumpul bersama keluarga dan melakukan aktivitas yang tertunda karena tuntutan pekerjaan, kalau biasanya ada acara perkumpulan, arisan atau apa pun itu sebelum adanya virus corona, acara – acara seprti ini mungkin hanya sebatas keakuan belaka, hanya untukmenjaga image dan agar terlihat baik namun ketika sosial distancing diberlakukan perkumpulan keluarga terasa alami, indah dan tentunya sangat baik untuk keharminisasian keluarga.

Disamping itu, tanpa sadar virus ini menyadarkan manusia untuk menerapkan kehidupan islam, ajaran tentang kebersihan dan kesehatan, Rasul pun bersabda  ألنظافة من الإيمان Kebersihan adalah Sebagian dari iman, jadi saat ini pun seluruh manusia mengikuti ajaran kehidupan yang bersih dan sehat, meskipun atas dasar COVID 19, mereka mulai   selalu mencuci tangan dengan sabun setelah keluar rumah, berpergian dengan menggunakan masker, berolahraga setiap hari, makan makanan yang sehat, halal dan bergizi, sudah cukup buat pelajaran bagi kita makanan yang tidak halal akan menimbulkan kemadhorotan, seperti simpang siur berita yang mengabarkan bahwa kelelawar dan ular merupakan asal penularan dari virus corona.

Bagi bumi pun kedatangan virus corona memperbaiki  kualitas udara, kadar karbondioksida berkurang karena taka da lagi kendaraan lalu Lalang dengan asap yang menyesakkan perkotaan, mesin – mesin pabrik – pabrik berhenti mengeluarkan limbah yang tak ramah lingkungan, aktivitas manusia pun berkurang, mereka lebih mendekatkan diri pada sang penguasa Allah SWT untuk berdoa dan bersujud memohon perlindungan. Untuk itu selalu ada pelajaran disetiap peristiwa, sebagai sesama manusia jangan lah kita memandang wabah ini hanya sebagai suatu cobaan namun juga keberkahan. Di balik itu semua, para kyai, habaib, pesantren – pesantren slalu menggaungkan bahwa setiap masalah selalu ada jalannya, seakan mereka membisikkan  لا تخف ولا تخزن ان الله معنا artiinya janganlah takut, jangan bersedih karena sesungguhnya Allah bersama kita, tetap teguhkan hati, rajut rasa manusiawi, dan ciptakan harmonisasi, bukankah sudah jelas hari ini bunkti nyata tak ada yang pantas dipuja selain ilahi robbi yang tak pernah tertandingi kuasanya, meskipun selalu saja banyak yang menyombongkan diri, Abdullah Wong berkata pada salah satu tulisannya ada satu keniscayaan yang sangat sulit terbantahkan, mudah dielak, bahwa setiap dari kita pasti mengalami kekalahan. Arisa Savinatun Najah

Tags: