Syukuri, Jangan Iri

Iri hati, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia bermakna kurang senang melihat kelebihan orang lain (beruntung dan sebagainya); cemburu; sirik; dengki. Iri atau dengki adalah maksiat hati. Jika kita dengki, dapat menghambat datangnya Rezeki. Contoh sederhana saja, tetangga kita ada yang membeli motor baru, lalu kita dengki, sirik atau sebagainya. Hati kita tidak tenang melihat kebahagiaan orang lain, kita tidak bahagia karena kita tak bisa membeli motor baru sama seperti tetangga kita. Akhirnya, kita menjadi sakit hati dan selalu memikirkan motor baru milik tetangga kita itu. Dan itu pun akhirnya mengganggu pikiran dan jiwa kita, tanpa kita sadari kita memikirkan itu terus hingga sakit. Nah, pada saat sakit inilah rezeki sehat kita terhalang. rezeki kan tidak harus berupa harta. Kesehatan dan ketenangan hati itu kan juga rezeki?

Menurut saya, kalau ada kejadian serupa diatas, menjadi sosok yang bersimpati adalah pilihan saya. Tak lupa juga diselingi dengan bersyukur kepada Allah SWT. Jadilah tetangga yang baik, dengan ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh orang lain. Dapat diwujudkan dengan mengucap syukur “Alhamdulillah, tetangga saya bisa beli motor baru, semoga saja saya habis ini bisa beli, amiiin.”. Daripada terus bersungut-sungut, bahkan yang lebih parah lagi sampai berprasangka buruk (su’uzon) kepada tetangga kita/orang lain. Berpikiran bahwa tetangga kita dapat pesugihan lah, uang haram lah, halahhh, ngurangin pahala aja. Rugi bila kita dengki sampai berprasangka buruk pada orang lain. Sudah hati tidak tenang, pahala kita jadi berkurang. Masyaallah.

Sebelumnya sudah saya sebutkan, bahwa saat melihat orang lain mendapat kebahagiaan, kita harus bersimpati, namun tak lupa dibarengi dengan ungkapan syukur pada Allah. Syukur dalam pengertian KBBI adalah rasa terimakasih kepada Allah. Syukur adalah pernyataan terima kasih secara tulus dalam hati yang direalisasikan di dalam amal perbuatan. Ketika muncul sedikit saja sifat iri, berpikirlah bahwa Allah telah menjamin rezeki untuk masing-masing makhluk-Nya. Bersyukurlah atas apa yang telah Allah berikan. Tetangga kita mungkin saat itu bisa beli motor baru. Tapi siapa sangka, tetangga kita tengah terbelit hutang kala itu. Kita memang tidak beli motor baru, namun kita tidak punya hutang. Jika kita tidak punya hutang, maka jiwa kita tenang, keuangan tak berkurang. Nah, itulah rezeki kita.

Baca Juga :  Pentingnya Pendidikan bagi seorang wanita

Kasus lain, yakni pengalaman saya, agak sedikit curhat juga sih. Hehehe. Begini ceritanya. Saya menyukai teman saya, namanya Safira. Orangnya cantik, lucu, dan cerewet. Walau cerewet dia baik. Awalnya saya kira dia belum punya pacar, eh rupanya dugaan tak sesuai kenyataan. Ternyata dia sudah mempunyai seorang pacar, namanya Rayhan. Mereka terkadang mengunggah foto mereka berdua di sosial media. Saya pernah dongkol (jengkel) dan sempat berpikir, enak banget ya jadi Rayhan, bisa punya pacar secantik Safira. Tapi tak selamanya juga saya berdongkol hati. Toh ibu bapak saya pernah bilang, “Nak, pacaran itu tiada untungnya.” Begitu halnya dengan yang dikatakan para ustadz dan ustadzah, bahwa berpacaran hanya akan membawa mudharat. Saya hanya bisa berpikir, bahwa itu sudah rezekinya Rayhan. Saya memang tak dapat rezeki berupa bisa memiliki Safira, tapi rezeki saya adalah saya bebas berteman dengan siapa saja, uang tidak cepat habis buat jalan-jalan, dan pikiran tidak terbagi untuk pacar, ya karena saya tidak punya pacar. Hehe. Ngapain iri sama si Rayhan. Gak perlu cemburu juga, toh Safira juga bukan istri sah saya. Kasihan Rayhan, disamping ia memiliki pacar yang cakep, tapi disi lain, uang, waktu, dan tenaganya terkuras habis untuk orang yang belum halal baginya.

Sejak saya mengerti hal itu, saya selalu membiasakan diri untuk meningkatkankan rasa syukur, berbahagia, dan tidak dengki atas kebahagiaan orang lain. Itulah yang menjadi dasar dicetusnya motto hidup saya “Ikut berbahagia atas kebahagiaan orang lain, satu caraku untuk memperoleh kebahagiaan.”. Saya yakin, saya bisa melatih kebiasaan itu, demi hati dan jiwa yang lebih bersih. Memang terdengar berat, tapi kalau bisa berbahagia kenapa harus bersedih? Kalau masih ada rezeki yang lebih patut disyukuri, kenapa harus iri?.

Tags: