Obsesi Kerja Melanda Generasi Millenial

Kuliah sambil bekerja sedang tren di kalangan generasi millenial. Hal ini terlihat dari beberapa anak muda dengan bangga memamerkan kerja kerasnya mereka dalam pekerjaannya di sosial media. Tak jarang pula, mereka kecanduan bekerja hingga melalaikan waktu istirahatnya akibat begadang. Bahkan, bisa merasa gelisah jika tidak melakukan pekerjaan. Gaya hidup yang terobsesi untuk terus sibuk kerja dimanapun dan kapanpun ini bisa disebut dengan hustle culture.

Kuliah sambil bekerja sedang tren di kalangan generasi millenial. Hal ini terlihat dari beberapa anak muda dengan bangga memamerkan kerja kerasnya mereka dalam pekerjaannya di sosial media. Tak jarang pula, mereka kecanduan bekerja hingga melalaikan waktu istirahatnya akibat begadang. Bahkan, bisa merasa gelisah jika tidak melakukan pekerjaan. Gaya hidup yang terobsesi untuk terus sibuk kerja dimanapun dan kapanpun ini bisa disebut dengan hustle culture.

Salah satu pemicu munculnya hustle culture ini adalah budaya dari kecil yang mengarahkan untuk dapat nilai bagus agar bisa mudah mencari pekerjaan, sehingga seakan-akan kita dituntut untuk terus bekerja keras sedari kecil. Tuntutan dari lingkungan untuk memiliki banyak hal, seperti rumah, mobil, motor, juga sangat memengaruhi sehingga seseorang memiliki pola pikir harus menghasilkan banyak uang untuk memenuhi kebutuhan hidup di masa depannya. Ditambah, kompetisi antar manusia yang tidak mau kalah saing yang menimbulkan anggapan kalau ia berhenti bekerja karirnya akan ketinggalan oleh orang lain. Selain itu,. postingan di sosial media yang mengajak untuk selalu produktif walau sedang di rumah saja yang malah menimbulkan kesalahan dalam memahami produktif, seperti melakukan banyak kerja dalam satu hari, minim istirahat, dan tidak boleh rebahan juga memicu adanya hustle culture. Dan yang tak kalah penting adalah pemerintah yang belum bisa menjamin untuk menyediakan kebutuhan dasar warganya seperti biaya pendidikan, jasa kesehatan, sandang pangan dan air bersih yang tidak murah, sehingga mau tidak mau seseorang harus bekerja keras sendiri untuk bisa bertahan hidup untuk diri dan keluarganya.

Akibatnya, seseorang tumbuh menjadi pribadi yang individual dan kurang bersosialisasi dengan keluarga, teman, tenggangga, dan alam sekitarnya. Hustle culture ini juga tidak baik bagi kesehatan fisik dan mental seseorang. Bahkan, tak jarang pula sudah menderita banyak penyakit sejak usia muda, seperti hipertensi, diabetes, masalah metabolisme, jantung, hingga depresi. Pada tahun 2015, seseorang remaja asal Jepang bernama Matsuti Takahasi meninggal dunia akibat stress terhadap pekerjaannya dan kurang tidur. Bahkan di tahun 2016, terhadap 2000 kasus bunuh dari akibat stress kerja di negeri sakura tersebut. Di Indonesia sendiri terdapat banyak kasus, seperti seorang freelancer bernama Nin Djani yang sering keluar-masuk rumah sakit akibat terlalu banyak bekerja. Bahkan, beberapa menit sebelum operasi, ia masih sempat membuka laptop untuk merevisi dokumen cliennya.

Oleh karena itu, sudah seharusnya generasi millenial meninggalkan obsesi pada budaya hustle culture ini, dimulai dari hal kecil seperti membuat rencana harian yang jelas sehingga bisa memprioritaskan mana pekerjaan yang harus dikerjakan saat ini atau kegiatan pribadi yang lebih utama. Kemudian, menonaktifkan notifikasi yang berhubungan dengan pekerjaan di saat sudah di rumah. Misalnya mematikan e-mail atau chat tentang pekerjaan atau memiliki ponsel pribadi yang beda dengan ponsel saat kerja, sehingga tidak terpancing untuk membuka notifikasi kerja. Dan yang terakhir, mengisi waktu setelah kerja atau kuliah dengan melakukan hobi, sehingga pekerjaan tidak mendominasi kehidupan harian, dan bisa teralih ke hal lain seperti olahraga, bermain musik, berdiskusi dengan teman, dan aktifitas menyenangkan lainnya.

“Janganlah terlalu sibuk mencari penghidupan hingga lupa membuat kehidupan”, Anonim. Nuning Isfa’ Nisa’ul Chusnah

Tags: