Pengorbanan Membangun Insan Cendekia

Dalam mencapai sebuah kesuksesan seseorang tidak akan lepas dari campur tangan seorang abdi bangsa. Sosok yang tidak pernah kenal lelah dan letih dalam melahirkan generasi masa depan penerus bangsa. Sosok yang selalu dikagumi atas ilmu yang dimiliki. Dia adalah sumber dari segala pengetahuan, meskipun perannya saat ini sudah mulai tergantikan oleh arus teknologi dan informasi. Dia adalah guru, sosok pahlawan sejati pembangun insan cendekia yang rela meluangkan waktu demi mencerdaskan anak negeri.

Dalam mencapai sebuah kesuksesan seseorang tidak akan lepas dari campur tangan seorang abdi bangsa. Sosok yang tidak pernah kenal lelah dan letih dalam melahirkan generasi masa depan penerus bangsa. Sosok yang selalu dikagumi atas ilmu yang dimiliki. Dia adalah sumber dari segala pengetahuan, meskipun perannya saat ini sudah mulai tergantikan oleh arus teknologi dan informasi. Dia adalah guru, sosok pahlawan sejati pembangun insan cendekia yang rela meluangkan waktu demi mencerdaskan anak negeri.

Salah satu peribahasa berkata “Guru kencing berdiri murid kencing berlari” selain itu ada juga kiasan “Guru itu harus digugu dan ditiru” hal ini menggambarkan betapa pentingnya peran seorang guru dalam kehidupan pendidikan seorang anak didik dan kehidupan di lingkungan masyarakat sekitar. Guru merupakan sosok yang menjadi panutan sejati, semua tingkah laku, sikap dan perkataan akan menjadi sorotan publik baik di dalam ruang kelas maupun di lingkungan sekitar. Guru menjadi bagian dari perubahan bangsa dengan mencetak generasi muda yang akan menjadi Agent of Change. Salah satu bangsa yang menghargai profesi guru adalah bangsa Jepang. Bangsa Jepang menyadari bahwa guru yang bermutu merupakan kunci keberhasilan pembangunan. “Jasa guru lebih tinggi dari gunung yang lebih tinggi, lebih dalam dari laut yang dalam” itu merupakan ungkapan penghargaan bangsa Jepang terhadap profesi guru.

Tugas seorang guru tidaklah mudah, mereka tidak hanya sekedar mengajar dan menyampaikan materi saja akan tetapi mereka juga harus membekali peserta didik dengan pendidikan karakter dan etika yang baik untuk bekal di masa depannya kelak. Mereka harus aktif, kreatif dan inovatif dalam proses pembelajaran yang menarik, mereka juga harus sabar dan telateni menghadapi siswa dengan berbagai karakter dan kemapuan.. Mengajar merupakan salah satu cara terbaik dalam bersedekah, beramal dan menjadikan kebun pahala bagi guru serta bernilai ibadah, tak pernah terputus saat ilmu yang diberikan terus terbawa manfaatnya. Jerih payah guru memang sudah sepantasnya mendapatkan penghargaan tertinggi dalam setiap ajang penghargaan.

Pada zaman dulu Guru merupakan pekerjaan yang sangat dihormati. Misalnya saja ketika siswa berpapasan dengan guru mereka akan mencium tangan guru begitu juga saat lewat didepannya mereka akan menunuduk. Hal itu sebagai bukti bahwa dahulu guru begitu dihormati dan disegani. Sayangnya penghormatan kepada guru saat ini semakin memudar. Siswa tidak lagi sungkan untuk melawan dan orangtua siswa yang ringan tangan akan hukum hanya karena masalah sepele. Guru tidak lagi dipandang sebagi profesi yang istimewa.

Ketika anak didik memperoleh sebuah prestasi yang dipuji atas keberhasilannya adalah orang tuanya tanpa menyinggung sedikitpun jerih payah guru. “Itu kan anak saya, orang tuanya aja pandai apalagi anaknya. Jadi ya wajar jika mendapatkan penghargaan ini” dan ungkapan kata yang senada lainnya. Akan tetapi jika terjadi suatu kesalahan pada anak didik maka secara merata dianggap sebagai ketidakberhasilan seorang guru dalam mendidik siswa. Maka menjadi seorang guru harus siap menghadapi kenyataan pahit.

Ketika seorang guru dituntut oleh berbagai tugas dan dituntut agar bisa memajukan pendidikan bangsa ini, sudah seharusnya dibarengi dengan kesejahteraan yang layak mereka dapatkan. Bukan kesenjangan guru mengakar kemana-mana. Guru PNS mendapatkan gaji yang lebih besar ketimbang guru honorer yang dianggap sebagai tenaga suka rela baik di sekolah swasta maupun negeri. Mereka hanya digaji dengan suka rela, meraka hanya menuntut kesejahteraannya. Tuntutan yang sudah lama menggaung belum juga dipenuhi oleh pemerintah dengan alasan klasik yaitu keuangan negara sangat terbatas. Guru selalu setia menjadi pelaksana pembaruan dari pusat kekuasaan, Guru selalu menjadi korban daru ketidakpihakan pemerintah terhadap nasib guru.

Guru PNS vs guru Honorer. Guru yang berstatus PNS sedikit lebih terjamin kehidupannya dibandingkan dengan guru yang honorer. Selain kesejahteraan, penghormatan masyarakat pun berbeda, kepada guru PNS lebih ditunjukkan dari pada kepada guru yang honorer. Masyarakat berasumsi bahwa guru honorer hanya sebatas pembantu dalam pendidikan dilingkungan sekolah. Bukan tidak mungkin guru yang berstatus honorer memiliki kualitas yang jauh lebih baik dibanding guru PNS.

Bukan menjadi rahasia publik lagi kalau masih banyak guru di Indonesia menerima gaji sedikit. Dengan segudang profesi yang ada guru hanya menerima gaji ratusan ribu saja dalam sebulan.  Apalagi guru honorer, atau mereka yang ditugaskan di daerah terpencil. Belum lagi, tidak sedikit juga cerita yang digaji per 3 bulan sekali. Padahal sebenarnya hanya ada 2 profesi di dunia ini yaitu guru dan peserta didik. Tapi mengapa guru selalu dipandang rendah?

Pernyataan Mendikbud soal guru akan masuk surga mungkin tidaklah salah, mengingat ilmu yang telah diajarkan memang bisa jadi ladang amal jariah. Namun bukan berarti itu bisa jadi pengalihan tanggung jawab pemerintah untuk meningkatkan kualitas hidup seorang guru. Biar bagaimana pun juga, guru berhak menerima atas kehidupan yang layak. Mendidik serta membimbing anak-anak di pelosok itu bukanlah hal yang mudah. Mereka hasrus menempuh medan yang terjal dan sulit untuk sampai ditempat mengabdi. Tapi, entah kenapa segala peluh yang telah berderai itu seolah tak cukup mampu mengetuk hati petinggi negeri yang seolah mati hati nuraninya,  tuli, bisu dan buta untuk lebih menghargai jasa para pahlawan ini.

Mungkin saat ini niat baik pemerintah untuk memenuhi tuntutan guru sudah mulai terlihat melalui program sertifikasi guru ataupun pemberian tunjangan terhadap guru, sayangnya program tersebut terkesan tidak merata atau lebih condong ke sekolah negeri. Ataupun ketika program itu telah dilaksanakan terjadi pemotongan ataupun keterlambatan penyaluran dana yang seharusnya didapatkan oleh guru. Saat ini kesejahteraan guru mulai terjamin. Masih perlu evaluasi lagi terhadap progam tunjangan pemerintah terhadap seorang pembangun insan cendekia ini.

Tetap Semangat untuk yang berprofesi sebagai guru dan calon seorang guru. Jangan pantang menyerah, demi masa depan bangsa, karena tanpa kalian tidak ada dokter, tentara, menteri, pengusaha dan lain-lain. Guru itu merupakan panggilan jiwa untuk mengabdikan diri bagi dunia pendidikan dan bisa mengajarkan nilai-nilai kehidupan kepada anak didik. Karena pada dasarnya di dunia ini hanya ada 2 profesi yaitu guru dan peserta didik. Menjadi seorang guru harus memiliki aspek kepribadian atau personality karena aspek ini yang nantinya akan melahirkan komitmen diri,  dedikasi, kemauan yang kuat dan kepedulian untuk tetap berkiprah sebagai praktisi pendidikan, dengan sepenuh hati dan keikhlasan dalam melahirkan generasi masa depan yang cerdas, bertaqwa dan berkahlak mulia.

Tags: