Penari Laki-Laki, Sering Dibilang Banci Dan Dicaci

Tari merupakan salah satu seni yang diekspresikan melalui gerakan tubuh. Seni tari berupa Tari Tradisional, Tari Modern, dan Tari Kreasi. Berbicara tentang seni, seni bersifat universal yang artinya dapat dilakukan oleh semua orang. Dalam kehidupan seni tidak memandang jenis kelamin karna terdapat juga seni crossgender, agama yang dianut, bahkan status sosial sang pelaku seni. Begitu juga dalam seni tari, tidak ada tarian perempuan yang dilahirkan untuk kaum perempuan maupun tarian lelaki yang dilahirkan untuk kaum laki-laki. Akan tetapi, dalam seni tari terdapat gerakan yang dikenal dengan gerak feminim dan gerak maskulin. Gerak feminim inilah yang sering disalah artikan oleh masyarakat sekarang sebagai gerakan perempuan. Padahal, gerak feminim sendiri berarti gerakan yang memiliki volume gerak yang lebih sempit. Gerak ini sering dijumpai pada Tari Halusan Tradisional Jawa seperti Tari Adat Serimpi, Tari Adat Gambyong, dan Tari Adat Wira Pertiwi.

Tari merupakan salah satu seni yang diekspresikan melalui gerakan tubuh. Seni tari berupa Tari Tradisional, Tari Modern, dan Tari Kreasi. Berbicara tentang seni, seni bersifat universal yang artinya dapat dilakukan oleh semua orang. Dalam kehidupan seni tidak memandang jenis kelamin karna terdapat juga seni crossgender, agama yang dianut, bahkan status sosial sang pelaku seni. Begitu juga dalam seni tari, tidak ada tarian perempuan yang dilahirkan untuk kaum perempuan maupun tarian lelaki yang dilahirkan untuk kaum laki-laki. Akan tetapi, dalam seni tari terdapat gerakan yang dikenal dengan gerak feminim dan gerak maskulin. Gerak feminim inilah yang sering disalah artikan oleh masyarakat sekarang sebagai gerakan perempuan. Padahal, gerak feminim sendiri berarti gerakan yang memiliki volume gerak yang lebih sempit. Gerak ini sering dijumpai pada Tari Halusan Tradisional Jawa seperti Tari Adat Serimpi, Tari Adat Gambyong, dan Tari Adat Wira Pertiwi.

Pemikiran yang salah tersebut kemudian melahirkan pemikiran lain yang menganggap bahwa gerak feminim hanya boleh dilkukan oleh kaum perempuan, sedangkan gerak maskulin hanya boleh dilakukan oleh kaum lelaki. Kaum lelaki yang menari dengan gerak feminim akan dipandang tidak pantas dan tidak sedikit orang yang memanggilnya dengan sebutan banci. Padahal seni tari bersifat universal yang nyatanya bisa dilakukan semua orang, tetapi tidak semua orang bisa menari. Seperti hal nya, tidak semua perempuan bisa bergerak dengan feminim dan tidak semua lelaki bisa melakukan gerak maskulin. Serta pada kenyataannya, tidak semua penari laki-laki berperilaku banci pada kehidupan sehari-harinya. Mereka hanya ingin berkarya dengan totalitas dan professional.

Indonesia dikenal dengan keberagamanyya, terutama dalam bidang seni tari nya. Sebagian tari memiliki gerak yang feminim dan sebagian lainnya memiliki gerak maskulin. Apabila suatu tarian feminim hanya boleh dilakukan oleh kaum perempuan kemudian sulit ditemukan perempuan yang dapat menari dengan feminim, maka kemungkinan dapat terjadi kelangkahan yang bahkan dapat menjadi kepunahan tarian feminim tersebut. Begitu pula sebaliknya apabila terjadi pada tarian dengan gerak maskulin.

Di Indonesia terdapat beberapa seni tari yang dijadikan ritual oleh masyarakat tertentu, dimana dalam ritual tersebut tidak boleh dihadiri oleh perempuan yang sedang menstruasi. Dengan demikian, penari perempuan yang sedang menstruasi tidak diperbolehkan menari pada ritual tersebut sehingga digantikan oleh penari laki-laki. Oleh karena itu, tidak heran jika banyak penari laki-laki yang bermunculan sebab mereka dapat menari di segala tempat dan situasi.

Saat ini, seni tari dapat dijadikan sebagai sarana edukasi bagi semua orang. Termasuk juga laki-laki yang feminim dan perempuan yang maskulin. Mereka tidak perlu lagi menutup diri karena kekurangannya dalam berperilaku feminim ataupun maskulin, karena seni menerima segala jenis dan kelas masyarakat.

Penari laki-laki sudah ada sejak zaman dahulu, tetapi saat ini mereka seperti tidak mendapat tempat yang layak di mata masyarakatnya. Kurangnya wawasan tentang seni dan pemikiran yang menyangkutkan seni dengan agama menimbulkan berbagai pandangan. Padahal islam sendiri memandang seni dengan sangat bijak. Banyak seniman atau penari laki-laki yang berasal dari Indonesia, yang di antaranya terdapat penari crossgender. Masyarakat diharapkan dapat lebih menghargai seni dan pelaku seni, terutama penari laki-laki. Tidak perlu lagi mencaci mereka dengan sebutan yang tidak pantas, karena hal tersebut dapat merusak mental seseorang yang ingin berkarya. Mereka hanya ingin mengekspresikan diri dan melestarikan budaya, bukan untuk melanggar kodrat dan bermaksiat. Irma Setya Ningsih

Tags: