Internet Menghambat Daya Pikir Seseorang

Di zaman milenial ini sudah tidak dapat dipungkiri lagi jika teknologi semakin berkembang pesat. Dan hampir seluruh masyarakat dunia menggunakan tekonologi informasi yang biasa disebut dengan internet. Dengan adanya kecanggihan teknologi tersebut, segala informasi yang kita ingin tau  dengan mudah bisa kita dapatkan melalui media internet ini. Internet sebagai salah satu tempat penampungan segala informasi yang  sangat mudah dapat diakses dan menjadi alternatif bagi setiap orang yang menggunakan, khususnya para murid dan mahasiswa. Tak mengenal jenjang entah SD, SMP, SMA hingga mahasiswa telah memanfaatkan internet  untuk mempermudah mereka dalam mengerjakan tugas bahkan mencari refrensi-refrensi.

pada kenyataan saat ini banyak pelajar-pelajar yang menyalahgunakan media internet tersebut, yang niat awalnya hanya untuk mencari informasi yang berkaitan atau refrensi, yang berdampak cenderung malas untuk berfikir dan merasa jika ada yang lebih instan yaitu dengan memplagiat atau mengcopy-paste refrensi-refrensi yang sudah didapatkan.

Namun pada kenyataan saat ini banyak pelajar-pelajar yang menyalahgunakan media internet tersebut, yang niat awalnya hanya untuk mencari informasi yang berkaitan atau refrensi, yang berdampak cenderung malas untuk berfikir dan merasa jika ada yang lebih instan yaitu dengan memplagiat atau mengcopy-paste refrensi-refrensi yang sudah didapatkan.

Dengan gaya pemanfaatan yang seperti itu dikalangan para pelajar dapat mematikan daya pikir dan kreativitas seseorang. Apalagi dikalangan anak mahasiswa yang biasa sebut sebagai agen of change sangat bertolak belakang dengan apa yang dilakukan yang apabila mendapat tugas hanya mengcopy-paste jawaban dari internet. Bagaimana cara mereka membawa perubahan bagi orang-orang disekitarnya sedangkan kontribusi untuk dirinya sendiri saja tidak bisa.

Para mahasiswa sebenarnya tau jika melakukan tindakan plagiat merupakan suatu tindakan pembodohan dan kriminal karena sudah mencuri karya seseorang tanpa mencantumkan identitas orang tersebut. Namun mengapa hal tersebut masih saja dilakukan? karena banyak dari kalangan mahasiswa yang meremehkan bahwa tugas yang telah mereka kerjakan tidak akan dibaca serius oleh dosen-dosen dan dari situlah muncul celetukan “yang penting tugas selesai” dan bahkan ada yang berceletuk “ tugas begini aja gak berpengaruh dipekerjaan nanti ngapain susah-susah mikir toh di internet banyak jawabannya”.

Dari anggapan-anggapan yang seperti itulah banyak dikalangan mahasiswa yang meremehkan tugas dan mengandalkan internet sebagai jawabannya. Tidak hanya itu faktor lain yang mendukung mahasiswa untuk mencopy-paste yakni rendahnya minat membaca. Pada dasarnya anak-anak di Indoensia memiliki presentase rendah dalam hal literasi hal itu yang menyebabkan untuk langsung memplagiat suatu karya dari orang lain, entah itu salah atau benar yang penting tugasnya terselesaikan. Sehingga tidak ada proses berpikir yang terjadi di otak kita, dan jika otak jarang digunakan sebagaimana mestinya maka dapat menghambat daya pikir seseorang tersebut. Sama halnya dengan alat yang sudah lama tidak digunakan maka alat tersebut akan berkarat.

Seharusnya kita sebagai mahasiswa yang diberi kepercayaan sebagai agen of change sadar akan hak dan kewajiban intelektual. Seharusnya kita dapat lebih mengedepankan suatu hal entah itu tulisan atau karya, dan lain sebagainya yang bersifat ilmiah serta lebih giat dalam membaca. Sebenarnya sah-sah saja jika kita berplagiat tetapi harus mengikuti prosedur yang ada, seperti mencantumkan nama penulis dan memparafrase dengan begitu kita bisa mendapatkan wawasan dan pengetahuan yang baru dan bukan hanya sekedar copypaste asal selesai dijamin dengan 100% jika melakukan hal seperti itu kita tidak akan paham dengan perihal isi yang telah kita copypaste dan dapat merugikan diri kita sendiri. Seperti yang dikatakan oleh Pramoedya Ananta Toer “ jika kau ingin mengenal dunia, maka membacalah. Namun, jika engkau ingin dikenal oleh dunia maka menulislah”.

Bukankah ciri bangsa yang maju dapat dilihat dari kualitas dan tingkat membaca dan menulis dari masyarakatnya?. Maka dari itu mari kita bersama-sama tingkatkan kegiatan membaca yang bermanfaat untuk menambah wawasan agar otak kita mempunyai bahan untuk diproses dan tidak mematikan daya pikir kita. ALifatul Aprilia

Tags: