Definisi Fonologi

Istilah fonologi berasal dari bahsa yunani yaitu phone=’bunyi’, logos=’ilmu’. jadi, secara harfiah adalah ilmu bunyi. [1]  Keberadaan fonologi merupakan bagian dari cabang linguistik.[2] Fonologi merupakan bagian dari ilmu bahasa yang mengkaji bunyi. objek kajian fonologi yang pertama bunyi bahasa yang disebut tata bunyi (fonetik) dan yang kedua mengkaji fonem yang disebut tata fonem (fonemik).Fonologi adalah unsur bahasa terkecil atau bunyi bahasa. Dalam arti luas, fonologi mencakup bunyi-bunyi bahasa secara umum yaitu, bunyi-bunyi umum atau bunyi-bunyi pembeda makna.[3] Serta mencakup unsure-unsur suprasegmental dari satu ujaran,seperti,tekanan, nada, hentian dan durasi.[4]

Istilah fonologi berasal dari bahsa yunani yaitu phone=’bunyi’, logos=’ilmu’. jadi, secara harfiah adalah ilmu bunyi. [1]  Keberadaan fonologi merupakan bagian dari cabang linguistik.[2] Fonologi merupakan bagian dari ilmu bahasa yang mengkaji bunyi. objek kajian fonologi yang pertama bunyi bahasa yang disebut tata bunyi (fonetik) dan yang kedua mengkaji fonem yang disebut tata fonem (fonemik).Fonologi adalah unsur bahasa terkecil atau bunyi bahasa. Dalam arti luas, fonologi mencakup bunyi-bunyi bahasa secara umum yaitu, bunyi-bunyi umum atau bunyi-bunyi pembeda makna.[3] Serta mencakup unsure-unsur suprasegmental dari satu ujaran,seperti,tekanan, nada, hentian dan durasi.[4]

Menurut Roger Lass, fonologi adalah subdisiplin dalam ilmu bahasa yang atau linguistik yang mempelajari bunyi bahasa. kemudian pengertian fonologi bisa dipersempit lagi sebagai sub disiplin ilmu bahasa yang mempelajari fungsi bahasa. Di samping mempelajari fungsi, perilaku, sereta organisasai bunyi sebagai unsure linguisti, fonologi mempelajari juga  yang lebih netral terhadap bunyi-bunyi sebagai foname dalam dunia fisik dan unsure-unsur fisiologikal, anatomical, dan psikologikal, serta neurologikal manusia yang membuat atau memproduksi bunyi-bunyi itu. Bidang linguistik yang terakhir ini disebut fonetik. Fonetik mengkaji bunyi-bunyi bahasa secara kongkret, sedangkan fonologi lebih abstrak, dalam arti secara kongsep menentukan fungsi bunyi itu dalam pembeda makna kata.  Istilah fonemik digunakan digunakan oleh ahli bahasa Amerika (L. Pike), sedangkan ahli bahasa Inggris menyebutnya sebagai fonologi.Sebagai suatu ilmu, fonologi di samping mempunyai  objek, juga memiliki premis-premis dan hipotetis-hipotetis. permis adalah sejenis pokok-pokok pikiran tentang sifat-sifat bunyi secara umum (universal).

Pernyataan tentang adanya pasangan minimal yang dapat digunakan untuk menemukan fonem suatu bahasa dan pernyataan tentang letak atau posisi bunyi  yang saling mengecualikan, yang dapat digunkan untuk menntukan anggota fonem suatu bahasa, menjdi dasar bagi kegiatan penelitian bagi bahasa dalam bidang fonologi. Ini pula yang menandai bahwa fonologi sebagai ilmu yang mendasarkan pekerjaan pada premis-premis dan hipotesis-hipotesis.[5]

Fonologi ialah bagian dari ilmu bahasa yang mempelajari tata bunyi/ kaidah bunyi dan cara menghasilkannya. Mengapa bunyi dipelajari? karena wujud bahasa yang paling primer adalah bunyi. Bunyi adalah getaran udara yang masuk ke telingan sehingga menimbulkan suara. Bunyi bahasa adalah bunyi yang dibentuk oleh tiga factor, yaitu pernafasan (sebagai sumber tenaga), alat ucap (yang menimbulkan getaran), dan rongga pengubah getaran (pita suara). Fonologi dibedakan menjadi,fonetik dan fonemik. Didalam fonologi terdapat istilah fonem, fon, dan alofon. Fonem adalah suatu bunyi ter kecil yang masih abstrak atau yang tidak diartikulasikan. Fonem merupakan aspek bahasa pada aspek langue (istilah de Sausure), misalnya /t/./d/, /c/. Fon adalah realisasi dari fonem (parole),atau bunyi yang diartikulasikan (diucapkan) misalnya {lari}. Alofon adalah perbedaan bunyi yang tidak menimbulkan perbedaan makna , misalnya /i/ dan /l/ dlam /menangls/.[6]


[1] Wahyu Oktavia, “Penamaan Bunyi Segmental dan Suprasegmental Pada Pedagang Keliling,” Jurnal Bahasa Lingua Scientia 10, no. 1 (March 23, 2018): 1–16, https://doi.org/10.21274/ls.2018.10.1.1-16.

[2] Ary Setyadi, “‘Pasangan Minimal’ Fonem Dasar Pembelajaran Materi Fonologi Bahasa Indonesia,” Nusa: Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra 13, no. 4 (November 30, 2018): 521, https://doi.org/10.14710/nusa.13.4.521-532.

[3] Wahyu Oktavia, “Penamaan Bunyi Segmental dan Suprasegmental Pada Pedagang Keliling,” Jurnal Bahasa Lingua Scientia 10, no. 1 (March 23, 2018): 1–16, https://doi.org/10.21274/ls.2018.10.1.1-16.

[4] Evi Martika D. Kasiahe, “Fonotaktik dan Pembentukan Suku Kata Bahasa Sangir,” Kajian Linguistik 7, no. 1 (August 2, 2019), https://doi.org/10.35796/kaling.7.1.2019.24772.

[5] Agusniar Dian Safitri, Fonologi Bahasa Indonesia (Tanggerang: Universiyas Terbuku, 2019).

[6] Abdul Chaer, Linguistik Umum (Jakarta: Rineka Cipta, 2012).

Tags: