Jenis-Jenis Bunyi

  • Vokal, Konsonan, dan Semivokal

Secara umum, jenis bunyi bahasa dibagi menjadi tiga, yaitu vokal, konsonan, dan semivokal. Pembagian ini berdasarkan ada atau tidaknya hambatan dalam alat ucap. Hambatan dalam pita suara tidak pernah disebut artikulasi. Vokal, konsonan, dan semivokal merupakan jenis bunyi yang dibedakan sesuai ada tidaknya rintangan ketika arus udara masuk dalam saluran suara.

Secara umum, jenis bunyi bahasa dibagi menjadi tiga, yaitu vokal, konsonan, dan semivokal. Pembagian ini berdasarkan ada atau tidaknya hambatan dalam alat ucap. Hambatan dalam pita suara tidak pernah disebut artikulasi. Vokal, konsonan, dan semivokal merupakan jenis bunyi yang dibedakan sesuai ada tidaknya rintangan ketika arus udara masuk dalam saluran suara.

Vokal adalah bunyi yang tidak memiliki rintangan saat saluran udara masuk. Bunyi fokaldihasilkan dengan adanyapelonggaran udara yang keluar dari dalam paru-paru tanpa mendapat halangan.[1]Hambatan atau rintangan untuk bunyi vokal hanya pada pita suara saja. Hambatan pada pita suara tidak lazim disebut artikulasi. Karena vokal dihasilkan oleh hambatan pita suara maka pita suara bergetar. Posisi glotis tertutup, tetapi tidak rapat sekali. Oleh karena itu, semua vokal termasuk bunyi bersuara

Konsonan adalah bunyi bahasa yang dibentuk oleh adanya hambatan arus udarapada sebagian alat ucap. Dalam konsonan terdapat artikulasi. Proses hambatan tersebut disertai dengan bergetarnya pita suara. Sehingga menjadikan bentuk bunyi konsonan bersuara. Dan jika hambatan tersebut tidak disertai oleh bergetarnya pita suara, glotispun dalam keadaan terbuka sehingga menjadikan bentuk konsonan tidak bersuara.

Bunyi semi-vokal adalah bunyi yang bisa dikatakan sebagai bunyi konsonan, tetapi saat diartikulasikan belum membentuk konsonan murni. Biasanya bunyi semi-vokal bisa disebut bunyi semikonsonan namun masih jarang dipakai.

  • Bunyi Nasal dan Oral

Bunyi nasal atau sengau dapat dibedakan dengan oral berdasrkan jalur keluar masuknya arus udara. Bunyi nasal dihasilkan dengan menutup saluran udara keluar mealui rongga mulut, tetapi membuka melalui rongga hidung. Dengan menutup saluran udara keluar dari mulut dapat terjadi: (1) antara kedua bibir, menghasilkan bunyi [M]; (2) antara ujung lidah dengan ceruk, menghasilkan bunyi [N]; (3)  antara pangkal lidah dan langit-langit lunak, mengahsilkan bunyi [□]; dan (4) antara ujung lidah dan langit-langit keras, menghasilkan bunyi [ñ]. Bunyi oral dihasilkan dengan jalan mengangkat ujung anak tekak mendengati langit-langit lunak untuk menutupi rongga hidung sehingga arus udara dari paru-paru keluar melalui mulut. Selain bunyi nasal, semua huruf vokal dan konsonan termasuk bunyi oral.

  • Bunyi Keras dan Lunak

Bunyi keras dan bunyi lunak dapat dibedakan berdasrkan dari ada  tidaknya ketegangan arus udara pada saat bunyi tersebut  di artikulasikan. Bunyi bahsa disebut bunyi keras ketika bunyi tersebut diartikulasikan disertai ketegangan kekuatan arus udara dan begitupun sebaliknya untuk bunyi lunak.

Bunyi keras mencakupi beberapa jenis bunyi yaitu:

  1. Bunyi letup ak bersuara: [p, t, c, k]
  2. Bunyi geseran tak bersuara: [s]
  3. Bunyi vokal: [1]

Bunyi lanuk mencakupi beberapa jenis, seperti:

  1. Bunyi letup bersuara: [b, d, j, g]
  2. Bunyi geseran bersuara: [Z]
  3. Bunyi nasal: [m, n, ñ, □]
  4. Bunyi likuida: [r,l]
  5. Bunyi semi-vokal; [w, y]
  6. Bunyi vokal: [i, e, o, u].[2]
  • Bunyi Panjang dan Pendek

Bunyi panjang dapat dibedakan dengan bunyi pendek berdasarkan lama tidaknya bunyi tersebut diucapkan. Beitupun bunyi vikal dan konsonan dapat diebdakan atas bunyi panjang dan bunyi pendek. Tanda bunyi panjang biasanya terdapat garis di atas suatu bunyi; atau menggunakan tanda titik dua disebelah kanannya, contohnya: [a] panjang ditulis [ā] atau [a:].

  • Bunyi Nyaring dan Tak Nyaring

Bunyi nyaring dan tak nyaring dapat dibedakan berdesarkan suara bunyi tersebut nyaring atau tidak saat terdengar oleh telinga. Pembadaan bunyi tersebut berdasarkan derajat kenyaringan dari bunyi tersebut dan itu termasuk tinjaun fonetik auditoris. Derajat kenyaringan tersebut ditentukan oleh luas sempitnya pada waktu bunyi tersebut diucapkan. Makin luas resonasinya, maka semakin rendah kenyaringannya.

  • Bunyi Tunggal dan Rangkap

Bunyi tunggal dan rangkap dapat dibedakan berdasarkan perwujudannya. Bunyi tunggal adalah sebuah bunyi yang berdiri sendiri dalam satu suku kata, sedangkan bunyi rangkap adalah dua bunyi atau lebih yang yang bergabung dalam semua suku kata. Semua bunyi vokal dan konsonan adalah bunyi tunggal. Bunyi tunggal vokal disebut juga monoftong

Bunyi rangkap dapat berupa diftong maupun klaster. Doftong yang lazim juga disebut vokal rangkap, dibentukketika posisi lidah sewaktu mengucapkan bunyi vokal satu dengan bunyi vokal yang lainnya saling berbeda. Misalnya dalam bahasa Indonesia terdapat diftong [oi], [aI], dan [aU]. Klaster yang lazim juga dapat disebut gugus konsonan, dibentuk apabila cara atau tempat artikulasi dari kedua konsonan yang diucapkan saling berbeda. Misalnya, dalam bahasa Indonesia terdapat gugus [pr], [str], dan [dr]

  • Bunyi Egresif dan Ingresif

Bunyi egresif dapat dibedakan dengan bunyi ingresif berdasarkan arus udara. Bunyi egresif dibentuk dengan cara mengeluarkan arus udara dari paru-paru , sedangakn bunyi ingresif dibentuk dengan cara mengisap udara ke dalam paru-paru. Dalam bahasa Indonesia kebanyakan termasuk bunyi egresif.

Bunyi egresif dibedakan lagi menjadi dua yaitu egresif pulmonic daan egresif glotalik. Bunyi egresif pulmonic dibentuk dengan cara mengecilkan ruangan paru-paru oleh otot paru-paru, otot perut, dan rongga dada. Hampir semua bunyi bahasa Indonesia dibentuk melalui egresif pulmonic. Bunyi egresif glotalik terbentuk dengan cara merapatkan pita suara sehingga glotis dalam keadaan tertutup sama sekali. Yang ditandai dengan tanda apostrof contohnya: [p’], [t’], [k’], [s’]. Bunyi egresif glotalik juga disebut bunyi ejektif.

Bunyi ingresif dibedakan menjadi dua yaitu ingresif glotalik dan ingresif velarik. Bunyi ingresif glotalik memiliki kemiripan dengan cara pembentukan bunyi egresif glotalik, hanya saja arus udaranya yang berbeda. Bunyi ingresif velarik dibentuk dengan menaikkan pangkal lidah ditempatkan pada langit-langit lunak

  •  Geminat dan Homorgan

Geminat yaitu rentetan artikulasi yang sama. Sehingga dalam pengucapannya menimbulkan ucapan bunyi yang panjang. Contohnyan: Allahdan Assalamualaikum.Dan yang disebut dengan homorgan yaitu bunyi-bunyi yang terbentuk dari alat dan daerah artikulasi yang sama. Contohnya, konsonan alveolar: [t], , dan [n], konsonan bilabial [p], [b], dan [m], konsonan palatal [c], , [n].


[1] Asisda Wahyu Asri Putradi, “POLA-POLA PERUBAHAN FONEM VOKAL DAN KONSONAN DALAM PENYERAPAN KATA-KATA BAHASA ASING KE DALAM BAHASA INDONESIA: KAJIAN FONOLOGI,” JURNAL ARBITRER 3, no. 2 (October 17, 2016): 95, https://doi.org/10.25077/ar.3.2.95-112.2016.

[2] Jauharoti Alfin Zudan Rosyidi, Fonologi Dan Morfologi (Surabaya: UIN Sunan Ampel Press, 2014).hal:28-29.

Tags: