Klasifikasi Makna Bahasa dan Contohnya

  • Makna leksikal dan makna gramatikal

Semantik leksikal merupakan ilmu tentang makna yang menekankan pembahasan pada sistem makna. Makna yang dimaksud disini adalah konsep atau fitur pada kata tanpa melihat konteks pengunaannya. Semantik leksikal memusatkan perhatian pada kamus, hal ini dikarenakan kamus memuat makna yang dimiliki oleh kata itu sendiri dengan tanpa melihat konteks pemakaiannya. Dengan demikian, semantik leksikal memperhatikan makna itu secara mandiri sesuai dengan konsep yang melekat pada sebuah kata. Sebagai contoh, dalam KBBI, makna tiap kata diuraikan satu persatu sesuai dengan konsep yang dimaksudkan.

Semantik leksikal merupakan ilmu tentang makna yang menekankan pembahasan pada sistem makna. Makna yang dimaksud disini adalah konsep atau fitur pada kata tanpa melihat konteks pengunaannya. Semantik leksikal memusatkan perhatian pada kamus, hal ini dikarenakan kamus memuat makna yang dimiliki oleh kata itu sendiri dengan tanpa melihat konteks pemakaiannya. Dengan demikian, semantik leksikal memperhatikan makna itu secara mandiri sesuai dengan konsep yang melekat pada sebuah kata. Sebagai contoh, dalam KBBI, makna tiap kata diuraikan satu persatu sesuai dengan konsep yang dimaksudkan.

Contoh semantik leksikal: Daraclarisa sedang bercermin di depan kaca spion sepeda motornya. (kaca: benda yang keras, bening, dan mudah pecah)

Sedangkan makna gramatikal muncul dikarenakan adanya proses perubahan bentuk kata seperti proses afiksasi, proses reduplikasi, dan proses komposisi. Kata dasar lariberbeda dengan lari-lari,berlariberbeda dengan dilarikan, dan lain sebagainya. Makna gramamatikal ini biasanya akan sangat tampak dalam kalimat.

Contoh:

  1. Doni berlaridi pagi hari
  2. Doni dilarikanke rumah sakit
  3. Adik Doni bermain lari-larian

Kalimat diatas  memiliki perbedaan makna karena memiliki bentuk yang berbeda. Kata berlarimengacu pada kegiatan aktif yang dilakukan subjek, kata dilarikanbermakna dibawa ke-, sedangkan kata lari-larianbermakna kegiatan yang menyerupai lari. Dengan demikian, memudahkan pelajar untuk memahami dan membedakan makna kata dasar dan kata imbuhan.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa makna leksikal adalah makna yang sebenarnya. Berbeda dengan makna gramatikal yang merupakan konsep yang akan muncul setelah adanya proses tertentu dalam rangkaian kata, klausa, atau pun kalimat. Seperti afiksasi, reduplikasi, komposisi, dan kalimatisasi. Misalnya, proses afiksasi prefiks ber- dengan dasar bajuakan muncul makna gramatikal mengenakan atau memakai baju.Untuk memahami cara menganalisis makna gramatikal. Perhatikan dalam kalimat berikut ini.

  1. Saya membawabuku
  2. Buku saya dibawaAndi
  3. Buku saya terbawamahasiswa tadi siang

Dari tiga kalimat tersebut, kata dasar bawapada kalimat 1-6 memiliki perbedaan makna. Kata membawapada kalimat a memiliki makna meng-dan makna bawa. Kata dibawapada kalimat b memiliki makna di-dan bawa. Kata terbawapada kalimat c memiliki makna terdan bawa.

  • Makna denotatif dan konotatif

Perbedaan makna denotatif dan makna konotatif didasarkan pada ada tidaknya nilai rasa pada sebuah kata. Setiap kata/leksem, terutama yang disebut dengan  kata penuh, tentu memiliki makna denotatif, yaitu makna yang sebenarnya. Namun, pada konteks tertentu, kata bisa memiliki makna konotasi yang merupakan makna yang tidak sesuai dengan makna leksikalnya.

Chaer menyatakan bahwa makna denotatif adalah makna asli, makna asal, atau makna sebenarnya yang dimiliki oleh sebuah leksem. Jadi dapat disimpulkan bahwa sebenarnya makna denotatif adalah sama dengan makna leksikal. Contoh kata denotatifSejak tiga tahun yang lalu ia membanting tulang untuk memperoleh kepercayaan dari atasan agar bisa naik jabatan. (katamembanting tulang,makna denotatif adalah membanting sebuah tulangyang mengandung makna“bekerja keras”yang merupakan sebuah kata kiasan.

Sedangkan makna konotatif merupakan makna lain yang ditambahkan pada makna denotatif yang berhubungan dengan nilai rasa dari seseorang atau sekelompok orang yang menggunakan kata tersebut (Chaer, 2009). Contoh kata konotatif Salza adalah wanita yang manis. ( kata cantik lebih umum daripada kata manis, sehingga dalam kata manis terkandung suatu maksud yang lebih bersifat memukau perasaan kita.

Tidak semua kata memiliki makna konotatif. Sebuah kata disebut bermakna konotatif, apabila pada kata itu terdapat nilai rasa, baik bernilai rasa positif yang menyenangkan maupun bernilai rasa negatif yang tidak menyenangkan. Jika sebuah kata tidak memiliki nilai rasa seperti itu maka kata tersebut dikatakan tidak memiliki konotasi.

  • Makna idiom dan pribahasa

Perbedaan makna ini dibedakan atas makna idiomatikal dan peribahasa. Makna idiomatikal adalah makna sebuah satuan bahasa (kata, frase, atau kalimat) yang “menyimpang” dari makna leksikal atau makna gramatikal unsur-unsur pembentuknya. Untuk mengetahui makna idiom sebuah kata (frase atau kalimat) haruslah melalui kamus. Adapun makna peribahasa masih bisa ditelusuri melalui makna asosiasi pada peribahasa tersebut. Kedua makna idiomatik dan peribahasa sama-sama bisa ditelusuri melalui Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Dilihat dari bentuknya, idiomatik berbeda dengan peribahasa. Idiomatik biasanya berupa kata atau kumpulan kata yang memiliki makna yang berbeda dari makna pembentuknya. Peribahasa biasanya berbentuk kalimat, seperti kalimat perumpaan, perbandingan, dan lain sebagainya.

Jika dilihat dari jenisnya, idiom dibedakan menjadi dua yaitu idiom penuh dan idiom sebagian (Chaer, 2012). Idiom penuh mengacu makna yang tidak bisa ditelusuri dari makna kata pembentuknya. Makna dalam idiom penuh sudah melebur menjadi satu kesatuan. Contoh idiom penuh adalah membanting tulang, meja hijau, dan tangan kanan. Sedangkan makna idiomatik sebagian bisa ditelusuri atau diramal melalui makna katapembentuknya. Contoh idiomatik sebagian adalah buku putih, buah bibir, buah tangan. Dan lainnya.

Menurut Pateda, ada beberapa bentuk idiom yang dilihat dari kata pembentuknya, yaitu:

  1. Idiom yang terdiri dari bagian tubuh

Pateda menyebutnya sebagai diri manusia, dengan istilah Antropomorfis, yakni unsur-unsur yang membentuk diri manusia (tubuh manusia), misalnya hati, jantung, mata dan lain sebagainya (Pateda, 1989). Contoh idiom pada jenis ini adalah tulang punggung, rendah hati, dan lain sebagainya.

  • Idiom yang terdiri dari kata indra

Idiom yang unsur pembentuknya dari perubahan kegiatan tanggapan indra yang satu ke indra yang lain. Pateda mengistilahkannya dengan sinestetik. Indra adalah alat untuk meraba, merasa, melihat, mendengar, dan membau sesuatu secara naluri ( intuitif). Contoh idiom jenis ini adalah hidung belang, panjang tangan,dan lain sebagainya.

  • Idiom nama warna

idiom yang menggunakan nama-nama warna sebagai unsur leksikalnya. Contoh merah muka, si jago merah, dan lainnya.

  • Idiom nama benda alam

Idiom juga menggunakan nama-nama benda alam sebagai unsur leksikalnya. Seperti matahari, bumi, bulan dan sebagainya. Contohnya anak sungai, bintang kelas,dan sebagainya.

  • Idiom nama-nama binatang

Unsur leksikal yang membentuk idiom berhubungan dengan binatang, bagian-bangiannya dan sifat binatang tertentu yang diperbandingkan dengan sifat-sifat manusia yang tampak dengan unsur-unsur tubuh hewan. Contohnya, adu domba, ular berkepala dua, srigala berbulu domba, dan lain sebagianya.

  • Idiom nama atau bagian tumbuhan

Unsur leksikal yang dibentuk dari nama-nama tumbuhan ataupun bagian dari tumbuhan seperti daun, cabang, buah, batang dan lain sebagainya. Contohnya bunga desa,

  • Idiom yang terbentuk dari berbagai kelas kata

Idiom yang unsur pembentuknya berupa kata bilangan, kata benda, kata keterangan, kata kerja, dan kata sifat. Contohnya meja hijau, karpet merah, dan lainnya.

Berbeda dengan makna idiomatik, makna peribahasa masih dapat diramalkan dikarenakan adanya asosiasi atau tautan antara makna leksikal dan gramatikal unsur-unsur pembentuk peribahasa tersebut dengan makna lain yang menjadi tautannya.

Peribahasa bersifat membandingkan atau mengumpamakan, dengan demikian peribahasa juga disebut dengan nama perumpamaan. Kata-kata seperti, bak, laksana, bagaidanumpamasering digunakan dalam peribahasa. Tetapi, tidak semua peribahasamenggunakan kata yang menunjukkan perbandingan, ada juga peribahasa yangmemperbandingkan dengan menghadirkan klausa yang saling bertentangan maknanya.

Untuk memahami makna peribahasa dengan baik, kalian bisa menggunakan KBBI untuk mencari maknanya. Berikut contoh-contoh peribahasa dalam Bahasa Indonesia.

  1. Air tenang menghanyutkan, artinyaorang yang pendiam tetapi berilmu banyak.
    1. Mati-mati mandi biar basah, artinyamelakukan sesuatu jangan tanggung-tanggung.
    1. Nasi sudah menjadi bubur, artinyaperbuatan yang salah dan sudah terlanjur.[1]

[1] Fitri Amilia dan Astri Widyaruli Anggraeni, Semantik (Malang: MADANI, 2017), 63-87.

Tags: