Konsep Lingkungan sebagai Media Pembelajaran

Istilah media berasal dari Bahasa Latin yang merupakan bentuk jamak dari “medium” yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Makna umumnya media adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan informasi dari sumber informasi kepada penerima informasi. Istilah media ini sangat popular dalam bidang komunikasi. Proses pembelajaran pada dasarnya juga merupakan proses komunikasi, sehingga media yang digunakan dalam pembelajaran disebut media pembelajaran.

Istilah media berasal dari Bahasa Latin yang merupakan bentuk jamak dari “medium” yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Makna umumnya media adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan informasi dari sumber informasi kepada penerima informasi. Istilah media ini sangat popular dalam bidang komunikasi. Proses pembelajaran pada dasarnya juga merupakan proses komunikasi, sehingga media yang digunakan dalam pembelajaran disebut media pembelajaran.

Media pembelajaranadalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan untuk merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemampuan atau ketrampilan peserta sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada diri peserta pembelajaran. Pada mulanya media hanya berfungsi sebagai alat bantu visual dalam kegiatan belajar, yaitu berupa sarana yang cepat memberikan pengalaman visual kepada peserta antara lain untuk mendorong motivasi, memperjelas dan mempermudah konsep-konsep yang abstrak dan mempertinggi daya serap belajar.

Dengan masuknya pengaruh teknologi audio maka lahirlah alat bantu audio visual yang terutama menekankan penggunaan pengalaman yang konkrit untuk menghindari verbalisme.[1]

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI) lingkungan diartikan sebagai bulatan yang melingkungi (melingkari). Pengertian lainnya yaitu sekalian yang terdapat di suatu daerah.[2]

Media berbasis lingkungan merupakan media pembelajaran yang menjadikan lingkungan disekitar murid sebagai sumber belajar. Media pendidikan sangat penting sekali untuk menunjang pencapaian tujuan pendidikan. Hamalik (2004:194) dalam teorinya “Kembali ke Alam” menunjukan betapa pentingnya pengaruh alam terhadap perkembangan peserta didik. Hamalik (2004: 195) Lingkungan (environment) sebagai dasar pengajaran adalah faktor kondisional yang mempengaruhi tingkah laku individu dan merupakan faktor belajar yang penting.[3]

Dengan mempelajari alam ini diharapkan peserta didik dapat lebih memahami bahan ajar, lebih dari itu dapat menumbuhkan kesadaran, cinta alam, mungkin juga turut berpartisipasi untuk menaggulangi hal tersebut, misalnya dengan menjaga dan memelihara lingkungan. Dalam mata pelajaran pengetahuan alam (sains), peserta didik diminta mempelajari lingkungan alam di sekitar tempat tinggalnya atau di sekitar sekolah, mereka diminta mencatat dan mempelajari gejala-gejala alam misalnya suhu udara, jenis tumbuhan, jenis hewan, baik secara individual maupun kelompok melalui kegiatan mengamati, bertanya kepada ahli, membuktikan sendiri atau mencobanya. Peserta didik tentu akan memperoleh sesuatu yang sangat berharga dari kegiatan belajarnya itu yang mungkin tidak akan ditemukan dari pengalaman belajar di sekolah sehari-hari. Kegiatan pembelajaran yang menggunakan lingkungan ini bisa dilaksanakan pada saat jam belajar terjadwal atau diluar jam belajar atau dapat juga dilaksanankan pada waktu khusus,[4]

Belajar tidak harus menggunakan buku sebagai media belajar kita bisa memanfaatkan lingkungan sebagai media pembelajaran. Mengajar tidak harus menyampaikan materi. saat berada didalam kelas murid sering kali merasakan yang namnnya jenuh tugas pengajar bagaimana cara kita agar proses belajar jadi lebih aktif.

Lingkungan sebagai media pembelajaran memiliki tiga unsur yakni: makhluk hidup(biotik), benda mati(abiotik), dan budaya manusia.

Lingkungan (environment) sebagai media pendidikan merupakan faktor kondisional yang memengaruhi tingkah laku individu dan merupakan faktor belajar yang penting. Lingkungan yang berada di sekitar peserta didik dapat dijadikan sebagai sumber belajar. Lingkungan meliputi masyarakat di sekeliling sekolah, lingkungan fisik di sekitar sekolah, bahan-bahan yang tersisa atau tidak dipakai, bahan-bahan bekas dan bila diolah dapat dimanfaatkan sebagai sumber atau alat bantu dalam belajar, serta peristiwa alam dan peristiwa yang terjadi dalam masyarakat.

Jadi, media pembelajaran lingkungan adalah pemahaman terhadap gejala atau tingkah laku tertentu dari objek atau pengamatan ilmiah terhadap sesuatu yang ada di sekitar sebagai bahan pengajaran peserta didik sebelum dan sesudah menerima materi dari sekolah dengan membawa pengalaman dan penemuan dengan apa yang mereka temui di lingkungan mereka.

Pembelajaran dengan menggunakan lingkungan sekolah sebagai media
pembelajaran merupakan suatu proses pembelajaran yang memberikan
pengalaman langsung kepada peserta didik, sehingga peserta didik termotivasi, aktif, kreatif, inovatif, mandiri, dan bertanggung jawab untuk dirinya dan tetap menjaga kelestarian lingkungannya.

Pembelajaran berbasis lingkungan adalah suatu pembelajaran yang menggunakan objek belajar sebagai pengalaman nyata, mengamati secara langsung, memperoleh data-data secara akurat, dan dapat belajar secara mandiri ataupun berkelompok Lingkungan yang dapat dijadikan sebagai media pembelajaran dikategorikan menjadi tiga macam, yaitu lingkungan sosial, lingkungan alam, dan lingkungan buatan.

Lingkungan sosialsebagai sumber belajar berkenaan
dengan interaksi manusia dalam kehidupan bermasyarakat, seperti kegiatan organisasi sosial, adat istiadat, mata pencaharian, kebudayaan, pendidikan, kependudukan, struktur pemerintahan, agama, dan system nilai. Dalam praktik pembelajaran penggunaan lingkungan sosial sebagai
media dan sumber belajar hendaknya dimulai dari lingkungan yang paling
dekat, seperti keluarga, tetangga, rukun tetangga, rukun warga, kampung,
desa, kecamatan, dan seterusnya. Penggunaan lingkungan ini harus disesuaikan dengan kurikulum yang berlaku dan tingkat perkembangan peserta didik.

Lingkungan alammerupakan segala sesuatu yang sifatnya alamiah (natural) seperti keadaan geografis, iklim, suhu udara, musim, curah hujan, flora (tumbuhan), fauna (hewan), dan sumber daya alam (air, hutan, tanah, batu-batuan dan lainlain). Aspek-aspek lingkungan alam tersebut dapat dipelajari secara langsung oleh para peserta didik melalui cara-cara tertentu.

Dengan mempelajari lingkungan alam diharapkan para peserta didik dalam kegiatan pembelajaran dapat lebih memahami materi di sekolah serta dapat menumbuhkan cinta terhadap alam, kesadaran untuk menjaga dan memelihara kelestarian lingkungan, turut serta dalam menanggulangi kerusakan dan pencemaran lingkungan, serta tetap menjaga kelestarian kemampuan sumber daya alam bagi kehidupan manusia. Selain lingkungan sosial dan lingkungan alam yang sifatnya alami, ada juga lingkungan buatan, yaitu lingkungan yang sengaja dibuat oleh manusia dengan tujuan-tujuan tertentu yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Lingkungan buatan ini seperti taman sekolah, kebun binatang, taman kota, perkebunan, pertamanan, irigasi, bendungan, pembangkit tenaga listrik, dan sebagainya. Peserta didik dapat mempelajari lingkungan buatan dari berbagai aspek, seperti prosesnya, pemanfaatannya, fungsinya, pemeliharaannya, daya dukungnya.[5]


[1] M.Pd Sujarwo, ‘In Reply: BEHAVIOUR THERAPY’, The British Journal of Psychiatry, 112.483 (1966), 211–12 <https://doi.org/10.1192/bjp.112.483.211-a>.

[2] Sutra Wulandar, Muliani Azis, and Hamzah Hamzah, ‘Pengaruh Media Berbasis Lingkungan Terhadap Hasil Belajar Murid Kelas V SD Inpres Karunrung’, JKPD (Jurnal Kajian Pendidikan Dasar), 1.2 (2018), 106 <https://doi.org/10.26618/jkpd.v1i2.1074>.

[3] Wulandar, Azis, and Hamzah.

[4] Sujarwo.

[5] Hasan Baharun, ‘Pengembangan Media Pembelajaran Pai Berbasis Lingkungan Melalui Model ASSURE’, Cendekia: Journal of Education and Society, 14.2 (2016), 231 <https://doi.org/10.21154/cendekia.v14i2.610>.

Tags: