Pengertian muamalah

Pengertian muamalah dapat dilihat dari dua segi pertama dari segi bahasa dan kedua, dari segi istilah.  Menururt bahasa Muamalah  berasal dari kata

  عَامَلَ- يُعَامِلُ- مُعَامَلَةً sama dengan wazan : فَاَعَلَ- يُفَاعِلُ – مُفَاعَلَةً artinya saling bertindak, saling berbuat dan saling mengamalkan[1].

Menurut istilah, pengertian muamalah terbagi atas dua yaitu dalam arti sempit dana dalam arti luas, dalam arti luas muamalah berarti aturan-aturan (hukum) Allah untuk mengatur manusia dan kaitannya dengan urusan duniawi dalam pergaulan sosial. Dalam arti sempit muamalah adalah aturan-aturan Allah yang wajib ditaati yang mengatur hubungan manusai dengan manusia dalam kaitannya dengan tata cara memperoleh dan mengmbangkan harta benda[2]

Persamaan pengertian muamalah dalam arti sempit dan luas adalah sama-sama mengatur hubungan manusia dengan manusai dalam kaitan dengan pemutaran harta, sedangkan perbedaannya pengertian muamalah dalam arti luas mencakup masalah waris padahal masalah waris mempunyai disiplin ilmu tersendiri yaitu fiqh mawaris (tirkah).

Pembagian muamalah dan ruang lingkupnya

  1. Muamalah al-madiyah artinya aturan yang ditinjau dari segi objeknya dimana ruang lingkupnya adalah : masalah jual beli, gadai, jaminan dan tanggungan, pemindahan uang, jatuh bangkrut, batasan bertindak, perseroan dan perkongsian, perseoroan harta dan tenaga, sewa-menyewa, pemberian hak guna pakai, barang titipan, barang temuan, garapan tanah, sewa menyewa tanah, upah, gugatan, bunga bank, asuransi, kredit dll.
  2. Muamalah Adabiyah adalah aturan-aturan Allah yang wajib diikuti dari segi subjeknya dimana ruang lingkupnya adalah ijab dan qabul, saling meridhai, tidak ada keterpaksaan, hak dan kewajiban, kejujuran pedagang, penipuan, pemalsuan, dll

Ayat Al-Qur’an tentang muamalah

Allah SWT telah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 275, 276, 278 yang berbunyi :

ٱلَّذِينَ يَأۡكُلُونَ ٱلرِّبَوٰاْ لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ ٱلَّذِي يَتَخَبَّطُهُ ٱلشَّيۡطَٰنُ مِنَ ٱلۡمَسِّۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ قَالُوٓاْ إِنَّمَا ٱلۡبَيۡعُ مِثۡلُ ٱلرِّبَوٰاْۗ وَأَحَلَّ ٱللَّهُ ٱلۡبَيۡعَ وَحَرَّمَ ٱلرِّبَوٰاْۚ فَمَن جَآءَهُۥ مَوۡعِظَةٞ مِّن رَّبِّهِۦ فَٱنتَهَىٰ فَلَهُۥ مَا سَلَفَ وَأَمۡرُهُۥٓ إِلَى ٱللَّهِۖ وَمَنۡ عَادَ فَأُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِۖ هُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ ٢٧٥ يَمۡحَقُ ٱللَّهُ ٱلرِّبَوٰاْ وَيُرۡبِي ٱلصَّدَقَٰتِۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ ٢٧٦

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَذَرُواْ مَا بَقِيَ مِنَ ٱلرِّبَوٰٓاْ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ٢٧٨

Artinya:

Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya (QS. Al-Baqarah: 275)

Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa (QS. Al-Baqarah: 276)

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman(QS. Al-Baqarah: 278)


[1] Hendi Suhendi, Figh Muamalah (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2008), hlm. 1.

[2] Ibid, hlm. 2-3

Tags: