Pengertian Filsafat

Kata filsafat berasal dari bahasa yunani, dari kata philos artinya cinta dan sophia yang berarti pengetahuan atau hikmah. Jadi, secara harfiah flsafat berarti cinta terhadap ilmu pengetahuan.[1]

Menurut Harun Nasution (1983) yang dikutip oleh Maragustam (2014) mengatakan bahwa perkataan philosophia berasal dari bahasa yunani yang dipindahkan  oleh orang-orang arab kedalam bahasa mereka dengan disesuikan menurut kebiasaan susunan kata-kata arab, yaitu falsafah.

Adapun sebutan filsafat yang diucapkan dalam bahasa Indonesia itu kemungkinan besar merupakan gabungan dari kata arab falsafah dan bahasa inggris philosophy, yaitu di ambil phil dari bahasa inggris dan saffah dari bahasa Arab, jadilah perkataan filsafat. Lebih lanjut Harun Nasution mengatakan bahwa filsafat adalah berfikir menurut tata tertib (logika), dengan bebas (tidak terikat pada tradisi dogma serta agama) dan sedalam-dalamnya sehingga sampai kedasar-dasar persoalan[2]

Filsafat pada prinsipnya mengandung arti cinta akan hikmah, kearifan, kebijakan atau kebijaksanaan. Pengertian filsafat menurut istilah ialah sebagai ilmu yang berusaha memahami semua hal yang timbul didalam keseluruhan lingkup pengalaman manusia. Para filosuf islam telah berusaha untuk mendapatkan suatu sandaran bagi batasan bagi pengertian  “hikmah” itu baik dari Al-Qur’an dan Sunnah maupun dari kebudayaan Islam dalam QS Al-Baqarah ayat 269 disebutkan “barang siapa yang diberi hikmah maka ia telah diberi kebaikan yang banyak”. Sabdanya lagi: “Hikma itu merupakan benda yang hilang dari orang mukmin. Maka siapa yang menemui memungurnya dimanapun ia jumpai”[3]

Dorongan islam untuk berfikir filusufis, didalam ayat banyak ayat yang menyuruh agar mengetahui hakikat ilmiah filusufis, dengan metode penyajian dalilnya dengan cara mengimaninya. Antara lain dikemukakan:

  1. QS. Hud ayat 7

وَهُوَ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٖ وَكَانَ عَرۡشُهُۥ عَلَى ٱلۡمَآءِ لِيَبۡلُوَكُمۡ أَيُّكُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلٗاۗ وَلَئِن قُلۡتَ إِنَّكُم مَّبۡعُوثُونَ مِنۢ بَعۡدِ ٱلۡمَوۡتِ لَيَقُولَنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا سِحۡرٞ مُّبِينٞ ٧

Artinya:

Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah singgasana-Nya (sebelum itu) di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya, dan jika kamu berkata (kepada penduduk Mekah): “Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan sesudah mati”, niscaya orang-orang yang kafir itu akan berkata: “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata” (QS. Hud ayat 7)

  1. QS. Al-Imran ayat 190-191

إِنَّ فِي خَلۡقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱخۡتِلَٰفِ ٱلَّيۡلِ وَٱلنَّهَارِ لَأٓيَٰتٖ لِّأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ ١٩٠ ٱلَّذِينَ يَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَٰمٗا وَقُعُودٗا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمۡ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلۡقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ هَٰذَا بَٰطِلٗا سُبۡحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ ١٩١

Artinya:

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka (QS. Al-Imran ayat 190-191)

Berfilsafat dalam islam dianjurkan, sekalipun dalam batas-batas lingkup filsafat itu sendiri. Filsafat sangat penting bagi semua cabang ilmu pengtahuan dan kemajuan baik umat manusia maupun seluruh ilmu pengtahuan ditopang dengan kemajuan filsafat.

Secara ringkas dapat dikemukakan bahwa perbedaan antara ilmu kalam dan Filsafat adalah :

  1. Dalam ilmu kalam filsafat dijadikan sebagai alat untuk membenarkan ayat-ayat Al-Qur’an. Sedangkan dalam filsafat sebaliknya, ayat-ayat Al-qur’an dijadika bukti untuk membenarkan hasil-hasil filsafat.
  2. Pembahasan dalam ilmu kalam terbatas pada hal-hal tertentu saja. Masalah-masalah yang dimustahilkan Al-Qur’an mengathuinya tidak dibahas. Sedangkan dalam filsafat tidak terbatas. Masalah-masalah yang tidak dibahas oleh ilmu kalam tetap dibahas pleh filsafat[4]

[1] Yusran Asmuni, Ilmu Tauhid… Op.Cit, hlm. 25

[2] Maragustam, Filsafat Pendidikan Islam Menuju Pembentukan Karakter Menghadapi Arus Global, cet. Ke-1 (Yogyakarta: Kurnia Alam Semesta, 2014), hlm. 13

[3] Ibid, hlm. 14-15

[4] Yusran Asmuni, Ilmu Tauhid… Op.Cit, hlm. 27

Tags: