Manusia menurut Al-Qur’an

Menurut Al-Qur’an manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan, jadi manusia itu berasal dan datang dari Tuhan. Hakikat manusia menurut Al-Quran terdiri atas unsur jasmani, ruhani (akal dan hati) manusia dimana unsur ruhani merupakan core manusia.[1]

Al-Qur’an menggunakan empat term untuk menyebutkan manusia, yaitu Basyar, Al-Nas, Bani Adam dan Al-insan. keempat term tersebut mengandung arti yang berbeda-beda sesuai dengan konteks yang dimaksud dalam Al-Qur’an.

Pertama, term basyar diulang dalam Al-qur’an sebanyak 36 kali. Term Basyar digunakan dalam Al-Qur’an untuk menjelaskan bahwa manusia itu sebagai makhluk biologis sebagaimana contoh dalam QS Al-Baqarah ayat 187 tentang perintah bertkaf dibulan ramadhan dan jangan menggauli istrinya ketika dalam masa i’tikaf, dan juga dalam QS Ali-Imran ayat 47 tentang menjadikan maryam memiliki anak sementara tidak ada seorangpun yang menggaulinya.

Kedua, term Al-Nas di ulang dalam Al-Qur’an sebanyak 240 kali. Term Al-Nas di dalam Al-Qur’an untuk menjelaskan bahwa manusia itu sebagai makhluk sosial. Sebagai contoh sebagimana yang tertuang dalam QS. Al-Hujurat ayat 13 yang menjelaskan bahwa manusia itu diciptakan laki-laki dan perempuan, berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya saling kenal mengenal.

Ketiga, term Bani Adam di ulang dalam Al-Qur’an sebanyak 7 kali. Term Bani Adam digunakan dalam Al-Qur’an untuk menunjukkan bahwa manusia itu sebagai makhluk rasional, sebagai contoh dalam QS. Al-Isra ayat 70 yang menjelaskan tentang memuliakan manusia dan memberikan sarana dan prasarana baik di darat maupun di lautan.

Ke empat, term Al-insan di ulang dalam Al-Qur’an sebanyak 65 kali. Term Al-insan digunakan dalam Al-Qur’an untuk menjelaskan bahwa manusia itu sebagai makhluk spiritual sebagaimana yang tertuang dalam QS Al-Dzariatayat 56 yang menjelaskan tentang manusia dan jin diciptakan oleh Allah tidak lain hanya untuk meyembah kepadanya[2]

Sementara menurut Ahmad Janan Asifuddin mengatakan bahwa manusia yang terdiri dari fisik, psikis dan rohani serta di dalam jiwa manusia terdapat akal yang menyebabkan manusia berbeda dari binatang.[3]


[1] Ahmad Tafsir, Filsafat Pendidikan,… hlm. 19

[2] Abdul Qodir. Pendidikan Islam : Integratif-Monokotomik. (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media. 2011). Hlm. 54-55

[3] Ahmad Janan Asifuddin, Mengungkit Pilar-pilar Pendidikan Islam. Cet. Ke-2 (Yogyakarta: Suka Press UIN Sunan Kalijaga, 2010). Hlm. 14

Tags: