Berbagai Model Pengembangan Bahan Ajar

  • Whatsapp
Undangan Digital

Bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu pendidik dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Bahan ajar bisa dalam bentuk tertulis maupun bahan ajar yang tidak tertulis. Pengembangan bahan ajar menjadi sebuah kewajiban bagi pendidik guna menciptakan proses, pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran yang berkualitas. Berikut ini beberapa model pengembangan bahan ajar :

Rancangan Pengembangan Bahan Ajar Model Kemp

Bacaan Lainnya

Model pengembangan instruksional menurut Kemp (1977) terdiri dari delapam langkah:

  1. Langkah pertama: Menentukan tujuan umum (kurikulum1994 disebut TIU,kurikulum 2004 dan 2006 disebut dengan dalam kurikulum2013 disebut dengan kompetensi inti dan kompetensi dasar).Tujuan umum ini adalah tujuan yang ingin dicapai dalam memfasilitasi pada masing-masing pokok bahasan.
  2. Langkah kedua : membuat analisi tentang karakteristik peserta didik.Analisis ini diperlukan antara lain untuk mengetahui pakah latar belakang pendidikan,dan sosial budaya peserta didik memungkinkan untuk mengikuti program dan langkah-langkah apa yang perlu diambil.
  3. Langkah ketiga: Menentukan kompetensi dan indicator yang operasional dan terukur.Dengan demikian peserta didik akan tau apa yang harus dikerjakan,bagaimana mengerjakannya dan apa ukurannya bahwa dia telah berhasil.Dari segi pembelajar rumusan itu akan berguna dalam menyusun tes kemampuan atau keberhasilan,dan pemilihan materi yang sesuai.
  4. Langkah keempat: Menentukan materi/bahan pelajaran yang sesuai dengan indicator  
  5. Langkah kelima: Mnetapkan tes awal (pre-test) ini di perlukan untuk mengetahui sejauh mana peserta didik telah memenuhi prasyarat belajar yang dituntut untuk mengikuti program yang bersangkutan.Dan demikian pembelajar dapat memilih materi yang diperlukan tanpa harus menyajikan yang tidak perlu.
  6. Langkah keenam: Menentukan strategi belajar mengajar yang sesuai criteria umum untuk pemilihan strategi belajar mengajar yang sesuai dengan tujuan instruksional kekhusus tersebut adalah: (a) efisiensi, (b) efektifitas, (c) ekonomis dan (d) kepraktisan,melalui analisis alternative.
  7. Langkah ketujuh: Mengoordinasi sarana penunjangn yang diperlukan,meliputi biaya,fasilitas,peralatan,waktu dan tenaga.  
  8. Langkah kedelapan: Mengadakan evaluasi.Evaluasi ini sangat diperlukan untuk mengontrol dan mengkaji keberhasilan program secara keseluruhan,yaitu: pesera didik,program instruksional,instrument evaluasi atau tes,dan metode.
Baca Juga :  Manajemen Kurikulum dan Pembelajaran

Rancangan Pengembangan Bahan Ajar Model Gagne dan Briggs

Gagne & Briggs menyatakan bahwa pengembangan bahan ajar berorientasi pada rancangan sistem yang dilaksanakan oleh pengembang sehingga mengutamakan prinsip keselarasan antara tujuan yang akan dicapai, strategi untuk mencapai, dan evaluasi keberhasilan. Beberapa langkah dalam pengembangan bahan ajar menurut Gagne & Briggs yaitu:

  1. Analisis dan identifikasi kebutuhan,
  2.  Penetapan tujuan umum dan khusus,
  3. Identifikasi alternatif cara memenuhi kebutuhan,
  4. Merancang komponen dari sistem,
  5. Analisis (a) sumber-sumber yang diperlukan (b) sumber -sumber yang tersedia (c) kendala-kendala,
  6. Kegiatan untuk mengatasi kendala,
  7. Memilih atau mengembangkan materi pelajaran,
  8. Merancang prosedur penelitian murid,
  9. Uji coba lapangan : evaluasi formatif dan pendidikan guru,
  10. Penyesuaian, revisi dan evaluasi lanjut,
  11. Evaluasi sumatif, dan
  12. Pelaksanaan operasional.

Rancangan Pengembangan Bahan Ajar Model Borg dan Gall

Brog & Gall menyatakan bahwa pengembangan ajar merupakan usaha untuk mengembangkan dan memvalidasi produk-produk yang dipakai dalam penelitian. Beberapa langkah dalam mengembangkan bahan ajar menurut Brog & Gall adalah.

  1. Melakukan Penelitian dan Pengumpulan Informasi (Research and Information Collecting).
  2. Mengumpulkan sumber rujukan, melakukan pengamatan kelas serta mengidentifikasi permasalahan di lapangan.
  3. Melakukan Perencanaan (Planning)
  4. Mengidentifikasi dan mendefinisikan keterampilan, penetapan tujuan, penentuan urutan dan uji coba pada skala kecil.
  5. Mengembangkan Bentuk Awal Produk (Develop Preliminary Form of Product)
  6. Menyiapkan materi pembelajaran, menyusun buku pegangan, dan perangkat evaluasi.
  7. Melakukan Uji Lapangan Awal (Preliminary Field Testing). Melakukan uji coba tahap awal, dilakukan pada 1-3 sekolah menggunakan 6-12 subjek.
  8. Melakukan Revisi Produk Utama (Main Product Revision). Merevisi produk utama berdasarkan masukan dan saran dari hasil uji coba lapangan awal.
  9. Melakukan Uji Lapangan untuk Produk Utama (Main Field Testing). Melakukan uji coba lapangan utama, dilakukan terhadap 5-15 sekolah, dengan 30-300 subjek.
  10. Melakukan Revisi Produk Operasional (Operational Product Revision). Merevisi produk operasional berdasarkan saran dan masukan hasil uji coba lapangan utama.
  11. Melakukan Uji Lapangan terhadap Produk Final (Operational Field Testing). Melakukan uji coba lapangan operasional, dilakukan sampai 10-30 sekolah, melibatkan 40-200 subjek.
  12. Melakukan Revisi Produk Final (Final Product Revision). Merevisi produk final berdasarkan hasil uji lapangan sebagai upaya perbaikan dan penyempurnaan produk yang dikembangkan.
  13. Diseminasi dan Implementasi (Dissemination and Implementation). Penyampaian hasil pengembangan (proses, program, produk) kepada para pengguna yang professional melalui forum pertemuan atau menuliskan dalam jurnal atau dalam bentuk buku atau handbook.

Pos terkait